Depok (Lagi)

Miris kepada cara pikirnya dalam memandang Allah Sang Pencipta. Allah sejatinya tidak pernah membutuhkan penyembahan dan peribadatan manusia.

Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:21 WIB
0
1308
Depok (Lagi)
Jamaah meninggal dunia saat shalat (Foto: Okezone.com)

Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun

Masih ingat video viral yang memperlihatkan seorang anak muda yang terjatuh (diduga terkena serangan jantung) di tengah jamaah sholat, dan tidak ada satu pun jamaah yang berusaha menolong korban, semua melanjutkan sholat mengikuti imam seolah-olah tidak manusia yang sedang meregang nyawa di antara mereka ?

Yang belum pernah melihatnya, silakan lihat di sini:

Saat pertama kali menyaksikan video tsb, pendapat saya adalah telah keliru semua jamaah di sana, karena mereka dikenai kewajiban "fardhu kifayah" untuk menolong korban, jika sebagian sudah ada yang menolong, maka tidak mengapa yang lain melanjutkan sholatnya, karena telah terjadi kedaruratan di sana.

Pun jika ada jamaah yang berteriak kepada imam untuk menghentikan sholat, juga tidak mengapa. Sholat jamaah bisa dilanjutkan setelah korban diurus dengan proper. 

Allah tidak mengapa, tetap akan ada di sana menunggu hamba-hamba-Nya mengurus makhluk ciptaan-Nya yang lain, tapi manusia yang sedang meregang nyawa tidak bisa menunggu. Ia mungkin saja masih bisa diselamatkan, jika orang di sekitarnya gegas menolongnya.

Tapi tentu saja, namanya isi kepala manusia berbeda-beda, tidak semua orang akan sependapat dengan saya. Dari pantauan hasil pergeludan jamaah fesbukiyyah, ada dan banyak yang berpendapat,

"Nyawa manusia itu di tangan Allah, kalau takdirnya hidup ia akan hidup, kalau takdirnya wafat ya wafat saat itu. Sementara sholat adalah kewajiban kepada Allah, dan sudah ada waktunya. Sholat harus dilanjutkan hingga selesai. Baru menolong korban (kalau masih hidup syukur, kalau meninggal sudah takdirnya)."

Miris.

Sungguh kejam sekali. Sungguh arogan sekali  jika Allah ditafsiri dengan cara demikian. Padahal Allah Dzat Maha Pengasih yang kasih-Nya bersekian kali lipat melebihi kasih ibu kepada anaknya.

Miris kepada cara pikirnya dalam memandang Allah Sang Pencipta. Allah sejatinya tidak pernah membutuhkan penyembahan dan peribadatan manusia.

Manusia diturunkan ke bumi artinya untuk menjalankan urusannya dengan sesama makhluk ciptaan Allah. Manusia adalah pemimpin bagi yang lainnya, artinya di dunia, tanggung jawabnya adalah antar sesama manusia. Urusan manusia di dunia adalah antar manusia dengan manusia.

Tanggung jawabnya kepada Allah nanti di akhirat.

Bahwa manusia disuruh jengglak jenggluk sholat 5 waktu, puasa, dzikir, haji, dst.. itu 'hanya' bentuk "pengakuan" manusia kepada Allah bahwa ia mengakui hanyalah makhluk ciptaan, seorang hamba (Abdillah), dan karenanya sebagai hamba mengakui kewajiban-kewajiban yang harus dilakukannya di dunia berkenaan dengan tujuan penciptaannya.

Jadi jika manusia menomorduakan tugasnya mengurus sesama ciptaan Allah, yang sedang dalam keadaan "darurat" butuh pertolongan, dan lebih menomorsatukan jengglak jenggluk kepada Dzat yang tidak membutuhkan manusia, dalam pandangan saya, sekali lagi menurut tafsiran saya, artinya sang hamba ini telah melalaikan tugasnya, tujuan sebenarnya dari penciptaannya. Wallahu a'lam.

Ah saya bukan ahli fiqh, jangankan ahli, belajar ilmu agama secara formal saja tidak pernah, tapi Alhamdulillah jika bagaimana cara saya memahami apa itu Islam, sejalan dan diamini oleh para ahlinya di MUI.

Wallahu a'lam bisshowab.

Di luar dari itu, mendengar bahwa peristiwa memiriskan ini terjadi di sebuah mesjid di wilayah Depok, Jawa Barat, somehow automatically hati saya membatin... "ohh pantas di Depok.."

Saya bukan seorang rasis dan sangat menentang arogansi atau bigotry atas nama SARA, tapi saya memang concern terhadap 5 wilayah ini di Jawa Barat dan Banten : Depok, Bekasi, Tangerang, Majalengka dan Banten (kalau mau dilanjut, dengan Bogor, Tasikmalaya, Sukabumi dan Cianjur --loh kok hampir semua wilayah disebut ?

Saya mengamati di wilayah-wilayah tersebut, berkembang dan sengaja dikembangkan, majelis-majelis ilmu dengan pemahaman-pemahaman yang sebutlah, kurang tepat, atas ajaran Islam sesuai dengan pemahaman yang umum disepakati oleh para jumhur ulama.

Again ini bukan persoalan SARA dan bentuk kearogansian saya atas pemahaman yang saya anut sendiri, karena merasa yang paling benar sendiri. 

Karena itulah saya menyebut kesepakatan para jumhur ulama, sebab saya sendiri pun sebagai fakir masih bertaqlid pada mereka.

Namun terlebih sebagai warga Jawa Barat, tentu saya merasa terganggu juga, jika Jawa Barat sebagai provinsi terbesar di negara ini dikenal dengan yang negatif-negatif, bukan hal positif yang menonjol.

Sebagai pemroduksi teroris, pabriknya hoax, agen ujaran kebencian, intoleran, eksklusif, ekstrimis, radikalis, penyuplai tukang demo, pengangguran, kemiskinan, esek-esek, TKW, apalagi ? You name it.

Ini memang buah dari kelalaian para pemimpin dan pembuat kebijakan di Jawa Barat di masa lalu.

So, besar harapan saya, para tokoh-tokoh agama, semua pihak yang memiliki kompetensi, untuk turun bergotong royong menyelesaikan persoalan di atas.

Jangan hanya jumud di pesantrennya masing-masing, diam berpangku tangan tidak peduli dengan yang terjadi di luar lingkungannya. Sabodo teuing, orang Pasundan bilang.

Stop kemirisan ini.  Cukup sudah sampai pemuda ini, menjadi korban dari kekeliruan kita dalam memahami agama Allah yang mulia ini.. Dan hanya kepada Allah azaa wajal kita memohon ampunan.

Disclaimer:

Jika ada yang tidak suka dengan judulnya, tidak ada maksud jelek dari penulis. Penulisnya jangan di-bully please, karena orangnya gampang nangis. Jika ada yang merasa tidak terima, tunjukkan saja kepada dunia, bahwa warga Depok bisa lebih baik dari ini dalam kemanusiaan dan muamalah antar umat beragama. Sepakat ?  
.
***