Covid -19 dan Petani Kita, Nggak Usah Nawar

Dengan kita membeli komoditas pertanian seperti sayur, buah, beras dll dari tangan petani tanpa menawar, kita sejatinya sudah meringankan derita mereka.

Minggu, 10 Mei 2020 | 14:56 WIB
0
279
Covid -19 dan Petani Kita, Nggak Usah Nawar
Ilustrasi petani dan corona (Foto: tirto.id)

Saat semua orang bingung menyelamatkan diri dari serangan virus Covid -19, petani terus bekerja.

Bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Tapi juga untuk kita. Untuk keberlangsungan hidup kita semua.

Bayangkan kalau suatu masa mereka berhenti berproduksi. Mungkin karena usaha taninya tidak lagi memberikan hasil yang layak.

Mungkin hasil taninya nggak cukup lagi buat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mungkin tanah mereka sudah dijual.

Mungkin karena jalur-jalur irigasi sudah mampet, akibat dampak pembangunan jalan maupun ulah spekulan tanah.

Mungkin juga karena lahan-lahan sawah itu sudah beralih fungsi secara bertahap. Dari lahan sawah, jadi tegalan, lalu nggak lama kemudian jadi komplek perumahan, kantor, dan gedung-gedung megah.

Pandemi Covid -19 menyadarkan kita semua, pentingnya bangsa ini memiliki ketahanan pangan yang baik. Memastikan bangsa kita mampu menyediakan pangan secara mandiri, tidak bergantung pada impor dari negara lain.

Sebab dalam situasi seperti ini, tidak ada satupun negara yang mau melepas stok pangan mereka untuk memenuhi kebutuhan perut rakyat di negara lain. Masing-masing negara butuh jaminan ketahanan pangan bagi rakyatnya sendiri.

Semoga pandemi Covid -19 menjadi momen bagi bangkitnya kesadaran kita, untuk memproduksi pangan sendiri. Oleh petani sendiri, di lahan milik sendiri.

Bagi para birokat dan pejabat, juga pengusaha properti, berhentilah menggusur lahan-lahan pertanian untuk memenuhi hasrat duniawi.

Bagi aparat penegak hukum, lindungilah lahan pertanian kita dari alih fungsi lahan, dengan segala modus yang menungganginya.

Bagi kita semua, ayo kita beli produk pertanian dengan harga yang wajar. Kalau kita bisa membeli langsung komoditas pertanian dari tangan petani, nggak usah ditawar. Langsung bayar saja.

Karena dalam setiap tetes peluh petani, mengandung rangkaian penderitaan hidup yang tidak berkesudahan.

Mulai dari pupuk langka, nggak ada air irigasi, kemarau panjang, serangan hama-penyakit, harga sarana produksi yang mahal saat tanam, impor yang mendadak masuk saat panen, jatuhnya harga jual saat panen, hingga tekanan para renternir dan tengkulak akibat sistem perbankan belum berpihak pada mereka.

Dengan kita membeli komoditas pertanian seperti sayur, buah, beras dll dari tangan petani tanpa menawar, kita sejatinya sudah meringankan derita mereka.

Kita setidaknya sudah berkontribusi pada upaya membangun ketahanan pangan bangsa ini.

Salam sehat, bantu petani, lawan corona.

Hermas Prabowo, Wakil Sekjen Komite Pemberdayaan Pertanian Indonesia

***