Pak Is

Saya belum menemukan Rektor ITB sekaliber Pak Is. Saya merasa ITB kini menjadi menara gading. Tentu ini penilaian subyektif. Orang lain boleh punya pendapat berbeda.

Senin, 29 Juni 2020 | 20:18 WIB
0
37
Pak Is
Iskandar Alisjahbana (Foto: Dok. pribadi)

Setiap kampus punya era keemasan sendiri. Dan era itu banyak ditentukan oleh karakter dan ketokohan Sang Rektor. Universitas Gadjah Mada, misalnya, moncer dibawah kepemimpinan Pak Koesnadi Hardjasumantri. Institut Pertanian Bogor meroket berkat peran Pak Andi Hakim Nasution.

Bagaimana dengan Institut Teknologi Bandung, yang lagi hot di medsos terkait posisi MWA Pak Din Syamsuddin? Saya menilai Institut Teknologi Bandung beruntung sempat dipimpin Pak Iskandar Alisjahbana. Dia Rektor paling demokratis yang pernah dimiliki Kampus Ganesha.

Profesor Iskandar Alisjahbana, akrab disapa 'Pak Is', adalah putra sastrawan dan pemikir legendaris Sutan Takdir Alisjahbana. Dia pakar satelit di awal kita punya Satelit Palapa. Pak Is Rektor ITB dengan periode tersingkat, 1976 - 1978. Pemerintah mencopot Pak Is dari kursi rektor pada 14 Februari 1978.

Tak cuma itu, rumah dinasnya sempat diberondong tembakan. Dia dan anak-anaknya nyaris terkena peluru tajam. Tapi Tuhan masih melindunginya.

Mendapat serangan bersenjata, Pak Is tak gentar. Dia mendatangi ruang Panglima Kodam Siliwangi, Mayjen TNI Himawan Soetanto, di Jalan Aceh, Bandung. Pak Is langsung berkacak pinggang di depan Panglima Siliwangi, "Waarom hebben jullie mijn huis beschoten?" - Mengapa kalian menembaki rumah saya? [Panglima membantah penembakan itu atas perintahnya].

Mengapa Pemerintah begitu marah dengan Pak Is? Rejim Orde Baru meradang karena Rektor ITB tak menindak para mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi. Tokoh aksi ketika itu, antara lain: Rizal Ramli, Yusman Syafii Djamal, Heri Akhmadi dll. Alih-alih menskorsing para demonstran, Pak Is malah membaur dan ikut aksi demonstrasi. Saat itu, Rejim Orde Baru di puncak kekuatan, keberanian Pak Is sungguh hebat. Dia tak ternina-bobokan dengan kursi empuk Rektor ITB.

Suatu ketika saya bertanya pada Pak Is soal pencopotannya. "Orang bisa mencopot jabatan kita kapan saja. Tapi tak ada yang bisa memberangus karakter kita," ujarnya. Saya mencatat dalam hati petuah Pak Is itu.

Dan setelahnya, saya belum menemukan Rektor ITB sekaliber Pak Is. Saya merasa ITB kini menjadi menara gading. Tentu ini penilaian subyektif. Orang lain boleh punya pendapat berbeda.

Foto di atas: saya mengantar Pak Is pulang ke rumahnya di Bandung dengan mobil pinjaman. Saya masih gondrong. Kalau tak salah tahun 1993, atau 1994. Poho (lupa) euyyy. Kami sempatkan foto berdua di halaman rumah Pak Is yang asri. Kini beliau telah tiada, semoga mendapat tempat terbaik.

***