Requiescat in Pace, Pak Jakob

Nilai, kepribadian, gagasan, dan kontekstualitas pemikirannya-lah yang tetap relevan dalam semangat menumbuhkan kesadaran akan hakikat tanah air, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Rabu, 9 September 2020 | 15:41 WIB
0
378
Requiescat in Pace, Pak Jakob
Jakob Oetama (kanan) mengetik di Redaksi Kompas (foto: Kompas)

"The only good luck many great man ever had was being born with the ability and determination to overcome the bad luck," kata Channing Pollock, pesulap dan aktor Amerika. "Satu-satunya keberuntungan yang dimiliki orang-orang besar adalah kemampuan dan penentuan untuk mengatasi berbagai rintangan". Di antara orang-orang besar yang berhasil mengatasi rintangan itu, antaranya adalah Jakob Oetama, wartawan sekaligus pendiri perusahaan media Kompas Gramedia, majalah bulanan Intisari, dan harian KOMPAS bersama Petrus Kanisius Ojong. Ia orang besar yang pernah dimiliki pers Indonesia sampai hari ini, dan terhadap kepergiannya siang ini (pukul 13.05 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara), kita patut menundukkan kepala atas berpulangnya lagi seorang yang pantas mendapat gelar "tokoh". 

Jakob Oetama lahir di Magelang, 27 September 1931. Jika Tuhan tidak memanggilnya hari ini, delapan belas hari lagi ia berganti usia menjadi 89 tahun. Berlatar pendidikan seorang guru dan mantan seminaris di Mertoyudan, Magelang, ia memutuskan untuk berkecimpung dalam jurnalistik sebagai pilihan profesinya sejak 1955 di mingguan Katolik, Penabur. Simpatisan Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini menamatkan studinya di bidang Komunikasi Massa di Fakultas Ilmu Sosial-Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebelum kemudian berkolaborasi dengan Petrus Kanisius Ojong dalam mendirikan majalah bulanan Intisari, produk jurnalistik yang mengedepankan tulisan-tulisan bernapaskan human-interest dan ilmu pengetahuan populer, pada 17 Agustus 1963. Tendensi majalah bulanan ini antara lain menerobos keterkucilan masyarakat Indonesia di era Demokrasi Terpimpin, di mana informasi dan perkembangan mutakhir luar negeri dibatasi dengan berbagai pemberitaan yang sarat akan nuansa politik revolusioner. Sepengakuan Jakob, Intisari dibuat dalam format menyerupai Reader's Digest, berkala populer di Amerika yang mengusung spirit humaniora. Nama Intisari sendiri diambil dari salah satu rubrik majalah Star Weekly yang sejak 1951 dipimpin Petrus Kanisius Ojong, sampai diberedel pada Oktober 1961. 

Atas permintaan Menteri Panglima Angkatan Darat, Ahmad Yani kepada Frans Seda, Jakob dan Ojong diminta mengusahakan sebuah penerbitan surat kabar yang berafiliasi ke Partai Katolik yang ketika itu dipimpin I.J. Kasimo Hendrowahjono dengan tujuan mengadakan containment terhadap arus besar pers komunis ketika itu, Harian Rakjat. "Nama Bentara Rakjat pun dipilih untuk membuktikan bahwa kata 'rakjat' bukan monopoli PKI," ungkap Frans Seda dalam Opini "Sepanjang Jalan Kenangan" (KOMPAS, 28 Juni 1990). Oleh Presiden Sukarno, koran itu dipilihkan nama KOMPAS

Situasi penerbitan KOMPAS tak ubahnya sebagai gambaran republik di masa-masa genting itu. Petrus Kanisius Ojong dalam artikel "Kompasiana" edisi 28 Juni 1966 menulis tentang dua pembabakan usia KOMPAS selama setahun, yakni babak pra-Gestapu dan babak post-Gestapu. Babak pra-Gestapu, ungkap Ojong, adalah zaman "urut dada minta ampun", mengingat ketidakseimbangan antara tiras KOMPAS yang menanjak, namun kapasitas percetakannya terbatas. Sementara babak post-Gestapu adalah momentum perbaikan dan pembenahan diri. Ketika konsolidasi kekuasaan Orde Baru mulai mapan, secara perlahan KOMPAS ikut dilirik sebagai salah satu media yang kredibel, orisinal, serta berimbang. 

Garis api yang dipertahankan Jakob dan Ojong antara redaksi dan bisnis amat kentara. Selama 15 tahun pertama KOMPAS, mutlak Jakob hanya mengurusi redaksi yang sempat beralamat di Pintu Besar Selatan (1965-1972) sebelum akhirnya berpindah ke Palmerah Selatan 26, Jakarta Selatan, sedangkan Ojong mengurusi bisnis dan iklan yang beralamat di Jalan Gajah Mada 104, Kota, Jakarta Barat. Namun, sesudah Ojong meninggal mendadak karena serangan jantung pada 31 Mei 1980, Jakob mengambil alih kendali atas bisnis dan perusahaan Kompas Gramedia dan praktis mempercayakan pengurusan teknis redaksi kepada Wakil Pemimpin Redaksi, Polycarpus Swantoro dan beberapa redaktur pelaksana. 

