Kenapa Anies Baswedan Tak Mungkin Jadi Presiden RI? (Bag. 1)

Ketidakberpartaiannya, memudahkannya untuk plin-plan, bermuka banyak. Membuatnya lincah untuk loncat ke sana kemari. Sesuatu yang sesungguhnya bukan untuk siapa-siapa, kecuali ego dan interest sesaat dirinya sendiri.

Rabu, 1 Juni 2022 | 05:28 WIB
0
436
Kenapa Anies Baswedan Tak Mungkin Jadi Presiden RI? (Bag. 1)
Foto editan Anies Baswedan dan para Presiden RI (Foto: Facebook/Andi Setiono)

Tentu saja, saya bukan fans Anies Baswedan (AB), bahkan cenderung tak memiliki simpati atau empati apa pun terhadapnya. Namun tulisan ini berusaha seobyektif mungkin mengungkap fakta bahwa paranoia, ketakutan, kekhawatiran atau apa pun namanya yang mendudukkan dirinya sebagai "potensi besar" Presiden berikutnya adalah berlebihan dan omong kosong.

Realitas tersebut, coba saya dudah dan dedah bukan berdasar sentimen apa pun. Tapi berdasar realitas sejarah kebangsaan negara ini, dan terutama latar belakang profil pribadinya.

Dalam sejarah "kepresidenan" Indonesia, tujuh tokoh yang beruntung menyandangnya bisa naik ke tampuk kekuasaan tersebut tak pernah dengan cerita yang sama. Walau tampak proses elektoralnya sama, terapi detil caranya sama sekali berbeda. Hal ini sangat unik menunjukkan bahwa walau tampak berpola, tapi realitasnya tanpa pola baku.

Mari kita bahas satu persatu...

Presiden pertama, Sukarno. Sebagai bapak bangsa, sebagai tokoh proklamator. Ia terpilih secara aklamasi oleh lembaga yang bernama PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ia nyaris tanpa lawan berarti, dan hal ini terus berlangsung sampai ia dijatuhkan. Demokrasi dan sistem parlementer yang dianutnya, juga berubah-ubah menurut seleranya. Dan selalu diposisikan untuk menguntungkan kelanggengan kekuasaannya.

Kabinet yang dibentuk bisa terus menerus berubah, bahkan usianya kadang terlalu pendek. Menyebabkan selama 20 tahun ia berkuasa, tak pernah kunjung memperoleh stabilitas baik ekonomi maupun politik. Lucunya, di masa pergolakan internal ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa terwujud. Nyaris semua wilayah yang pernah dikuaisai Pemerintah Hindia Belanda berhasil disatukan. Inilah prestasi terbesar Orde Lama yang terwariskan hingga hari ini.

Prestasi ini dilengkapi keberhasilan Sukarno untuk menginspirasi Gerakan Non-Blok. Yang membuat negara muda ini dikenal dan dihormati di dunia internasional. Kegigihannya melawan praktek kolonialisme dan imperialisme, tak tergantikan hingga saat ini. Hal yang membuat Sukarno nyaris tak tersentuh dan dianggap bakal menjadi Presiden Seumur Hidup. Menjelaskan, bahwa kenapa kemudian ia mesti "dijatuhkan".

Presiden Kedua, Suharto naik dari proses sengkarut konflik internal Indonesia yang rumit dan memakan korban luar biasa besar. Kelak pola ini, juga digunakan sebagai cara menjatuhkannya. Suharto naik melalui apa yang disebut sebagai kudeta merangkak, lalu kemudian dijatuhkan melalui cara pengkhianatan para pembantunya dan apa yang secara absurd disebut "people power". Kenapa absurd, gerakan mahasiswa yang kemudian ditunggangi oleh siapa pun itu "yang tak pernah jelas".

Satu-satunya yang jelas adalah dengan mengorbankan saudara-saudara kita etnik Tionghoa yang sama sekali tak tersangkut apa pun dengan sengkarut perebutan kekuasaan itu. Era yang kemudian disebut Orde Baru ini merupakan masa panjang demokrasi semu. Pemilu yang rutin diadakan setahun sekali, selalu berakhir dengan hasil yang sama dan sekedar acara formalitas menetapkan Suharto sebagai Presiden dengan periodisasi kekuasaan terpanjang.

Sayangnya, era yang ditandai sebagai masa dengan stabilitas ekonomi-politik yang paling baik ini. Harus diiringi dengan praktek KKN yang yang kemudian menjerumuskan negeri ini ke dalam krisis yang tak kalah mengerikannya. Ketika Suharto turun, semestinya juga adalah berakhirnya era Golkar sebagai kekuatan politik. Sayangnya ia tak pernah berhasil benar-benar dimatikan, bahkan ia seolah Dasamuka atau Rahwana. Ia justru menjelma sebagai partai politik, yang melahirkan anak pinak partai-partai yang hanya berbeda warna tapi secara genetik tak ada bedanya.

