Biopolitik "2-R" dan "2-P"

Perdebatan dan perselingkuhan kedua hak dan kedaulatan privasi dan publik ini telah menyibukkan para filsuf publik sejak abad ke-18.

Kamis, 9 Desember 2021 | 06:51 WIB
0
77
Biopolitik "2-R" dan "2-P"
Giorgi Agamben (Foto: TNYT)

Kekuasaan eksepsional berlaku bagi siapapun. Ia tak dibatasi oleh jenis kelamin apalagi ras dan agama. Meski kekuasaan ekseptional itu, seperti yang diulas filsuf politik asal Itali Giorgio Agamben dalam "Homo Sacer" (1998), selalu bukan tanpa resiko. Lazimnya kaidah hukum kekuasaan dan kedaulatan (sovereignity) di manapun.

Teori kekuasaan eksepsi itu merupakan praktek mirip "demokrasi terpimpin" Bung Karno atau "asas tunggal" Suharto. Kedaulatan sepenuhnya ada pada kepala suku, raja hingga perdana menteri dan presiden. Karena itu, dengan mengutip Kontorwovic, Agembemen percaya kekuasaan dan kedaulatan selalu merupakan "dua tubuh raja" (two kings body).

Meminjam istilah dalam antropologi religius, dua tubuh itu silih berganti antara jubah suci (sakral) dan jubah sangar (profan) untuk menunjukkan absolutisme kedaulatannya. Itulah alasan bagaimana keputusan hukum tertinggi apapun yang ditetapkan (in kracht) bisa dibatalkan oleh presiden dan sejenisnya.

Biopolitik dalam bentuk representasi kekuasaan eksepsi ini sering dirujuk dari sosiolog Peter L. Berger(1929-2017) sebagai "construction of reality" (tatanan realitas). Dari tatanan realitas ini, khusus "dua tubuh raja" -- Ruciman memakai istilah politik dua muka (political mask/hypocrisy) --malah sering membentuk kepelbagian bahkan kemajemukan penampilan (appearance) berstandar ganda (hypocrisy).

Sosiologi pentas politik umumnya ikut mengkonteskan pesolek luar (outward) dan pesolek dalam (inward). Memadukan yang "appear" (luar/bentuk) dan "appeal" (isi/daya) memang tak mudah. Kita sering terkecoh oleh hasil-hasil "pesolek luar."

Di tengah lasaknya kebudayaan populer yang mudah diakses industri medsos, publik dan khalayak dengan mudah disedot oleh konstruksi luar yang dibikin bagai pualam dan kencana.

Para ahli psikologi komunikasi dan manajemen menyebutnya: imagology (pencitraan). Tak ada yang keliru, jika orang mudah bersimpati pada mereka yang mampu dengan sigap dan silau menyuguhkan citra luaran sebagai produk komodifikasi dan kosmetologi. Pepatahnya: indah raga dari rupa.

Dua srikandi yang ada di panggung gemerlap kekuasaan dan dua Arjuna di pentas kencana pameran isi kepala (intelektualitas) sama-sama memiliki dua keutamaan (virtue) dan hak kedaulatan yang sering sulit selaras bahkan lebih senang dibenturkan: hak privasi dan hak publik. Jika hak publik menuntut hak privasi dari mereka yang telah menawarkan dirinya dijual ke publik, hak publik harus lebih diutamakan dari hak privasinya.

Perdebatan dan perselingkuhan kedua hak dan kedaulatan privasi dan publik ini telah menyibukkan para filsuf publik sejak abad ke-18. Di antaranya, Jeremy Bentham(1748-1832) hingga John Lock (1632-1704) yang menyimpulkan adanya filsafat publik yang dikenal dengan rumusan "utilitarianisme."

Ringkasnya, begitu banyaknya hak dan pilihanmu, hanya hak utilitarian (kegunaan) yang pantas untuk diutamakan. Apa gunanya memilih Felly atau Tetty jika kedua-duanya memiliki pesona luar-dalam paripurna dan sempurna?

Juga, apa mubasirnya tidak memilihkan dan menyulai pikiran Rocky atau Reiner? Lagi-lagi, para utilitarian klasik maupun milenial sedang gamang ketika "kontruksi realitas" sedang diradang dan dirundung era "post truth." Artinya, kehendak bebas ada dengan mudah dikendalikan bahkan disingkirkan secara semena-mena oleh dua kekuatan yang mahagaib: representasi dan identitas.

Pada keduanya, kehendak kita ditawan oleh permufakatan jahat yang bernama: hegemoni. Tampaknya, Gramsci sedang bangkit dari "kuburan dogmatis." Dan kita adalah pengunjung dari keluarga besar kerumunan publik yang ingin merayakan yang rasa duka kita atas pelaku dan perilaku "utilitarian" yang musfrah.

Jika hendak menikmati "appear" dan "appeal" keempat pasang ini (2-R dan 2-P), dianjurkan sedu lah kopi pahit. Yang manis, kata Chairil Anwar, "tinggalkan kalau merayu!"

ReO Filsawan

***