Yusril dan Manuvernya

Jumat, 9 November 2018 | 05:48 WIB
0
189
Yusril dan Manuvernya
Yusril Ihza Mahendra (Foto: Breakingnews.co.id)

Yusril Ihza Mahendra ini aneh. Dua puluh tahun memimpin partai, tiga periode menjadi pejabat tinggi negara, tapi tetap gagal membesarkan partainya. Padahal, ia mengklaim sebagai Natsir Muda dan partainya didaku sebagai Neo-Masyumi. Ia gagal membangun basis massa riil bagi partainya. Pada dua pemilu terakhir, partainya bahkan gagal mengirimkan wakilnya ke parlemen.

Tahun depan ia terancam mengulangi kegagalan pemilu legislatif untuk ketiga kalinya. Lucunya, ancaman kegagalan itu tiba-tiba kini dilarikan ke Prabowo, seolah masalah partainya merupakan masalah yang harus ikut dipecahkan oleh Prabowo dan partai-partai pendukungnya. Oalah...

Menghadapi Pemilu Legislatif 2019, semua partai menghadapi masalah yang sama dengan partainya Yusril. Ini adalah Pemilu pertama di mana Pileg dan Pilpres akan dihelat serentak. Semua partai, bersama para calegnya, sama-sama masih belajar bagaimana menyusun strategi menghadapi Pemilu serentak.

Makanya sangat aneh ketika Yusril yang partainya tidak menyumbang syarat 'presidential threshold' dalam pencalonan Prabowo kemarin, kini justru menjadi pihak yang sangat rewel terhadap Koalisi Adil dan Makmur. Padahal, PKS dan PAN, yang dalam sejumlah survei terakhir diramal tidak akan lolos ke parlemen, tidak pernah mengeluhkan pemilu legislatif.

Mereka paham jika Pileg adalah dapur internal yang berbeda dengan Pilpres yang merupakan dapur bersama. Mereka tentu saja harus berusaha mengkapitalisasi pencalonan Prabowo-Sandi dengan caranya masing-masing, sesuai kebutuhan partai dan para caleg yang ultra heterogen. Apalagi, sejak Pemilu 2009, Pileg memang bukan lagi kontestasi partai, tapi telah mejadi kontestasi Caleg. Semua Caleg berjuang untuk merebut suaranya sendiri. Jangankan antar-partai, dengan calon separtai semuanya harus sikut-sikutan. Itu merupakan konsekuensi dari sistem pemilihan proporsional terbuka.

Jadi, ekspose yang dilakukan Yusril atas persoalan yang dihadapi partainya, seolah persoalan itu seharusnya bisa dibantu untuk dipecahkan oleh Prabowo dan partai-partai pendukungnya, adalah rengekan yang menggelikan. Lebih menggelikan lagi jika hal itu dijadikan alasan kenapa ia merapat ke kubu Jokowi.

Apakah sesudah ia merapat ke Jokowi, maka kini masalah yang dihadapi partainya pada Pileg tahun depan akan ikut dibantu oleh PDI-P, PKB, Nasdem, Perindo, Hanura dan PSI?!

Jika tidak, lalu untuk apa ia merapat ke Jokowi, padahal sebagai intelektual ia pastinya paham jika karakter pemilih partainya sebenarnya lebih dekat kepada Prabowo daripada Jokowi, sehingga akrobat politiknya bisa merusak konstituen potensialnya?!

Cukup jelas, akrobat politik Yusril bukanlah untuk kepentingan partainya. Barangkali ia hanya sedang memuaskan ego dan dendamnya karena merasa dikucilkan. Masalahnya, serangannya kepada Amien Rais saat partainya dicoret oleh KPU tempo hari, memang tidaklah mewakili karakter politisi yang enak diajak ngopi-ngopi.

Sebagai pribadi, ia memang intelektual dan ahli hukum yang mumpuni. Tapi sebagai pemimpin politik, kini kita tahu kapasitasnya. Melemparkan tanggung jawab nasib partainya kepada orang lain, bukanlah sikap seorang kesatria.

***