Digertak P. Swantoro

Selamat Jalan, Pak Polycarpus Swantoro. Boss yang membuat jalan hidupku lebih indah dari yang ku bayangkan. Tugasmu di dunia sudah selesai, semoga beristirahat damai di kehidupan kekal…

Minggu, 11 Agustus 2019 | 12:55 WIB
0
610
Digertak P. Swantoro
P. Swantoro (Foto: Tribunnews.com)

Sehari-hari ketika masih sama-sama beliau di Redaksi Kompas di Palmerah Selatan tahun 1970-1980-an, kami biasa menyebutnya (PS). Kepanjangannya Polycarpus Swantoro. Kalau Pak Jakob Oetama Pemimpin Redaksi kami ya (JO). Dan memang sehari-hari kami lebih dikenal di kalangan redaksi maupun pembaca Kompas, dengan panggilan inisial kami masing-masing.

(PS) dan (JO) boss-boss kami ini memang memiliki karakter berbeda. Yang satu, (JO) lebih cool. Kalau (PS) berapi-api, kalau tak boleh dikatakan sebagai “pemberang”. Pak (JO) biasa menegur pakai basa-basi. Dijunjung kami, kemudian dikritik. Kalau (PS)? Marah ya marah. Ngga pakai basa-basi. Kalimat yang meluncur, selalu “You itu…..,” dan seterusnya.

Setiap orang di antara kami di Redaksi hampir semua mengalami, kena “donder” (PS) dengan lontaran kata “You itu….,”  Dan kami semua memaklumi, meski terkesan keras dan ketus, kata-kata teguran (PS) adalah teguran jujur. Dan umumnya yang dikatakannya dalam kemarahannya kepada kami, itu kata-kata apa adanya. Tidak pakai dibalut atau diperhalus.

Tak terhitung, saya pernah mendapat teguran “You itu…" Tetapi, juga tidak sedikit, saya diam-diam diberi perhatian. Seperti suatu ketika di tahun 70-an meliput keramaian di Jalan Thamrin, yang penuh sesak dengan orang. Ketika saya berskuter, mencangklong tas, berkendara di kemacetan kerumunan orang kacamata saya dijambret orang. Dunia menjadi kabur, dan hampir tak bisa melihat ekspresi orang. Lantaran kacamata saya tidak hanya minus dan plus, akan tetapi juga silindris. Kacamata saya diganti secara pribadi oleh (PS) sebagai Redaktur Pelaksana Kompas waktu itu.

Suatu ketika (ini rahasia pribadi, sebenarnya), ketika Kompas masih punya kebiasaan “bonus jawilan” (yang diberi bonus khusus hanya orang-orang yang dijawil) di tahun 70-an, saya sempat terlewat. Ngga dapet bonus. Selidik punya selidik, ternyata bonus itu sudah diberikan kepada “the rising star” reporter yang relatif baru yang kebetulan nama belakangnya persis nama saya. Baik boss yang memberikan bonus itu, maupun yang diberi bonus, keduanya sudah mendahului kami menghadap yang kuasa.

Bonus Jawilan biasa diberikan bulan Januari, Februari. Lha, ini sampai Maret kok saya nggak dijawil-jawil? Padahal, rencana sudah tersusun, jika nanti dapet Bonus Jawilan, bakal beli ini dan itu. Eh, nggak datang juga jawilannya.

Baca Juga: "Dari Buku ke Buku", Selamat Jalan Pak Swantoro...

Dasar wartawan, nggak kurang akal. Pura-pura mengajukan pinjaman ke seorang pemimpin perusahaan –kini juga sudah menghadap yang kuasa– untuk suatu keperluan. Ditegur sama boss perusahaan ini: “Gimana sih, Jimmy, baru dapet bonus kok sudah mengajukan pinjaman?”  Aku jawab, bonus apa? Si boss bilang, kan baru saja dapet yang biasa itu? Aku bilang biasa macem apa? Aku nggak dapet tuh….

