Paskah, Telur dan Tradisi Keagamaan

Telur, ataupun perayaan lainnya hanyalah merupakan medium untuk memaknai pesan-pesan keagamaan.

Jumat, 2 April 2021 | 10:40 WIB
0
52
Paskah, Telur dan Tradisi Keagamaan
Gereja Foto: Disway.id)

Sebelum menjejaki minggu untuk perayaan paskah, maka Jumat terakhirnya disebut Jumat Agung. Hari itu dimana Yesus Kristus disalib dan menandakan wafatnya.

Dalam kalender Ketika masih kecil, saya justru mengenalnya dengan istilah Wafat Isa Al-Masih.

Hanya saja, semasa mulai mukim di Tanah Papua, dalam percakapan dengan kawan ataupun kolega Protestan dan Katolik saya mendengar istilah Paskah, begitu pula Jumat Agung.

Mahasiswa yang menempuh pendidikan baik di Universitas Muhammadiyah Sorong, maupun di Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UniMUDA) Sorong, diantara mereka Protestan, Katolik, juga Hindu.

Untuk masyarakat Hindu, merupakan transmigrant dari Bali yang menempati SP (Satuan Pemukiman) di Kabupaten Sorong.

Dalam satu kesempatan bersama dengan alumni jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sorong, dengan kegiatan prakarsa individual, bukan dari kampus ataupun lembaga, kami berjalan bersama ke Hongkong, Shenzhen, Macau, sampai ke Kuala Lumpur dan Singapura.

Dalam perjalanan itu, berinteraksi dengan kawan-kawan lintas agama. Sehingga sedikit mengenal bagaimana tradisi beragama, dan juga pandangan-pandangan mereka.

Bersepuluh kami berjalan dan juga beraktivitas yang pada momen itu justru berbonus saling mengenal.

Selama dua puluh dua tahun tahun saya berada di Makassar. Begitu pula Ketika berada di Yogya dan Malang selama tiga tahun, kesemuanya hanya berinteraksi dengan masyarakat muslim. Sehingga mengenal pandangan dan juga tradisi keagamaan dalam perspekstif muslim.

Ketika berada di Tanah Papua, mendapatkan kesempatan mengenal kawan dan kolega dari kalangan Protestan, dan Katolik.

Dalam satu kesempatan obrolan di aula yang dijadikan masjid untuk shalat Jumat, pertanyaan diajukan oleh mahasiswa. “Apa penjelasannya sehingga semasa Paskah dan Maulid, sama-sama menggunakan telur?”.

Pertanyaan itu tak terjawab, sampai lesehan di aula bubar.

Kesempatan berjalan bersama dengan kolega ke Berlin, saya mengajukan pertanyaan ini ke peneliti maulid, Adlin Sila.

Jawaban yang saya simpulkan bahwa baik Paskah dan Maulid memesankan wasiat kehidupan. Sehingga sebagai lambang, digunakanlah telur.

Penggunaan telur dalam Maulid, begitu khas. Dalam satu kesempatan maulid di Kampung Baru, kota Sorong, perayaan maulid diprotes oleh anak-anak.

Dimana masjid tersebut merayakan maulid bukan dengan telur tetapi menggantinya dengan buah. Semasa itu, ombak besar sehingga pelayaran dari pelbagai pelabuhan ke kota Sorong terhenti. Akibatnya, kiriman telur juga tidak ada.

Memasuki waktu perayaan maulid, digantilah telur dengan buah. Dimana perayaan itu diprotes oleh anak-anak dengan tidak mau masuk ke dalam masjid untuk turut memeringati maulid.

Sementara itu, masjid Al Azhar di belakang gedung olahraga, juga di Kota Sorong, menunda pelaksanaan maulid dengan menanti keberadaan telur.

Masih terkait dengan pertanyaan tentang telur tadi. Saya ajukan juga ke kawan Protestan, maupun Katolik.

Saya mendapat jawaban bahwa Jumat Agung merupakan wafatnya Yesus Kristus. Adapun hari Paskah merupakan peringatan terhadap kebangkitan. Maka, symbol sebuah kelahiran digunakalah telur.

Baik telur di Maulid, maupun di Paskah, kedunya diwarnai sesuai dengan pilihan masing-masing. Bahkan dengan ragam warna yang bervariasi.

Perayaan maulid bagi masyarakat Bugis, dan Makassar, ketan sebagai makanan semasa Maulid dilengkapi dengan telur.

Salah satu prosesi mendapatkan telur pada maulid ketika dibacakan barzanji, telur diperebutkan. Tidak saja di kalangan masyarakat Bugis, dan Makassar. Ini juga dilakukan di masyarakat muslim Bali.

Sementara dalam perayaan Paskah, dilaksanakan lomba menghias telur. Dalam kesempatan yang lain, lomba mencari telur Paskah.

Begitu juga dengan aktivitas diantaranya dengan menggelindingkan telur, mewarnai telur, dan pelbagai ragam aktivitas dengan menjadikan telur sebagai aktivitas bersama di Sekolah Minggu.

Telur, dipilih tidak saja karena harganya yang relatif terjangkau. Sehingga sebagian besar kalangan tetap bisa merayaannya Bersama tanpa dihalangi oleh masalah kemampuan membelinya.

Jikalau para nabi dan rasul mendapatkan wahyu sebagai pemahaman keagamaan, maka bagi kita orang awam, justru melalui interaksi dan juga perayaan inilah bisa secara perlahan memahami agama.

Telur, ataupun perayaan lainnya hanyalah merupakan medium untuk memaknai pesan-pesan keagamaan. Dibutuhkan sebuah materi untuk media penyampai pesan. Namun, kadang bukan pesannya yang dipahami, justru lebih pada kebendaanya itu sendiri.

***