Presiden Ketiga, BJ Habibie. Ini tak lebih "presiden lungsuran" atau "presiden ketiban sampur". Ia seolah hanya dapat hadiah (walau) sebaliknya jsutru mendapat musibah turunan. Bahkan, ia harus menanggung sial yang tak alang kepalang. Oleh "bapak"-nya ia dianggap sebagai pengkhianat, walau semasa berkuasa satu-satunya perjuangannya hanya berusaha agar Suharto tidak tergiring masuk penjara dan harta kekayaan keluarganya tak di sita oleh negara.

Ia turun dengan aib sejarah yang tak terlupakan. Timor Timur lepas dalam gejolak politik. Boleh saja ia beranggapan telah berhasil melepaskan "bom waktu" dan "beban sejarah". Tapi ia salah duga, ia tak pernah dianggap benar-benar sebagai pahlawan. Walau ia dimakamkan di TMP Kalibata. Ia meninggal dalam kesunyian setelah ditinggalkan istrinya. Barangkali, ia adalah copy-paste Suharto secara garis nasib. Berjasa besar tapi tak boleh terlalu dicatat secara berlebihan.

Presiden Keempat, istilah yang tepat adalah Presiden Kompromi. Muncul dalam era terakhir pemilihan presiden secara tidak langsung melalui MPR. Sejarah mencatat seorang tokoh paling "geer sepanjang masa" yaitu Amien Rais. Singkatnya, ia merasa satu-satunya representasi "Pahlawan Reformasi". Ia barangkali lupa dan abai, bahwa kejatuhan Suharto itu sebagai "wis titi wancine". Sudah jatuh tempo, dan memang inilah momentumnya. Sudah tiba saatnya, dan semesta mendukung.

Di era ini pula, mulai muncul tokoh politik oportunis yang populer di hari-hari ini, sebagaimana saya sebutkan di atas, yaitu Anies Baswedan. Di banyak cerita yang beredar di lingkaran aktifis, Anies dan Amien Rais itu sama kelakuannya. Ketika tentara datang, mereka yang pertama lari bersembunyi. Tapi begitu ada orasi-orasi yang aman, mereka akan tampil di mimbar yang paling depan. Watak asli seperti ini, rupanya sudah banyak dipahami oleh para politisi lainnya.

Popularitas Megawati yang sangat tinggi dan kemenangan partainya untuk pertama kalinya, membuat Amien Rais bersiasat membentuk "Poros Tengah" hanya sekedar menggagalkan Megawati. Dan yang mendapatkan durian runtuhnya adalah Gus Dur, yang rupanya juga menyimpan ambisi yang sama. Sayang, dalam politik tak ada makan siang gratis. Dalam sengkarut politik yang absurd, dalam permainan media yang jahat, dan muncul untuk pertama kali istilah "king maker" untuk menjatuhkan Gus Dur.

Presiden Kelima, Amien Rais pula yang kemudian berperan besar menjatuhkan Gus Dur dan menaikkan Megawati menjadi presiden. Titik inilah awal mula kegagalan reformasi. Bagaimana janji reformasi, hanya jatuh sebagai perebutan kekuasaan. Megawati berkuasa sebagai "Presiden Operator". Ia menjadi figur yang harus tahu berhutang budi, karena pada akhirnya bisa jadi presiden. Ia bahkan harus menanggung banyak dosa dalam sedemikian banyak hal. Apakah itu Amandemen UUD, apakah itu BLBI, apakah itu pelepasan aset-aset negara.

Menjelaskan, kenapa ia tak pernah bisa kembali menang dalam pertarungan capres selanjutnya. Ia sesungguhnya gagap, gugup, dan gagu. Sesuatu, yang saya harus bersedih, mengatakan bahwa watak ini terwariskan ke dalam diri "putri mahkota"-nya Puan Maharani.

Presiden Keenam, SBY bisa naik melalui pola paling aktual pada masanya sebagai "Presiden Pencitraan". Melalui playing victims dan pembentukan partai epigon dari Amerika. Publik sejak awal salah menilai dirinya, yang dianggap "solusi bagi kemandegan reformasi". Semula ia dianggap perpaduan pemimpin berkarakter modern, dengan latar belakang militer yang menjanjikan stabilitas, intelektual yang menjanjikan keterukuran dan transparansi, dan harapan demokratis yang menjamin kontinuitas reformasi.

Ternyata salah semua!

Ia terbukti hanya ingin dikenang sebagai satu-satunya presiden yang ingin tercatat "tidak bisa dijatuhkan". Dan untuk itu menghalalkan segala cara. Pada masanya intoleransi merebak, radikalisme tumbuh subur, korupsi merajalela, dan upaya pemberantasannya hanya permainan politik. Ini adalah era dimana, Indonesia kehilangan momentum mendapat durian runtuh naiknya banyak harga komoditi, pemasukan eksport yang besar.

