Freddie dan Mary, Cinta di Antara Penyimpangan Seks dan HIV

Rabu, 28 November 2018 | 19:14 WIB
0
169
Freddie dan Mary, Cinta di Antara Penyimpangan Seks dan HIV
Freddie dan Mary (Foto: Facebook/Andi Setiono)

Nama aslinya adalah Farrokh Bulsara. Farrokh bermakna 'bahagia' atau 'indah'. Sedangkan Bulsara itu adalah nama sebuah kota kecil dekat Mumbai, India. Kota yang ironis, karena disinilah para penganut Zoroaster terakhir bisa tetap hidup secara damai. Freddie Mercury (FM) adalah nama panggungnya!

Ia orang Persia, tapi lahir di Zanzibar (Africa), tapi menghabiskan masa remaja di India. Ia sebagaimana ayahnya adalah penganut Zoroastrian, sebuah agama filosofis kuno yang diajarkan seorang Nabi yang bernama Zara Zarathustra yang hidup sekitar tahun 1100-550 SM. Agama Zoroaster adalah agama Persia kuno yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Agama ini bisa dibilang sebagai salah satu kepercayaan monoteis tertua di dunia yang masih eksis hingga saat ini.

Dilihat dari sejarahnya, Zoroaster adalah agama negara dari tiga dinasti Persia dan bertahan sampai penaklukan Muslim Persia di abad ke-7 M. Di tengah munculnya kekuatan Islam, para pemeluk Zoroaster melarikan diri dari Iran dengan beremigrasi ke India.

Fakta inilah yang sering diabaikan oleh publik, apabila yang nonton Bohemian Rhapsody hanya karena ada kata "Bismilah" di dalamnya, yang menyeret "fitnah" bahwa FM adalah seorang Muslim.

Zoroaster dikenal sebagai agama yang sangat sederhana dan toleran. Karena itupun konsep surga menurut ajaran Zoroaster sangatlah sederhana. Surga adalah seperti tempat reuni bagi keluarga juga, sangat besar dan di dalamnya laksana kehidupan dunia yang ideal. Kehidupan di surga adalah penyempurnaan alami dari pada kehidupan di dunia.

Dalam konteks inilah, bisa sangat dipahami kenapa FM juga sangatlah toleran dan terbuka kepada setiap semua agama dan pilihan.

Lalu darimana pengaruh (penyimpangan) orientasi seksual FM?

Ia menghabiskan tahun-tahun pertama sekolah di Zanzibar Missionary School, di mana dia diajar oleh para biarawati. Meski ia seorang Zoroastrian, sekolah itu menyambut semua agama untuk belajar. Masalahnya Zanzibar sekalipun Islam merupakan agama dominan di sana, namun pada umumnya mereka bersikap toleran terhadap biseksualitas. Hal ini baru berhenti saat seks sesama jenis baru dianggap ilegal sejak tahun 2004.

FM selama ini dianggap sebagai orang yang menyembunyikan identitas dan orientasi seksualitasnya itu, ia berhubungan cukup lama dengan Mary Austin. Sedemikian cinta pada dirinya, lagu paling melodius tentang cinta: Love of My Life juga dibuatnya untuk Mary. Sekalipun demikian, hal tersebut tidak membuatnya berhenti untuk beberapa kali selingkuh dengan sesama jenis.

Dan bahkan ia harus menderita HIV yang ia peroleh peroleh dari "suami" Jerman-nya yang bernama Jim Hutton. Seorang penata rambut, yang tinggal bersama Mercury selama enam tahun terakhir hidupnya, merawatnya selama sakit, dan hadir di samping tempat tidurnya ketika ia meninggal.

Hutton berkata bahwa Mercury meninggal dengan mengenakan sebuah cincin kawin yang Hutton telah berikan. Namun dalam surat wasiatnya, FM meninggalkan rumahnya di London ke Austin , daripada kepada pasangannya, Jim Hutton, mengatakan, "Kamu akan menjadi istri saya dan itu akan menjadi milikmu juga".

Di sinilah barangkali, saya bisa mengerti adanya kesejatian seorang FM: Saya bisa memaafkan FM sebagai seorang manusia, tetap mau mendengarkan semua karya musikya sebagai bagian dari "ibadah dan kenikmatan" hidup. Saya mengagumi justru pada ketidaksempurnaannya...

Dalam film Bohemian Rhapsody, yang belakangan saya baru tahu disupervisori langsung oleh Brian May dan Roger Taylor serta dipersiapakan selama 10 tahun itu. Digambarkan betapa keempat personel Queen memiliki karakter yang sangat berbeda dan saling keras kepala. Di sinilah mungkin peran penting FM sebagai "jembatan", ia berperan sebagai ibu sekaligus ayah.

Film ini berhasil menunjukan sosok Freddie yang santai, flamboyan, super diva, namun di saat yang sama tetap maskulin dan terlihat gagah. Dalam film ini terlihat bagaimana proses pergulatan, tantangan, eksperimen, integritas dan kesederhanaan mereka menggubah lagu. Pun bagaimana mereka membuat keputusan-keputusan sulit yang ditunjukkan dalam scene ketika konser Live Aid, 13 Juli 1985 saat Queen sempat ragu untuk ambil bagian.

Namun Freddie mengatakan bahwa: ”Ketika kita bangun dari tidur keesokan hari setelah konser, kita akan menyesal sampai mati kalau kita tidak ikut terlibat di dalamnya.” Mereka tetap naik panggung, setelah mengetahui bahwa Sang Vokalis mengidap penyakit yang saat itu tak ada obatnya. Ia tetap berani menunjukkan kepedulian, justru di saat-saat terburuk dalam hidupnya.

Saya hanya bisa terngungun, memahami kenapa nama grup ini berubah dari Smile menjadi Queen. Dari tersenyum menjadi Ratu!

FM adalah sebagaimana seorang ratu, selalu menyimpan misteri dan kontroversi, tapi pada akhirnya ia adalah seorang yang jujur, humanis, dan berintegritas. Tanggal 22 November 1991, ia didampingi manajernya mengakui bahwa ia telah mengidap HIV-AID, hal apa yang selama ini dituduhkan pers telah disembunyikannya. Ia menyesalinya dan mengajak publik seluruh dunia ikut memeranginya. Dua hari kemudian ia meninggal dunia.Tanggal 27 November ia dimakamkan secara Zoroaster...

Sejak semula, saya tidak tertarik membuat ulasan film Bohemian Rhapsody. Sebagai penggemar sejati Queen, menontonnya hanya membuat "terluka", semacam terkena azab "cantik itu luka". Rasanya mendengar, membaca riwayatnya dan mengkoleksi berbagai memorabilianya jauh terasa lebih in depth.

Tapi saya suka dengan pilihan seorang sahabat (sangat) dekat saya merayakan menonton-nya dengan seorang pengidap HIV. Sebagai sebuah penghormatan, karena ia tidak memberikan cintanya, walau ia telah ditaksir sejak masa SMA. Romantis, simpatik dan so sweet...

Bagi saya film ini, hanya semacam Iqra, cara belajar dan mengeja huruf paling awal membaca kitab suci. Bohemian Rhapsody adalah (hanya) satu dari sekitar 180-an lagu original yang terangkum dalam 15 buah album studio. Ia hanya kitab pembuka saja, ia sangat permukaan sekali....

Saya lebih suka mengenang cinta sejati Freddie Mercury dan Mary Austin. Ironis dan indah, mereka tetap berteman di dalam berbagai keadaan....

***