Rupanya kejadian yang menimpaku itu dilaporkan si boss ke (PS). Ditanya sama (PS): “You aku dengar nggak dapet yah? Ya sudah, ini bonusnya,” kata (PS). Dengan segera, (PS) menandatangani selembar cek, yang bertanda bank berbeda dengan bank yang biasa untuk Bonus Jawilan. Saya tidak tahu lebih lanjut, apakah “bonus” ini dari perusahaan, atau dari kantung pribadi (PS). Yang pasti, memang jumlahnya tidak sebesar yang kami perkirakan. Tetapi ya sudahlah. Lumayan, nggak jadi pinjam duit di perusahaan.

Belakangan kami tahu, Bonus Jawilanku itu diterima oleh seseorang yang relatif baru, yang memang tengah naik daun. Nama belakang kami, kebetulan sama. Nah, teman kami ini pernah juga suatu ketika menyerahkan surat pemberitahuan yang katanya: “Ini bukan slip gajiku, tetapi gajimu,” Kata teman, yang kebetulan anak buah saya di Desk Olahraga Kompas.

Aku editornya. Rupanya, pemberitahuan dari perusahaan itu berisi: “Karena masa jabatan Anda sudah x tahun, maka Anda mendapat kenaikan gaji pokok berkala sebesar x Rupiah…,”  Asemik, gajiku ketahuan anak buahku!

Rupanya, anak buahku itu anak jujur. Gara-gara salah buka slip gaji, teman yang sama nama denganku ini mengabarkan ke mana-mana, kalau ternyata “Bossku (Jimmy) ternyata gajinya cuma terpaut sekian rupiah denganku..,” kata anak buahku yang rupanya gajinya sudah cukup besar ini.

Rupanya kesalahan buka amplop gajiku  ini malah menjadi “blessing in disguise” bagi saya. Kecelakaan yang membawa berkah. Karena ketahuan saya “underpaid” (gaji di bawah standar seharusnya) selama beberapa tahun dan bahkan sudah menduduki jabatan Editor Olahraga pula? Maka beberapa saat kemudian, aku dipanggil di kamar (PS). Lagi-lagi “You aku dengar gajinya terlalu kecil ya?”

Gara-gara kesalahan buka amplop oleh anak buah ini, beberapa saat kemudian, gaji saya melejit. Dilejitkan oleh (PS) kala itu. Sampai bikin terkaget-kaget, betapa enaknya mendapat gaji lebih gede dari yang dibayangkan. Terima kasih (PS), kataku ketika itu…

P. Swantoro, Lim Bun Chai, Robby Sugiantoro, ketiganya telah tiada (Foto: Dok. oribadi)

Ketika menduduki jabatan Editor Olahraga (Redaktur Olahraga) tahun 1986 itu, saya juga tiba-tiba didudukkan (PS) secara lesan. Tanpa Surat Keputusan terlebih dulu. Dipanggil di kamarnya -- kalau tidak salah (PS) waktu itu Wakil Pemimpin Redaksi --  dan langsung dipocok secara lesan jadi Redaktur: “You mulai besok pagi pegang Desk Olahraga ya?” kata (PS).

Nah, rupanya surat yang keluar beberapa hari kemudian itu adalah surat penunjukan (Pjs) pejabat sementara Desk Olahraga. Tak dapat tunjangan dong, wong baru Pjs. Dan baru setahun kemudian diberi SK penuh sebagai Redaktur Olahraga. Tahun sudah memasuki 1987 dan baru usai jabatannya enam tahun kemudian, tahun 1993….

Dan banyak kali kesempatan, (PS) memanggil kami dengan “You itu…” Termasuk apabila kami melakukan kesalahan, baik yang sepele, ataupun yang sekiranya mendekati fatal. Tetapi yang pasti, ketika saya pensiun tahun 2012, gaji saya termasuk “ketinggian” untuk ukuran saya. Itu awalnya gara-gara “You aku dengar…,” dan (PS) menaikkan gajiku yang underpaid dengan kenaikan yang tidak kira-kira.

Selamat Jalan, Pak Polycarpus Swantoro. Boss ku yang membuat jalan hidupku menjadi lebih indah dari yang ku bayangkan. Tugasmu di dunia sudah selesai, semoga beristirahat damai di kehidupan kekal…

***

 (SHA, mantan anak buah P. Swantoro di Redaksi Kompas, Palmerah Selatan tahun 1970-1990-an)