Semua hanya hilang untuk menjadi subsidi ini itu yang melulu untuk kepentingan pencitraan, dan selebihnya menumbuhsuburkan apa yang kemudian kita pahami sebagai oligarki!

Tak banyak publik yang tahu, ketika era SBY berakhir, kas negara dalam kondisi kosong. Menjelaskan kenapa beberapa saat setelah ia turun bungkam seribu bahasa! Era SBy adalah penghancur sesungguhnya apa yang kita harapkan sebagai Orde Reformasi...

Presiden Ketujuh, Jokowi naik melalui pola yang paling unik. Ia berangkat dari statusnya sebagai "media darling". Profilingnya sebagai orang Sala yang rendah hati, merakyat, mengedepankan dialog, dan suka blusukan. Ia berangkat dari bawah sebagai pengusaha sukses dan mandiri, lalu ketika menjabat Walikota Surakarta, berhasil membuat banyak perubahan. Dan bak meteor, ia ditarik sebagai Gubernur DKI Jakarta bersanding dengan seorang tokoh beretnis Tionghoa bernama Basuki Cahaya Purnama.

Sebuah keberuntungan, namun kelak juga menjadi batu sandungan. Kenapa? Keduanya seolah dan seharusnya tak terpisahkan, karena sifatnya yang saling melengkapi. Jokowi kemudian naik jadi Presiden, melalui jalur yang tak pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Sebagai "figur yang serba bukan". Tidak berdarah biru politik, bukan ketua partai, dan tak mewakili citra kokelompok konglomerasi tertentu. Ia direstui oleh partai penyokongnya. Sebuah restu yang sesungguhnya tak benar-benar tulus. Ia hanya dianggap sebagai "Presiden Petugas Partai".

Ia tampak berhasil dan sukses, hanya karena dua hal. Sebagai orang yang gila infrastruktur, sehingga kerjanya terlihat konkret dan berjejak. Dan secara pribadi, ia berhasil melewati apa yang disebut sebagai periode paling penuh fitnah yang keji. Ia adalah seorang pemimpin yang paling bisa memisahkan identitas privatnya, dengan kepentingannya sebagai pejabat publik. Sebagai orang sipil berhasil sebagai pembendung dari tumbuhnya kekuatan poltik yang mendasarkan diri pada politisasi agama.

Sayangnya, sejak semula yang tak disadari publik ia adalah representasi dari tumbuhnya oligarki yang jadi musuh baru negara di masa depan. Ia tampak tak berdaya saat harus berhadapan dengan berbagai bentuk mafia apakah itu batubara, kelapa sawit, atau dalam masa pandemi alkes. Kredo-nya kerja, kerja, kerja... yang membuatnya terlalu progresif dalam mimpi kemajuan infrastruktur. Justru membuatnya memiliki jenis paranoia baru sebagai "pewaris banyak proyek mangkrak".

Dalam pemahaman awal inilah, semestinya sangat mudah dipahami betapa sangat "tidak relevan"-nya Anies Baswedan. Ia tak berjejak dan berpotensi "mengamankan" warisan Jokowi. Bagi Jokowi secara pribadi, ia tak lebih malin kundang. Seorang lonely-ranger tak berpartai, yang bergerak berbekal manuver trik dan intrik politik. Sejarah kelak akan membuka kedoknya, kepada siapa sesungguhnya ia menghamba?

Di hari ini: ia tapi tak lebih cash-cow bagi lingkaran yang dibentuknya...

(BERSAMBUNG)

**

NB: Dalam konteks inilah, Anies Baswedan adalah seorang opurtunis sejati. Ia berbalik memusuhi Jokowi yang memberi kepercayaan, ketika kemudian terbukti mengkhianatinya. Ironisnya, kemudian ia menempuh jalan sama, berusaha dengan segala cara untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta. Jabatan yang sangat "glowing" dalam nyaris semua aspeknya.

Ketidakberpartaiannya, memudahkannya untuk plin-plan, bermuka banyak. Membuatnya lincah untuk loncat ke sana kemari. Sesuatu yang sesungguhnya bukan untuk siapa-siapa, kecuali ego dan interest sesaat dirinya sendiri. Ia adalah seorang narsistik sejati, yang sayangnya berselera buruk sekali. Walau tak pandai bekerja, ia mengimbanginya dengan pandai merangkai kata-kata.

Ia adalah solusi untuk ketiadaan figur untuk praktek politisasi agama. Foto editan yang beredar luas di bawah ini adalah salah satu buktinya. Ia "nggege mangsa", ia kegeeran sebagaimana dulu Amien Rais. Ia tak punya rasa malu, terburu-buru untuk sesuatu yang sesungguhnya sangat halusinatif dan utopis....

***