Melihat Lagi Sertifikat Kebohongan Prabowo

Minggu, 6 Januari 2019 | 22:38 WIB
0
78
Melihat Lagi Sertifikat Kebohongan Prabowo
Saat publik bertanya-tanya prestasi Prabowo, salah satu partai menunjukkan prestasi pertama Prabowo di tahun 2019 - (Foto: https://twitter.com/psi_id/)

Sebelumnya, pembohongan publik yang dilakukan oleh salah satu kubu calon presiden nyaris tanpa sanksi apa-apa. Padahal, Prabowo Subianto sebagai capres, dan elite-elite di lingkarannya, terlihat kompak menebar kebohongan tentang perempuan berusia 70 tahun yang sebenarnya baru operasi plastik dipelintir sebagai korban pemukulan. Namun awal 2019, tampaknya mereka mulai kena batunya.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terbilang berani mengambil langkah tidak populer. Mereka membuat sertifikat kebohongan, mengirimkannya kepada figur-figur yang terlibat. Salah satunya adalah Prabowo sendiri.

Partai yang acap dilecehkan sebagai "partai anak kemarin sore" mampu "menampar" seorang capres yang terkenal pemberang: Prabowo. Seolah menegaskan, jangan remehkan "anak-anak" yang notabene punya mata batin yang lebih jernih dibandingkan mereka yang cuma berbangga sebagai "orang dewasa" dan kenyang asam garam politik. Toh, seorang bekas jenderal yang katanya sudah akrab dengan perang pun bisa tertampar.

Menarik. 

Katakanlah itu sebagai keisengan sebuah partai. Namun keisengan ini, hemat saya, memang dibutuhkan untuk pihak yang berpolitik dengan cara-cara lebih iseng: melecehkan warga (ingat kasus wajah Boyolali) hingga memfitnah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 

Apa yang menarik dari sini adalah bagaimana dengan keisengan sebuah partai baru, namun mampu menunjukkan bahwa seorang capres melihat masalah negara tidak lebih sebagai masalah iseng. Bagi Prabowo, urusan hoaks adalah urusan iseng. Menebar hoaks diposisikan setara dengan keisengan.

Tidak keliru, saya kira, jika Prabowo bertarung di Pemilihan Presiden (Pilpres) sebagai iseng-iseng saja. Toh, yang mengeluarkan banyak uang bisa jadi jauh lebih banyak uang pasangannya, Sandiaga Uno, dan pendukung-pendukungnya. Terlebih, urusan uang, sampai ke masyarakat miskin pun jadi sasaran mereka untuk menangguk uang--meski dibahasakan sebagai uang pemberian sukarela untuk perjuangan. 

Kenapa Prabowo pantas disebut sebagai "Capres Iseng" tidak lain karena ia sudah menunjukkan keisengan yang tidak tanggung-tanggung. Dari keisengan menebar hoax seputar Ratna Sarumpaet hingga terkini soal RSCM.

Jika keisengan itu tidak disengaja, tentunya keisengan itu takkan dipertontonkan berkali-kali. Namun karena sudah berkali-kali memamerkan keisengan, memang cukup menegaskan bahwa ia memang figur iseng. 

Tidak berlebihan jika salah satu partai yang sering diremehkan sebagai partai baru dan miskin pengalaman seperti PSI, menegur figur yang merasa lebih berpengalaman dengan pesan, "Sudah. Anda sudah tua, jangan lagi iseng. Sebab negara tidak bisa dibuat maju oleh orang-orang iseng."

Keisengan mereka di PSI tidak berbahaya karena tidak menyasar negara. Namun jika seorang capres terlalu iseng, terlalu berbahaya. Sebab jika ia sampai terpilih, buah keisengannya bisa berisiko hingga ke satu negara. Bukan kepada satu orang saja. 

Apa yang dilakukan Prabowo dan sudah menjadi kebiasaannya itu adalah kebiasaan iseng yang memang sudah pantas dilawan oleh siapa saja. Sebab semua yang mencintai negaranya pastilah tidak ingin hancur di tangan orang-orang iseng. 

Apalagi Prabowo sendiri yang sering berbicara tentang negara bubar, dan jika melihat keisengannya sendiri, justru lebih meyakinkan bahwa negara ini hanya bubar di tangannya. Bukan di tangan orang lain.

Bagaimana negara tidak bubar jika seorang pemimpin cuma mengandalkan landasan pikiran dan kesimpulannya dengan "Saya dengar ..." lalu langsung mengambil keputusan. Nah, Prabowo berkali-kali menegaskan dirinya adalah orang yang cepat mengambil keputusan hanya dengan mendengar, dan merasa itu menarik untuk didengar, ia langsung mengambil kesimpulan.

Dari karakter ini saja sudah cukup terlihat jika sosok Prabowo bukanlah orang yang pantas untuk memimpin sebuah negara sebesar Indonesia. Bahwa ia dinilai pantas sebagai capres, diakui sebagai capres resmi, cukup di situ saja. Setidaknya untuk menunjukkan kepada publik, ada orang yang mampu berbicara besar, dengan suara besar, namun sebenarnya untuk melakukan hal sederhana saja cenderung gegabah.

Mengeluarkan pernyataan seperti selama ini ia lempar, adalah sebuah hal sederhana. Jika untuk hal sederhana kerap asal-asalan, bagaimana meyakini jika kelak ia takkan asal-asalan dalam memimpin? 

Maka itu, kembali ke soal sertifikat yang dikeluarkan oleh PSI terhadap Prabowo tersebut, cukup memperjelas siapa sosok capres yang tak lagi malu-malu menunjukkan kebohongannya. Apakah ada negara yang sukses dipimpin oleh figur yang gemar kebohongan dan membohongi orang-orang? Bohong!

Sebab ketika seseorang berbohong, maka dari situ saja ia sudah menunjukkan ketidakmampuannya mengendalikan diri: dalam mendengar dan menyaring apa yang didengar. Dengan ketidakmampuan mengendalikan diri begini, lalu mengira ia mampu mengendalikan negara sebesar ini jika memimpin? Bohong!

Maka itu, langkah partai kalangan milenial itu melabeli Prabowo sebagai penyebar kebohongan sudah menjadi langkah tepat. Setidaknya untuk memperjelas, "Ini lho yang gemar bohong, masak kita mau dibohongin!"

Soal apakah kelak rakyat memberikan kepercayaan kepada figur yang jelas-jelas punya rekam jejak kebohongan serius seperti sosok tersebut, itu kembali ke realitas lain yang mungkin perlu penegas: seberapa waraskah bangsa kita? 

***