Marco, Kesombongan Orang-orangan Jakarta

Mereka itu baru bisa merasa jadi orang, walaupun sebenarnya masih sekedar orang-orangan. Mereka lupa darimana mereka sebenarnya juga berasal.

Jumat, 2 Agustus 2019 | 17:47 WIB
0
1722
Marco, Kesombongan Orang-orangan Jakarta
Marco Kusumawijaya (Foto: Merdeka.com)

Sebagaimana perilaku mobil plat B di banyak daerah. Sebagaimana juga perilaku gaya bicara lu-gue, dan kemudian bahkan mendaku "aku" sebagai aku, bukan saya yang lebih mencirikan sifat kerendahan hati orang Timur.

Bahkan kepada orang tua yang jauh-jauh lebih layak kita harus memposisikan diri sebagai golongan yang lebih muda, di mana sepatutunya kita tahu dimana kita harusnya berdiri dan berbicara. Tetaplah mereka membahasakan diri sebagai aku, lengkap dengan intonasi ketinggian hatinya.

Demikian sopan santun "gaya baru" yang diviruskan oleh orang-orang yang merasa dirinya sebagai Jakarta, seorang metropis, kosmopolitan tapi nir-tatakrama. Sialnya, orang daerah yang cenderung direndahkan justru selalu merasa demikianlah seharusnya hidup di hari dijalankan, lalu ditiru dan dicontek habis.

Jauh-jauh hari sebelum, warga negara Indonesia semakin terasa homogen dan mencurigai heterogenitas sebagai sesuatu yang dianggap bid'ah, atau kafir atau bahkan murtad. Yang dalam kata kerja menjadi lebih serasa keji, karena di dalamnya terkadung prejudice yang keji sebagai pembid'ahan, pengkafiran, atau yang lagi trend pemurtadan.

Demikianlah cara Jakarta memposisikan diri sebagai yang lebih tinggi, lebih terpelajar, lebih makmur, lebih berkuasa, lebih melek teknologi. Pokoknya masyarakat yang serba lebih.

Benarkah demikian realitasnya?

Sial betul!

Marco Kusumawijaya ketika dirinya masih "waras" menulis buku saku berjudul "Jakarta: Metrolois Yang Tunggang Langgang". Pointnya adalah Jakarta adalah kota yang tidak layak sebagai kota untuk tempat tinggal. Bagaimana di balik gedung-gedung megah yang menjulang tinggi, jalan-jalan protokol yang luas bertaman artficial, dengan mobil-mobil mewah hilir mudik.

Baca Juga: Keajaiban Bernama Anies

Di dalamnya terselip kampung-kampung kumuh yang nyaris mustahil ditata, kecuali hanya untuk digusur oleh bangunan yang lebih baru. Bagaimana di tengah pembangunan jalan tol yang nyaris tanpa putus, terselip gang-gang sempit yang becek, bau, tempat perebutan lahan hidup antara tikus dan manusia.

Konon wisata paling menarik bagi turis mancanegara justru wajah kumuh kota Jakarta. Mereka rela menyusuri sepanjang rel kereta api di sisi Timur Stasiun Senen yang menjadi ajang perebutan lahan antara pedagang. Eksotisme dalam bentuk yang lain, seeksotis kali-kali yang berwarna hitam pekat, dengan lumpur tempat hidup ikan sapu-sapu yang tragisnya juga menjadi incaran para pemancing yang tak tahu lagi di mana harus menyalurkan waktu luangnya.

Jakarta adalah kota di mana warganya harus selalu berlari, selama 12 jam selama sehari ke tengah kota untuk menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Lalu pergi ke pinggiran kota, ke satelit di rumah mungil masing-masing. Hari-hari yang harus dijalani di jalan berdebu dan berkebul asap knalpot. Sampai bernafas pun menjadi sulit. Karena sulit mencari taman penghasil oksigen. Hijau menjadi mahal, karena lahan hijau dimanipulasi supaya bisa dijual.

Demikian, Marco menggambarkan kotanya sendiri. Tentu sebuah kegelisahan seorang arsitek atau pengamat perkotaan, sebelum ia menjadi seorang "politikus" (baca: sebagai bagian dari poli-tikus). Ia menjadi seorang penyinyir sejati baik kepada Jokowi maupun Ahok!

Agak aneh bila mengingat ia seorang minoritas yang semestinya, justru berkesempatan ikut berbuat banyak di bawah figur-figur dengan watak pluralisme dan niat tulus yang baik. Tapi nyatanya tidak!

Ia memilih menjadi bagian dari pendukung AB yang reputasi terbesarnya adalah menari kambing hitam dan hobi menyalahkan orang lain. Sampai di sini klop!

Jadi tidak aneh, bila kemudian ia dipilih menjadi salah satu Ketua Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP). Ini tentu semacam lembaga say thank you, yang dibentuk penguasa untuk memberi pekerjaan dan jasa baik bagi para pendukung setianya. Menjelaskan kenapa terdapat banyak sekali dana siluman tak jelas di DKI Jakarta. Dana-dana yang jumlahnya fantastis, tapi nyaris nol prestasi dan perkembangannya.

Khusus Marco, ia menjadi Ketua TGUPP khusus Masalah Pesisiran, yang artinya ia tentu saja berperan besar bagi kelanjutan pembangunan reklamasi yang dulu jadi isu kampanye untuk dihentikan. Dan abrakadabara, dua tahun kemudian ternyata malah sudah terbit IMB-nya.

Bagi saya, hal ini sangat logis dan make sense, menjelaskan sekali kenapa sejak awal ia menentang Jokowi dan Ahok. Ia tak lebih perpanjangan tangan kelompok pengembang besar yang berada di balik reklamasi Teluk Jakarta. Tentu ongkos membiayai penjatuhan Ahok dengan antara lain memelihara orang-orang seperti Anis dan Marco ini jauh lebih murah. Dibanding memenuhi tuntutan dari Ahok...

Baca Juga: Tri Rismaharini, Kader Perempuan PDIP yang Sarat dengan Prestasi

Bagi saya, luar biasa aneh kenapa jadi tiba-tiba Bu Risma (saya menyebut dan menuliskannya tentu dengan rasa hormat tinggi) jadi yang salah. Justru ketika ia didatangi dan dimintai tolong. Ketika ia bersedia membantu malah dilecehkan sedemikian rupa.

Begitulah watak dan wajah intelektualisme bayaran di hari kiwari. Figur yang tampak secara filmis, eye catching, tapi mulutnya bau sekali. Cara menulisnya kasar sekali. Ia tak beda dengan Rocky Gerung, cuma aktor-aktor bayaran. Mereka selalu butuh isue, selalu butuh musuh, selalu butuh kambing hitam....

Merendahkan Risma, sebagaimana dulu mereka merendahkan Jokowi, dan juga Ahok. Adalah wajah kesombongan "Orang-orangan Jakarta" hari ini.

Mereka itu baru bisa merasa jadi orang, walaupun sebenarnya masih sekedar orang-orangan. Mereka lupa darimana mereka sebenarnya juga berasal.

Mereka hanya tahu bahwa hari ini merekalah yang sedang berkuasa, berjaya, dan paling berani bersuara.

***