Sukarno, Islam dan Gelar Pahlawan Nasional

Rabu, 9 Januari 2019 | 09:17 WIB
0
892
Sukarno, Islam dan Gelar Pahlawan Nasional
Soekarno (Foto: Republika)

Di ulang Tahunnya yang ke-46, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan PDIP tentu bangga dengan Founding  Father Negeri ini yang juga Ayah Biologis dari Mbak Mega sebagai Ketua Umum DPP, yaitu Sukarno. 

Perjalanan panjang keluarga besar Bung Karno untuk meluruskan sejarah yang telah didestruktif secara sistematis dan terncana. De-Soekarnoisasi memang berjalan, namun dalam hati rakyat Indonesia tetap mencintai Sang Proklamator ini.  

1. Sukarno sebagai Pahlawan Nasional

Bahwa Pemikiran Bung Karno tidak terlepas dari sintesis pemikiran - pemikiran besar dunia. Kesemuanya dibumikan dan disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia melalui pergulatan pemikiran dan batin bersama kaum Marhaen. Islqm dan Pancasila adalah hasil karya terbesar untuk bangsa ini. 

Pandangan bahwa Sukarno terlibat dalam gerakan tersebut, berkhianat kepada bangsa dan negara sesungguhnya sesat nalar dimana Beliau  ikut berjuang merebut dan memerdekakan Indonesia. 

Yup, banyak yang belum tahu, bahwa Bung Karno  sejak keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2012 Tentang Pengangkatan  Bung Karno sebagai Pahlawan Nasional. Gelar inipula yang akhirnya melegitimasi pelurusan sejarah bahwa Sukarno sama sekali tidak terlibat pengkhianatan Gestok (Gerakan Satu Oktober) atau lebih dikenal dengan G30SPKI yang selama ini digambarkan dalam sejarah Orde Baru. 

2. Tanggal 1 Juni 1945 Hari Lahirnya Pancasila 

Melalui keputusan Presiden  Nomor 24 Tahun 2016 Pemerintah memutuskan bahwa Tanggal 1 Juni 1945 adalah hari lahirnya Pancasila. Hal ini penting, karena dengan adanya penetapan ini maka pembumian Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan lebih baik lagi.

Bung Karno, bukanlah seorang komunis seperti yang dituduhkan selama ini, pemikirannya adalah sosok pejuang pemikir dan pemikir pejuang. Pemikir sekaligus menjadikan buah pemikiran - pemikirannya sebagai asa dan metode perjuangannya untuk merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selain itu, Beliau juga seorang pemikir dan pejuang Islam.

3. Jejak Islam Sukarno 

Belajar pada HOS Tjokroaminoto

Bung Karno sudah belajar Islam sejak berusia 15 tahun tatkala dititipkan untuk tinggal di rumah H. Oemar Said  Tjokroaminoto (H.O.S Tjokroaminoto) . Kepada Beliaulah mentalitas spritualitas keislamannya tergembleng. Bung Karno pun mengakui pemikirannya soal Islam banyak dipengaruhi oleh Gurunya yang sangat dihormatinya.

Perkembangan islamnya seiring dengan pemahaman anti penindasan dan anti penjajahan. Oleh karenanya, jelas akan ada perbedaan dengan pemikiran islam yang selama ini kita dapatkan.

Menjadi Santri Kiai Ahmad Dahlan

Bung Karno merasa tertarik dengan tablig dan menjadi santri. Ketertarikannya yang membuatnya selalu mengikuti tablig tablig Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya.

Sahabat Pena Ahmad Hassan

Surat - suratnya dengan  tokoh tokoh keagamaan semisal Ahmad Hasan, Pemimpin Persatuan Islam  (Persis) di Bandung sedikit banyak mengilhami perenungannya terhadap konsep ketuhanan dan kebangsaan. Terutama semakin menambah wawasan keislamannya. 

Menjadi Guru di sekolah Muhammadiyah

Pengalaman saat di buang oleh Belanda ke Bengkulu  Tahun 1938 ketika menjadi anghota dan guru perkumpulan Muhammadiyah . Bahkan saat menjadi ketua majelis pengajaran Muhammadiyah Tahun 1938 - 1943 .

Bung Karno menghendaki Bangsa Indonesia menjadi bangsa religius yang setiap umat Islamnya  menjadi umat yang taat kepada perintah agamanya melalui petunjuk kitab  suci Al Quran dan Al Hadits.  Begitupun umat agama lainnya yang harus taat kepada ajaran sesuai keyakinan masing masing. 

Terakhir saat menjadi Presiden RI pertama, saat pidato penutupan Muktamar Muhammadiyah Tahun 1962, di Jakarta ada kalimat yang sesunggguhnya pernyataan keislaman Beliau, bahwa "Jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa panji muhammadiyah atas kain kafan saya". 

***