Basalamah Itu Fenomena

Ini bukan masalah keturunan, karena kita lebih memilih masalah keberlangsungan, baik itu agama maupun budayanya yang selalu beriring berkembang bersama antaragama dan budaya.

Minggu, 20 Februari 2022 | 07:47 WIB
0
216
Basalamah Itu Fenomena
Khalid Basalamah (Foto: fajar.co.id)

Sebenarnya kita sudah lama tau jenis manusia model seperti ini. Ada beberapa justru mualaf. Sebut saja Yahya Waloni, Felix Siauw, ada juga Nur Sugik. Mereka ini sebenarnya manggung hanya urusan perut saja, entah kalau Basalamah ada yang ngongkosi kayak Rizieq, berarti ada agenda politik pecah belah melalui agama.

Lihat saja ceramahnya kalau gak selangkangan, obat kuat untuk di surga modal ngembat bidadari. Begitu kok ada yang percaya kata teman saya, oh pasti. Kalau mau cepat dapat fulus ngibul aja pakai agama, pinjam nama surga, gak perlu nama jalannya, sebut saja namanya mereka sudah terkesima.

Liat saja travel bodong, perumahan bodong, kampung kurma, dan seterusnya. Tapi gak papa, ditipu orang seiman, bisa nambah imun badan.

Saya pernah ngobrol dengan Gus Mus tentang orang yang gampang di bodohi, jawab beliau simpel: di atas orang pinter, ada yang lebih pinter, di bawah orang bodoh ada yang lebih bodoh. Jadi orang bodoh itu ya ditipu sama yang bodoh di atasnya.

Index pendidikan kita paling rendah di ASEAN. Yang tertinggi adalah Singapura. Kalau melihat ini kita rasanya mau membongkar kuburan Soeharto untuk diminta tanggung jawabnya atas kebodohan yang dia ciptakan selama 32 tahun, ditambah SBY 10 tahun.

Karena sulit maju bersama orang bodoh. Kita jelaskan dia bingung, gak dijelaskan dia murung.

Index pendidikan manusia dalam satu negara sangat menentukan majunya sebuah bangsa, dari manusia yang berpendidikan juga bisa menimbulkan rasa nyaman, toleran, karena orang yang berwawasan tidak mudah diajak nyembah onta. Walau tidak ada jaminan profesor juga tolol tentang agama.

Finlandia adalah negara terbaik di dunia dalam hal pendidikan rakyatnya, di sana juga hidup rakyatnya sangat bahagia. Finlandia juga menduduki negara non Islam yang hidupnya dijalankan dengan cara islami. Artinya kalau standar kebaikan itu dibuat berdasarkan standar agama Islam, maka Finlandia juaranya, sementara negara jazirah Arab yang notabene adalah negara Islam menduduki peringkat pada koridor 90-100. Indonesia urutan 64 kalau nggak salah.

Jadi benar kata Renant, filsuf Prancis kepada Muhammad Abduh sang ulama Mesir. Dia berkata; "Saat aku jalan ke Eropa, disana aku tidak menemukan Islam, tapi aku menemukan banyak orang yg hidup scr islami. Sementara saat aku ke Mesir, aku banyak menemukan Islam, tapi tak menemukan cara hidup yg islami."

Artinya ajaran agung Nabi Muhammad dengan kitab sucinya Al Qur'an telah diserap oleh orang non muslim dan dijalankan, sementara muslimnya sendiri tidak menjalankannya dengan benar. Karena apa, ya karena iqra' nya jalan tanpa disimak. Kitab suci dijadikan berhala, tanpa makna dan tak tau menjalankannya.

Wawasan itu tidak tunggal, belajar agama juga harus mixed dengan ilmu lain yang bisa dipakai sebagai ayat-ayat kauniah. Bukan malah semua diharamkan. Sementara dia sendiri berprilaku haram jadah.

Pemenang hadiah Nobel 62% adalah beragama Nasrani, sementara yang beragama Islam hanya 0,8% setingkat di atas Budha yang 0,7%. Padahal populasi Islam adalah nomor dua terbesar di dunia. Kondisi diatas pasti ada yang salah.

Ibarat membeli mobil dengan serius, fokus, teliti, hafal, tapi gak pernah di jalankan, karena sebatas membaca manusal book dan punya mobil untuk pamer, begitulah masyarakat Islam, sampai ada lomba baca Alquran, Tilawatil Qur'an zaman Soeharto. Yang dilombakan membacanya bukan memaknai isinya untuk dijalankan bersama manusia lainnya.

Jangan katakan hafal Qur'an masuk surga, kalau semasa dia sebagai manusia tak ada gunanya terhadap manusia sekelilingnya serta lingkungannya. Hadirnya Rasullulah adalah dalam rangka pembenahan akhlak manusia.

Makanya kekhususan shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bukan naik haji, pulangnya makar.

Kembali ke Basalamah, jenis manusia ini harus dienyahkan. Ini bukan masalah keturunan, karena kita lebih memilih masalah keberlangsungan. Baik itu agama maupun budayanya yang selalu beriring berkembang bersama antaragama dan budaya.

Basalamah adalah fenomena dan gejala, makanya begitu kecium baunya segera saja hentikan mulutnya karena jelas membahayakan. Berkedok agama mereka mau merusak Indonesia. Kita ngerebut dari Belanda, mereka enak aja mau dikasikan kepada Amerika.

***