Beban Jakob ketika itu tidaklah dapat dikatakan ringan. Dua tahun sebelum Ojong berpulang, KOMPAS dibreidel pada 21 Januari 1978 dan diizinkan terbit kembali pada 06 Februari 1978 sesudah Jakob menandatangani kesepakatan untuk melakukan swasensor yang lebih ketat dalam redaksi korannya. "Saya tahu apa tentang bisnis," aku Jakob rendah hati ketika mendengar kabar berpulangnya Ojong yang terlalu mendadak. Namun, selama 18 tahun berikutnya, nyatalah bahwa antisipasi rem yang dimodifikasi Jakob berhasil membimbing KOMPAS untuk bertahan, di tengah deraan pembreidelan serta jatuh-bangunnya kebebasan pers dan jurnalisme. 

Jakob pensiun sebagai Pemimpin Redaksi KOMPAS pada tahun 2000, setelah menyerahkan kedudukan tersebut kepada Suryopratomo. Ia kemudian sempat dianugerahi penghargaan Doctor Honoris Causa dari almamaternya, Universitas Gadjah Mada pada 2003. Pada ulang tahunnya ke-80, 27 September 2011, biografinya Syukur Tiada Akhir diluncurkan secara resmi untuk menandai kiprahnya sebagai salah satu pelopor "jurnalisme damai" di Indonesia. 

*

Secara pribadi, saya tidak mengenal sosok besar ini. Bertemu, tidak pernah. Bercakap, apa lagi. Meski demikian, kekaguman saya tidak pernah ada habis-habisnya terhadap satu dari dua sosok pendiri Kompas Gramedia ini. Bukankah galibnya orang-orang besar tidak perlu kita kenali pribadinya secara menyeluruh, namun dapat kita dalami pribadi dan nilai-nilainya melalui ajaran, pemikiran, dan tindakannya yang bermanfaat bagi sebesar-besarnya orang? 

KOMPAS di bawah kepemimpinan dan asuhan Jakob memajukan semangat 'humanisme transendental' atau 'kemanusiaan yang beriman'. Semangat yang dilandasi akan pemuliaan terhadap harkat, martabat, sekaligus penghormatan terhadap keberagaman dan keindonesiaan yang majemuk

Dengan semangat tersebut, harian yang ia dirikan dan pimpin selama 35 tahun akhirnya tidak sekadar menjadi surat kabar yang menawarkan aktualitas, relevansi, dan berita yang mencakup urgensi umum, namun mengimplementasikan kredo "menghibur yang papa, mengingatkan yang mapan". Harian akhirnya membawa semangat bela rasa yang besar, dilandasi keyakinan bahwa manusia dan kemanusiaan pada hakikatnya adalah kelindan yang tidak terpisahkan dan terikat satu sama lain. Itu yang ke bawah. Bagaimana dengan yang ke atas? KOMPAS, bagaimanapun, hidup serta menjadi besar dan vital dalam masa represif Orde Baru. Analogi "jurnalisme kepiting" yang diungkapkan pertama kali oleh wartawan senior Rosihan Anwar nyatanya bukan sesuatu yang harus disesalkan atau malah membuat malu akibat citra "penakut" atau "cari aman", namun mendidik masyarakat tentang cara lain mengungkapkan dan menyelesaikan masalah, yaitu melalui dialog dan kerja sama yang solutif dan partisipatif untuk mengejar kebaikan bagi semua orang. 

Bertolak dari pengalaman menjadi pelanggan KOMPAS selama 36 tahun (1 September 1984 hingga kini), keluarga saya sepakat bahwa KOMPAS tak ubahnya sudah sebenar-benarnya kompas bagi bangsa dan masyarakat Indonesia dalam menempuh perjalanan dunia yang melaju dalam perubahan. Memasuki usia yang ke-55 tahun pada 28 Juni kemarin, KOMPAS mengusung tema "Kawan dalam Perubahan". Mungkinkah semangat ini terus relevan sampai 25 atau 30 tahun mendatang, di mana perubahan menjadi napas umat manusia untuk bertahan? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Terlebih, jurnalisme saat ini tengah menghadapi cobaan berat tentang independensi, keberpihakan, dan orientasi media. Mengandalkan KOMPAS sebagai penunjuk arah, kami mencoba meyakinkan diri untuk tidak berpaling ke lain koran. Keyakinan ini, sekarang dapat kami katakan benar dan teruji. 

Jakob hari ini berpulang. Sesungguhnya ia hanya mengembalikan jasmani kepada Yang Memiliki Hidup. Nilai, kepribadian, gagasan, dan kontekstualitas pemikirannya-lah yang tetap relevan dalam semangat menumbuhkan kesadaran akan hakikat tanah air, kebangsaan, dan kemanusiaan. Requiescat in Pace, Pak Jakob. Est sit orationis pro nobis

"Keberhasilan tidak diukur ketika para pendiri masih ada, tetapi menjadi tantangan besar yang harus terus dihidupi cita-cita besar itu tanpa meninggalkan kekhasan perkembangan zaman yang sedemikian hebat yang niscaya dihadapi oleh para penerusnya." (JO, 1931-2020) 

***