Catatan Biasa Orang Biasa [12] Ibu Ira dan Pramoedya

Bu Ira tidak sempat membawa buku Hang Tuah ke depan kelas kami. Saya juga tidak sempat menemuinya lagi, hingga akhirnya pada suatu waktu sampai kabar duka: Bu Ira meninggal dunia.

Jumat, 16 Oktober 2020 | 13:35 WIB
0
50
Catatan Biasa Orang Biasa [12] Ibu Ira dan Pramoedya
Kios buku (Foto: Kompas.com)

Kegemaran membaca saya menemukan kanal yang lebih luas ketika menjadi siswa SMPN 2 Tasikmalaya. Perpustakaan Daerah Pemkab Tasikmalaya lokasinya tidak jauh dari sekolah saya. Sebelumya perpustakaan tersebut berlokasi di dekat Pasar Mambo, kemudian pindah ke Jln. Oto Iskandar di Nata, dekat kantor Dinas Pekerjaan Umum.

Hanya beberapa ratus meter ke erah barat dari SMPN 2. Agak ke kanan dari perpustakaan itu, terdapat rumah dinas Sekda Kab, Tasikmalaya Adang Roosman. Beberapa kali saya pernah ke rumah itu, diajak putra sulungnya, Noves Narayana, teman sekelas.

Saya pun mendaftar jadi anggota perpustakaan dan boleh meminjam buku untuk beberapa hari. Di rak buku komik, bertemu kembali dengan komik wayang karya RA Kosasih yang sempat dikhatamkan saat SD. Buku-buku tersebut makin kumal saja. Mungkin karena banyak yang membacanya. Barangkali juga tidak ada ada anggaran yang cukup untuk pengadaan buku baru.

Buku-buku sastra dan sejarah adalah bacaan yang saya gemari. Kumpulan puisi WS Rendra “Blues untuk Bonnie” dan Taufik Ismail “Tirani dan Benteng” membuka cakrawala saya tentang kuatnya pesona kata-kata. Maka saya pun belajar menulis puisi, corat-coret. Tapi untuk dinikmati sendiri. Sahabat saya Budhi Suhastian pernah menyalin kumpula puisi itu dengan mesin tiknya.

“Tenggelamnja Kapal van der Wijck” yang ditulis Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) atau “Masa Bergolak” karya MA Salmun adalah dua novel pertama yang saya pinjam. HAMKA yang juga ulama besar itu, menulis cerita dengan mendayu-dayu dan seringkali “membunuh” tokoh penting dalam bukunya. MA Salmun juga banyak menulis karyanya dalam bahasa Sunda.

Di perpustakaan itu untuk pertama kalinya saya bertemu dengan karya Pramoedya Ananta Toer “Cerita dari Blora”. Ini adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis Pram dalam masa revolusi 1945-1949, sewaktu dia mendekam dan keluar dari penjara Bukit Duri, Jakarta. Saya menemukan hal-hal baru baik seputar diksi maupun gaya bertutur. Sayang sekali, buku-buku Pram masih sulit ditemukan di kota saya saat itu.

Kios-kios komik dan buku cerita pada masa itu masih cukup banyak dan menjadi mata pencaharian. Salah satunya kios buku “Paramuda” di Jalan Dokter Sukarjo seberang bioskop Garuda, sebelah utara Masjid Agung. Komik silat apa saja ada di sini, juga cerita silat karya Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo yang terkenal itu. Buku cerita ini ukurannya lebih kecil dan tipis dibanding buku komik. Sekali baca serialnya, sulit untuk berhenti karena penasaran.

Di alun-alun depan sekolah saya, ada pedagang makanan ringan yang sekaligus menyewakan komik bertema agama Islam. Dia menggelar buku dan dagangannya di atas plastik.

Untuk menarik perhatian calon konsumennya, pria setengah baya itu bercerita tentang isi komiknya dengan mempesona. Nada bicaranya berirama sesuai cerita yang dikisahkannya. Makannnya dibeli dan bukunya disewa, adalah target ideal yang ingin dicapai lelaki tersebut.

Guru yang lincah

Tentang kesukaan pada dunia sastra, maka saya harus berterimakasih pada salah seorang guru saya di SMPN 2: Ibu Irawati yang akrab disapa Bu Ira. Ketika itu Bu Ira sudah termasuk guru yang senior. Penampilan guru mata pelajaran basaha Indonesia ini khas dengan rambut dikepang dan kacamata minus yang agak tebal. Tubuhnya tidaklah langsing.

Setiap berdiri di depan kelas dengan fasih menguliti rentang perjalanan sastra Indonesia dari A-Z. Sosok Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi –seorang pengelana dari Indonesia yang rajin menulis- diperkenalkan dengan baik pada murid-muridnya. Sejarah hidup dan karya-karyanya diapresiasi.

Begitu menawannya ketika Bu Ira bercerita tentang hikayat Melayu lama, Hang Tuah. Kami diakrabkan dengan tokoh-tokoh seperti Hang Jebat, Hang Lekir ataupun Hang Nadim. Konflik diantara mereka digambarkan sedemikian rupa. "Bukunya nanti Ibu bawa ke sini ya. Setebal ini, anak-anak," ujarnya sambil mendekatkan ibu jari dan telunjuk membentuk hurup U yang terbaring.

Demikian pula ketika berbicara tentang tokoh-tokoh sastra masa Pujangga Lama, Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan 66. Tidak hanya membicarakan karyanya, Bu Ira juga menerangkan sikap politik mereka, terutama sastrawan yang berkarya pada masa-masa menjelang 1965. Bu Ira memetakannya dengan rinci.

Para pendekar sastra seperti bermunculan di ruang kelas itu. Silih berganti seuai zaman mereka. Ketika mengungkap sosok Pramoedya Ananta Toer, Bu Ira tidak melihatnya dari kacamata politik. Seperti diketahui, Pram digolongkan sebagai seniman Lembaga Kebudayan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI.

Bu Ira adalah "pendongeng" yang piawai. Materi pelajaran disampaikannya tanpa melihat buku. Semuanya sudah di luar kepala. Beliau seperti pemain teater yang tahu betul cara memanfaatkan panggung dengan maksimal. Aktivitasnya di depan kelas sungguh enerjik, melampaui usianya yang ketika itu sudah mendekati masa pensiun. Sejauh ini, saya belum menemukan guru bahasa Indonesia sebagus Bu Ira.

Bagi saya pribadi, setiap kehadiran Bu Ira di kelas menghilangkan jenuh dan kantuk. Rasanya saya ingin segera membaca buku-buku yang diceritakannya. Bu Ira telah mempertebal ketertarikan saya pada dunia sastra. Memperkenalkan pada kekayaan bahasa. Walaupun saya tidak tumbuh menjadi sastrawan, setidaknya menjadi seorang yang gemar membaca.

Sayang sekali, hingga saya meninggalkan sekolah itu pada "musim" Gunung Galunggung meletus, Bu Ira tidak sempat membawa buku Hang Tuah ke depan kelas kami. Saya juga tidak sempat menemuinya lagi, hingga akhirnya pada suatu waktu sampai kabar duka: Bu Ira meninggal dunia. Terima kasih Bu Ira. Alfatihah.

***

Tulisan sebelumnya: Catatan Biasa Orang Biasa [11] Jadi “Pemred” Buletin Prima