Banteng Kehilangan Tanduk Memilih Berkubang Di Pangkuan Induknya

Politisi sangat mudah meminjam kata rakyat untuk popularitas diri, berharap diposisikan sebagai wakil rakyat, sosok yang mewakil keluhan, derita dan nestapa rakyat akibat ketidakadilan hukum dan kesewenangan eksekutif.

Rabu, 26 Oktober 2022 | 19:36 WIB
0
117
Banteng Kehilangan Tanduk Memilih Berkubang Di Pangkuan Induknya
Puan Maharani (Foto: PWMU.co)

Melihat jejak PDIP sekarang rasanya gemas, gondok dan kesal. Para petingginya sepertinya memasang muka angkuh, terlalu protektif dan Mega minded. Mereka yakin bahwa mereka merasa partailah yang membuat sosok seperti Jokowi, Ganjar tidak lebih sebagai petugas partai. Mereka harus tunduk pada organisasi yang masih berharap putri mahkota terdongkrak dan tahun 2024 bisa bangkit dari baskom dalam hal elektabilitas.

Secara, Puan memang pengalaman di organisasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut, namun sosoknya bagi masyarakat kurang menjual, berbeda dengan Ganjar Pranowo, sosok rakyat jelata yang kebetulan juga sudah mengabdikan diri sebagai petugas partai puluhan tahun sejak 1990 setia di Partai moncong putih tersebut.

Nyatanya menurut hemat penulis sejak PDIP terlalu kaku dan gampang menjatuhkan sanksi berupa pemecatan apabila melanggar ketentuan yang telah digariskan organisasi PDIP seperti partai yang berjarak dan terlalu elitis.

Padahal pernyataan Ganjar masih wajar. Sebagai bagian dari masyarakat tentunya ia bebas memilih dan dipilih oleh rakyat bila banyak yang menghendaki.

Namun PDIP sendiri tampaknya akhir-akhir ini sensi bila ada sosok lain di luar Puan. Karena sejak semula menurut beberapa pengamat PDIP masih yakin untuk mendorong Puan menuju kontestasi calon Presiden.

Dengan gencar PDIP membuat spanduk, baliho/ banner untuk mengenalkan wajah Puan di kantong-kantong kuat PDIP di Jawa Tengah, jawa Timur di wilayah Timur Indonesia.

Namun apakah masyarakat sejalan dengan pemikiran elite PDIP. Tampaknya sejak 2014 yang menjadi daya tarik sebuah perhelatan pemilu bukan partai, namun sosok seperti halnya Jokowi dan saat ini di PDIP Ganjar lebih bersinar cahayanya daripada Puan yang digadang-gadang bisa menjadi pemimpin perempuan yang dipilih langsung oleh rakyat.

Bukan hendak merendahkan perempuan, namun masyarakat masih ragu dengan kapasitas dan kapabilitas Puan dalam memimpin bangsa.

Kebetulan meskipun di sana-sini bahkan disangsikan oleh rekannya sendiri di PDIP Ganjar semakin melenggang, semakin ditekan rasanya masyarakat pengin melihat kiprah Ganjar di 2024.

Kalau PDIP ngotot dan melakukan blunder tetap memajukan Puan, besar kemungkinan PDIP akan menjadi partai Receh yang semakin lama ditinggalkan masyarakat yang dulu memilihnya sebagai wakil rakyat.

Partai modern sekarang, di era serba canggih harusnya bisa belajar melihat dengan cepat seberapa besar masyarakat mengapresiasi kinerja partai dan wakil rakyat.

Rasanya partai-partai di Indonesia lebih mengutamakan bagaimana mereka meraih keuntungan dengan memilih sosok yang sejauh ini masuk dalam pusaran polemik.

Masyarakat terbelah ada yang nasionalis, kaum rebahan, kaum yang cuek dengan situasi lebih senang main game dan melakukan pekerjaan berdasarkan kesukaannya, rendah dalam literasi, lebih percaya pada berita-berita omong kosong, lebih senang hidup penuh intrik dan banyak manusia yang terjebak dalam aliran agama yang lebih banyak bertindak anarkhis daripada melebur menyatu sebagai masyarakat pejuang yang ingin mengharumkan nama bangsa.

Di media sosial terutama di kanal politik dan pembicaraan sensitif tentang agama banyak akun-akun yang melontarkan kata-kata kasar sarkas dan cenderung menjadi pemicu konflik.

Kembali ke laptop. PDIP diakui sudah kenyang pengalaman dalam hal mengelola partai, disamping kadernya yang bermasalah banyak pemimpin yang bisa menjadi teladan dan patut ditiru rekam jejaknya, namun terus terang masyarakat lebih melihat sisi negatif wakil rakyat atau sebutlah politisi.

Partai-partai dan politik masih dipandang “kotor” banyak menghalalkan segala cara untuk memperoleh simpati rakyat. Politisi sangat mudah meminjam kata rakyat untuk popularitas diri, berharap diposisikan sebagai wakil rakyat, sosok yang mewakil keluhan, derita dan nestapa rakyat akibat ketidakadilan hukum dan kesewenangan eksekutif.

Politisi itu selalu berharap ia didukung jutaan rakyat maka dari pidato-pidato petinggi partai dan politisi terkadang terlalu bombastis, Padahal belum tentu dari pidato pemimpin partai atau politisi mewakili suara hati nurani rakyat. Banyak yang bertanya rakyat yang mana? Siapa yang merasa terwakili? Apakah benar yang dikatakan politisi berdasarkan suara nurani masyarakat.

Masih banyak tanda-tanya, makanya politisi jangan terlalu kepedean seakan akan ia memang mewakili rakyat. Barangkali semangat awalnya memang meminta restu masyarakat, melakukan pendekatan dengan trik merayu dan menarik simpati rakyat, namun setelah duduk manis di kursi parlemen banyak yang lupa pada suara-suara yang sebenarnya.

PDIP ayo jangan terlalu jumawa dan berjarak dengan suara nurani rakyat, jangan hanya karena keinginan putri mahkota lantas melupakan kenyataan bahwa ada yang lebih memberi harapan meskipun sosok itu bukanlah sosok pemimpin yang dimaui rakyat.

***