Secangkir Kopi dalam Pidato Prabowo

Minggu, 3 Maret 2019 | 14:34 WIB
0
189
Secangkir Kopi dalam Pidato Prabowo
Foto : Detail.com

 
 
Bahkan pernah Prabowo sampai tidak mendengar suara azan, saking asyiknya berpidato. Dalam sebuah video yang pernah diunggah di media sosial, terlihat Prabowo sedang pidato, tiba-tiba terdengar azan berkumandang, namun Prabowo tetap terus berpidato.
 
Dalam tayangan tersebut, seorang pengawal atau ajudannya mencoba untuk mengingatkan, namun Prabowo tidak memberikan reaksi sebagai tanda dia akan menghentikan pidatonya. Tidak jauh dari podium dia berpidato, seseorang yang berpakaian sangat Islami mencoba mengingatkan, barulah Prabowo menghentikan pidatonya.
 
Mungkin sebelum pidato ada yang menyuguhkan Prabowo secangkir kopi, sehingga dia bisa begitu asyik berpidato, sampai-sampai tidak lagi mendengar suara azan, padahal sebagai seorang Muslim, dengan mendengar suara azan, itu artinya harus meninggalkan semua aktivitas, segera menunaikan sholat.
 
Suatu ketika, ditahun 2014, sebelum Pilpres, saya mendapat Undangan Buka Bersama dengan Partai Gerindra. Saya sebagai penulis Kompasiana yang turut diundang. Saya juga tidak tahu kenapa diundang, kebetulan saat itu saya tidak berpihak kepada salah Satu Capres.
 
Sesuai Undangan, saya hadir pukul 15:00 WIB, acara dilaksanakan di salah Satu Ballroom Hotel Sahid. Hampir rerata yang hadir adalah kader Partai Gerindra. Acara dimulai agak molor, Prabowo baru pidato sekitar 17:00.
 
Saking asyiknya mendengar pidato Prabowo yang sudah kurang lebih Satu jam, azan maghrib sebagai tanda buka puasa pun berkumandang, saya langsung berdiri keluar ruangan menuju tempat hidangan buka puasa, untuk segera membatalkan puasa, saya tidak menunggu lagi Prabowo menghentikan pidatonya.
 
Ternyata di luar ruangan sudah banyak orang yang sedang menikmati buka puasa, saya pun mencoba menikmati apa yang ada, yang penting bisa ngopi, ngerokok dan ngemil apa yang ada.
 
Begitu saya kembali ke dalam, Prabowo sudah digiring ke suatu ruangan khusus, di mana di sana Prabowo sudah dikerumuni awak media dan simpatisannya. Saya tidak ikut-ikutan untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Tujuan saya datang sebatas memenuhi Undangan, tidak ada tujuan lain.
 
Bagi saya semua peristiwa tersebut mempunyai hikmah tersendiri, yang tadinya saya belum menentukan pilihan, dan belum berpihak kemanapun, secara perlahan-lahan saya mulai mengambil sikap.
 
Keesokan harinya saya dihubungi kembali oleh orang yang mengundang saya, dia meminta tanggapan saya tentang acara yang sudah saya hadir kemarin, dan dia meminta saya untuk menuliskannya di Kompasiana. Namun saya menolaknya, dengan alasan, kalau saya tuliskan, maka apa yang sampaikan tidak akan baik bagi Prabowo dan Gerindra.

***