Dukungan Demokrat ke Prabowo-Sandi Bakal Antiklimaks

Sabtu, 2 Maret 2019 | 10:32 WIB
0
818
Dukungan Demokrat ke Prabowo-Sandi Bakal Antiklimaks
Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta Pusat (Gambar: detik.com)

Tadi malam, mewakili Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat (PD), Komandan Komando Satuan Tugas (Kogasma) PD, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) telah menyampaikan pidato politik yang bertajuk "Rekomendasi Partai Demokrat kepada Presiden Indonesia Mendatang" di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta Pusat.

Sebagai ringkasan pidato, AHY menyampaikan beberapa pesan penting partainya untuk diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh presiden terpilih periode 2019-2024, antara lain meneruskan program-program yang pernah diinisiasi oleh SBY, menjalankan kebijakan dan program yang bermanfaat bagi masyarakat miskin, menjaga kerukunan bangsa, serta beberapa hal penting lain.

"Dengan segala kerendahan hati, Partai Demokrat menyarankan program-program pro rakyat era SBY dapat dilanjutkan dan ditingkatkan, apa pun namanya. Presiden mendatang disarankan untuk menjalankan kebijakan dan program khusus untuk melindungi dan meningkatkan kelayakan hidup kaum miskin," papar AHY.

Dalam pidatonya juga, AHY berpesan kepada seluruh kader PD untuk berjuang bersama-sama memenangkan Pemilu 2019 sesuai target, terutama perolehan kursi legislatif minimal 15 persen di parlemen.

Rekomendasi kepada presiden terpilih dan pesan perjuangan merebut kemenangan di kursi legislatif, itulah intisari pidato AHY.

Patut diketahui bahwa terlaksananya pidato AHY semalam berkat titah SBY lewat "surat sakti" yang dikirim dari Singapura. Artinya naskah pidato tentu sudah melalui persetujuan SBY. Dan AHY pun tampil sebagai representasi SBY.

Saya dan mungkin juga sebagian publik mengira AHY akan menyampaikan pidato yang luar biasa karena sesuatu yang ditunggu-tunggu. Namun ternyata sangat formalitas dan isinya bersifat umum. Tidak ada yang mendebarkan.

Mengapa saya berharap mendebarkan, karena beberapa bulan yang lalu, baik pihak PD maupun sesama partai koalisinya pernah berujar bahwa pada sekitar Maret 2019 akan ada kejutan luar biasa yang akan dilakukan untuk kepentingan pemenangan Prabowo-Sandi. Tetapi sekali, faktanya itu tidak terjadi.

Bahkan hingga akhir pidatonya, AHY sama sekali tidak menyinggung nama Prabowo dan Sandiaga, termasuk kebijakan update partainya dalam memenangkan Pilpres 2019. Api jauh dari panggangan.

Apakah artinya PD sudah enggan memikirkan nasib koalisinya dan ingin fokus saja pada kepentingan partainya?

Bukankah hingga saat ini PD masih berstatus sebagai bagian dari BPN Prabowo-Sandi?

Saya menilai PD tidak ingin menghabiskan waktu dan energinya sia-sia. Dalam pidatonya, AHY pun mengaku demikian. Bagi PD, raihan suara di parlemen jauh lebih penting diusahakan ketimbang memikirkan strategi pemenangan Prabowo-Sandi.

Ya, beberapa kader PD memang cukup getol menyuarakan Prabowo-Sandi di lapangan maupun di meja debat. Tetapi sekali lagi, sepertinya elit penting PD masih enggan untuk bertindak lebih serius.

Dukungan PD bakal antiklimaks dan mungkin berujung pada pecah kongsi?

Sila beri pendapat!

***