Tuhan Punya Cara Sendiri dalam Menunjukkan Kuasanya

Sebelum Pilpres, berbagai serangan frontal dan tuduhan ditujukan kepada Jokowi, bahkan terkadang dengan cara yang sangat merendahkan.

Sabtu, 11 Mei 2019 | 14:06 WIB
0
1016
Tuhan Punya Cara Sendiri  dalam Menunjukkan Kuasanya
Joko Widodo (Foto: Sekretariat Negara)

Selama saya bekerja sebagai wartawan Kompas selama 34 tahun (1983-2016) ada dua hal besar yang tidak pernah bisa saya lupakan, karena saya sangat merasakan adanya kuasa Tuhan di dalamnya.

Yang pertama, pada tanggal 19 Januari 1998 sekitar pukul 22.30, saya (Kepala Desk Politik) baru saja tiba di rumah dari kantor. Begitu baru akan membuka pintu rumah, handphone saya berdering, ternyata dari kantor. Wartawan Kompas Bambang SP, Kepala Desk Malam (Desk Penyunting), menelepon dan menginformasikan bahwa Ketua PB Nahdlatul Ulama Gus Dur (57), panggilan akrab Abdurrahman Wahid, mengalami stroke dan kemungkinan dibawa ke RS Koja, Tanjung Priok, di mana adik Gus Dur, dr Umar Wahid adalah Direkturnya.

Ia meminta saya untuk meliputnya, dan menyatakan akan menunggu beritanya, kalau perlu hingga lewat deadline (00.30). Saya tidak jadi memasuki rumah, kembali ke mobil dan mengarah ke Tanjung Priok. Saya ingat, saya memacu mobil sangat cepat di jalan tol, hingga 160 kilometer per jam. Sampai di RS Koja, ternyata Gus Dur tidak ada di sana. Ternyata Gus Dur dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Saya lalu menuju ke RSCM, ketika sampai saya langsung menuju ke Unit Gawat Darurat. Di sana sudah ada wartawan Kompas Gedsiri, dan saya mendapatkan informasi bahwa Gus Dur tidak sadarkan diri. Tidak lama kemudian datang wartawan Kompas lainnya, Gunawan Setiadi, dan August Parengkuan (Wakil Pemimpin Redaksi).

Sekitar pukul 00.45, Gus Dur dipindahkan ke ICU. Namun, proses pemindahan itu tidak mulus. Saat akan dibawa ke ICU yang terletak di lantai 2, tiba-tiba lift macet. Gus Dur terbaring lemah di tempat tidur dorong menunggu lift bisa dioperasikan. Ia didampingi istrinya, Sinta Nuriyah. Suasananya sangat mencekam.

Kendati 10 menit kemudian lift dapat dioperasikan kembali, tetapi waktu 10 menit, terasa sangat lama. Dari sana, saya langsung mengirimkan berita melalui handphone kepada Bambang SP.

Baca Juga: Gus Dur dan Pemikiran tentang Masa Depan Indonesia

Kondisi Gus Dur membaik dengan cepat. Dalam pembicaraan dengan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama yang membesuk Gus Dur di RSCM, saya secara ringan mengatakan, jika melihat kondisinya pada saat dibawa ke RSCM, dan membandingkannya dengan kondisinya saat ini, bisa dikatakan yang dialami Gus Dur itu seperti mujizat. Saya percaya Tuhan pasti punya maksud tertentu dengan menyembuhkan Gus Dur. Seperti biasa, dengan gayanya yang khas, Jakob Oetama hanya tersenyum menanggapi ucapan saya. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Ternyata, lewat ”permainan politik” di MPR, pada tanggal 20 Oktober 1999 Gus Dur ditunjuk menjadi Presiden. Uniknya, penunjukan itu berlangsung mulus, padahal ada persyaratan bagi calon Presiden harus sehat secara fisik dan secara mental. Kita bisa berdebat apakah kondisi Gus Dur yang nyaris tunanetra itu sehat secara fisik atau tidak, tetapi siapa yang dapat melawan kuasa Tuhan.

Dalam percakapan dengan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama sesudah Gus Dur dilantik sebagai Presiden, saya mengingatkan soal percakapan kami di RSCM. Namun, saya berkata, jujur saja, saya tidak pernah mengira Gus Dur akan menjadi Presiden.

