Pak Swan dari Buku ke Buku

Terimakasih Pak Swan, Si Kakek, yang baik hati, dan sudi menuliskan tuturannya untuk generasi kini. Kepulan asap rokokmu juga dahsyat!

Senin, 12 Agustus 2019 | 20:27 WIB
0
39
Pak Swan dari Buku ke Buku
Dua buku karya Swantara (Foto: Dok. pribadi)

Pollycarpus Swantoro, sohib Jakob Oetama, duet maut yang mengarahkan Kompas, wafat Minggu kemarin (11/8/2019) dalam usia 87 tahun.

Pak Swan, demikian saya menyapanya ketika acap bertemu di Yogya, karena beliau mendirikan LSJ (Lembaga Studi Jawa) di desa Tembi, Bantul, seorang yang mempesona. Cendekia tapi rendah hati.

Kekaguman padanya diawali dari buku karyanya, "Dari Buku Ke Buku; Sambung Menyambung Menjadi Satu" (2002), sebuah cerita petualangan yang sangat imajinatif bagi saya, yang lama ingin saya punya, tapi buku itu masuk kategori langka.

Barulah 16 tahun kemudian, akhirnya bisa saya dapatkan dengan cara ajaib. Justeru buku tersebut diberi langsung oleh Pak Swan, plus mendapat bonus buku "Masa Lalu Selalu Aktual", yang keduanya diberi tanda-tangan penulisnya langsung. Duh, bahagianya!

Baca Juga: "Dari Buku ke Buku", Selamat Jalan Pak Swantoro...

Yang mempesona dari Pak Swan, ia sejarawan, mantan guru dan wartawan (saya kok lebih sreg menyebutnya wartawan daripada jurnalis, istilah yang mewabah kini). Perpaduan tiga hal itu, membuat tulisan Pak Swan jadi keren. Seorang yang detail akan data. Sebagaimana kesan Jakob Oetama dalam pengantarnya; tulisan Pak Swan renyah, mudah diikuti, dengan kadar story telling yang pepal.

Dari Buku Ke Buku bukan resensi, juga bukan kutap-kutip isi buku, tetapi lebih jauh bagaimana Pak Swan mengajak pembaca menjadi pengelana masa lalu, pengelana waktu, dan pengelana sejarah itu sendiri, untuk mempertautkan dengan masa kini. Itulah kenapa, sejarah selalu aktual. Dan Pak Swan, sebagimana pengakuannya, lebih suka menyebut diri sebagai ‘Si Kakek’, yang menceritakan kepada para cucu.

Gaya bertuturnya, sebagaimana pengakuan Si Kakek, ialah bertutur kepada cucunya yang diajak berjalan-jalan di taman bunga. Satu sama lain bisa jadi tak berhubungan, namun ia menjadi bunga rampai yang kaya. Sebuah puspa ragam yang memanjakan memori.

Begitu dahsyatnya buku-buku hadir dalam kehidupan kita. Betapa menulis buku bukanlah kerja sembarang, sekedar copy-paste tulisan di internet, hanya sekedar memburu sensasi dan duit belaka.

Buku Pak Swan seperti sebuah catatan etnografis yang begitu personal, pengalaman empiriknya berhubungan dengan buku-buku. Penulis juga dengan baik menuliskan side-story dari apa pembacaannya mengenai buku, meski ia mencoba untuk setia hanya pada teks buku-buku, dan tidak meliarkannya dengan mengundang ingatan yang menyertai di luar buku. Ia berbeda gaya GM dengan 'Catatan Pinggir'-nya.

Pak Swan seorang kolektor buku, dan karena itu juga seorang pemburu buku. Ribuan buku koleksinya, sebagiannya adalah kisah tentang perburuan buku, bahkan di lapak-lapak yang tak pernah dikenali umum. Percakapannya dengan buku-bukunya, menjadikan tulisan Pak Swan mengayakan perspektif kita mengenai masa lalu. Dan karena itu, masa lalu memang selalu aktual.

Terimakasih Pak Swan, Si Kakek, yang baik hati, dan sudi menuliskan tuturannya untuk generasi kini. Kepulan asap rokokmu juga dahsyat!

***