Yang kedua, adalah perjalanan Joko Widodo, akrab disapa Jokowi, menuju ke kursi Presiden pada tahun 2014. Pada tahun 2014, Indonesia akan mengadakan pemilihan Presiden, tetapi hingga satu tahun menjelang Pemilihan Presiden 2014 belum ditemukan calon Presiden yang dianggap benar-benar cocok untuk memimpin negeri ini. Padahal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah memerintah selama dua periode, tidak diperkenankan untuk mencalonkan diri kembali.

Memang ada beberapa nama yang kerap disebut, tetapi sebagian besar adalah nama-nama lama yang popularitasnya jauh di bawah Susilo Bambang Yudhoyono. Menjelang Pemilihan Umum 2014, beberapa survei dan pengumpulan pendapat (polling) menyebut Prabowo Subianto, sebagai salah satu calon yang populer. Banyak yang menyatakan, pilihan kepada Prabowo itu diambil karena orang-orang yang disurvei menganggap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kurang tegas dan lambat dalam mengambil keputusan.

Entah dari mana, tiba-tiba nama Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, yang menjadi tokoh kesayangan media (media darling), muncul sebagai calon Presiden terfavorit. Padahal, pada saat itu, Jokowi belum satu tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selain itu, Jokowi juga belum pernah memiliki pengalaman berkiprah pada tingkat nasional. Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia adalah Walikota Solo untuk dua periode, tapi tidak penuh. Pada tahun kedua, pada periode keduanya, ia mengikuti pemilihan Gubernur DKI Jakarta, dan menang.

Pertanyaannya, mengapa Jokowi menjadi media darling, dan mengapa popularitasnya sangat tinggi? Ada yang berpendapat kesederhanaan dan kemampuannya berkomunikasi dengan masyarakat saat blusukan mebuat dia selalu dibela karena dianggap sebagai bagian dari mereka.

Jujur saja pada waktu itu tidak sedikit orang yang meragukan kemampuannya. Pertama, ia tidak memiliki pengalaman berkiprah pada tingkat nasional. Kedua, maaf, banyak yang menganggap tampangnya kurang gagah, sangat bersahaja, kurang cocok untuk figur seorang Presiden.

Baca Juga: Kemenangan Jokowi Semakin Tampak

Berbagai argumen dikemukakan untuk membuktikan bahwa Jokowi tidak memiliki kapasitas untuk menjadi Presiden. Namun, kita tahu bahwa itu adalah hitung-hitungan di atas kertas. Oleh karena, kita juga melihat ada calon-calon yang dinilai memiliki kapasitas untuk menjadi Presiden, tetapi tingkat elektabilitasnya rendah.

Dihadapkan pada pertanyaan, apakah Jokowi memiliki kapasitas untuk menjadi Presiden, sangat sulit bagi saya untuk menjawabnya. Tetapi saya yakin Jokowi pasti memiliki kapasitas untuk menjadi Presiden, karena kalau ia tidak memilikinya, mengapa Megawati Soekarno putri memilih dia?

Dan, ternyata Megawati Soekarnoputri tidak salah pilih karena Jokowi menang dalam Pemilihan Presiden 2014.

Apa yang dialami oleh Jokowi adalah fenomena. Jalan dari Walikota Solo menuju ke Gubernur DKI Jakarta, dan ke kursi Presiden amat sangat mulus. Sangat sulit menjelaskan mengapa hal seperti itu dapat terjadi. Berbagai teori bisa dikemukakan untuk menjelaskan fenomena itu, tetapi alasan yang sebenarnya tetap merupakan misteri. Seperti juga waktu Gus Dur terpilih menjadi Presiden, kali inipun saya bertanya, jangan-jangan itu adalah kuasa Tuhan.

Pemilihan Presiden 2019 pun tidak jauh berbeda. Sebelum pemilihan Presiden, berbagai serangan frontal dan tuduhan ditujukan kepada Jokowi, bahkan terkadang dengan cara yang sangat merendahkan, kalau tidak ingin dikatakan menghina. Namun, hasilnya, sebagian besar pemilih dalam Pemilihan Presiden 2019, justru berpihak kepadanya.

***