Makna "Ojo Kesusu" Memilih Pemimpin Indonesia

Tidak ada pemimpin sempurna yang bisa memuaskan semua orang, cari saja yang terbaik dari yang terburuk.(kalau tidak ada yang benar-benar ideal).Salam damai selalu.

Rabu, 28 September 2022 | 06:44 WIB
0
86
Makna "Ojo Kesusu" Memilih Pemimpin Indonesia
Baliho

Jokowi pernah mengatakan ojo kesusu saat ada kongres di Borobodur yang dilakukan para pendukung Ganjar Pranowo. Itu ketika Jokowi didesak untuk melakukan dukungan pada salah satu calon pemimpin berdasarkan survey tertinggi elektabilitasnya. Itu terjadi beberapa bulan lalu (Sabtu, 21 Mei 2022 saat membuka rapat kerja Relawan Jokowi di desa di Desa Ngargogondo Kecamatan Borobudur, Magelang).

Sementara di media massa survey, perang opini antar partai sudah semakin panas. Bahkan beberapa petinggi partai baik oposisi maupun partai pendukung pemerintah saling mengklaim kesuksesan.

Kegaduhan partai politik menyambut pemilu 2024 ini adalah pertaruhan mereka dalam merebut simpati masyarakat. Oposisi jelas memanfaatkan kenaikan BBM, pembangunan infrastruktur, sudut pandang tentang toleransi dan intoleransi, perekonomian yang belum pulih akibat covid-19. Oposisi jelas mengaduk-aduk sisi kelemahan pemerintahan dari segala sudut. Mulai mengutak-atik dosa masa lalu, mulai mengutak-atik fokus pemerintahan yang cenderung mengabaikan “rakyat”.

Beberapa senjata yang bisa menjadi modal oposisi untuk menyerang pemerintah saat ini adalah kebijakan yang membebani rakyat, misalnya kenaikan BBM, konversi kompor gas ke kompor listrik, ketidaktegasan pemerintah dalam menegakkan hukum terutama pada koruptor-koruptor yang malah menerima keringanan hukuman.

Demokrat melakukan isu-isu yang bisa memicu perdebatan dengan mengatakan pemerintahan dalam hal ini Presiden Jokowi dianggap hanya gunting pita atas proyek-proyek infrastruktur yang direncanakan, digagas, dibangun sejak jaman pemerintahan di mana Demokrat sedang berkuasa. Pada kesempatan lain ketua partai mengatakan pemerintahan sekarang tidak pernah mengucapkan terimakasih atas jasa pemerintahan sebelumnya.

Perang opini ini memang sebuah dinamika dalam politik, perang yang bisa memanaskan konstalasi politik.

Tugas oposisi itu mengkritik dan mengkitik, memberi masukan termasuk melontarkan kata kata yang cenderung nyinyir dan hoax  jika tanpa data akurat.

Upaya partai politik merebut simpati masyarakat ada yang menuai simpati, tetapi juga ada yang kontrapruduktif, blunder. Jika kritik terlihat lebay malah membuat masyarakat semakin antipati pada partai politik.

Ojo kesusu seperti yang dilontarkan Jokowi menyiratkan, jangan buru-buru memilih pemimpin. Endapkan, lihat, ikuti rekam jejaknya, dan lihat juga latar belakang partai politik yang menjadi pendukungnya.

Semangat memilih pemimpin dengan mengamati rilis terbaru survey elektabilitas calon pemimpin, mengikuti rekam jejak calon pemimpin memang harus hati-hati. Maka pas jika kata-kata Ojo Kesusu, atau dalam terjemahan bebasnya Jangan Buru-Buru, atau boleh didekatkan dengan sabar tunggu waktu yang tepat.

Kalau melihat dinamika politik tanah air keterburuan sudah menjadi habit, bagi masyarakat seringkali dongkol dengan perilaku politikus. Banyak yang pandai, cerdas, pintar bicara, tangkas saat berdebat namun saat menjadi pejabat publik, entah bupati, gubernur, jabatan strategis. Perilaku koruptifnya benar-benar membuat masyarakat kecewa.

Tidak ada partai politik yang benar-benar bersih, selalu ada celah anggota partai untuk melakukan korupsi. Kepemimpinan kader politik kadang dihadapkan pada tuntutan internal partai, ada kendali, ada tekanan-tekanan, ada pungutan-pungutan yang akhirnya membuat anggota partai politik nekat melakukan korupsi.

Saat ini konsentrasi anggota partai yang masih duduk di jajaran pemerintahan sudah mulai terpecah. Ada agenda mendesak partai yang harus mereka jalani, ada roadshow ke daerah, ke rakyat dengan tujuan mengambil hati rakyat untuk memilihnya. Dari perjalanan itu banyak yang mengajarkan cara buruk dengan meninabobokkan masyarakat dengan janji-janji yang mengawang-awang, sementara saat terpilih janji itu menguap. Masyarakat mencatat, dan sudah terbiasa dengan janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Sekarang bagi masyarakat, jangan terburu-buru atau ojo kesusu kagum pada calon pemimpin yang sering nongol di televisi, mereka yang sering nampang di spanduk, atau billboard besar, atau termehek-mehek melihat tayangan mereka di media sosial. Lihat dulu siapa yang realistis memberikan harapan, sebab bagaimanapun nanti pemimpin terpilih akan menghadapi kendala bahwa tidak semua masyarakat suka dengannya. Selalu ada yang beda, selalu ada yang mempunyai mempunyai sudut pandang berbeda.Bahkan pemimpin yang sudah mendedikasikan untuk fokus kerja dan melayani, tetap mendapat hujatan,nyinyiran. Sebagus apapun pemimpinnya jika masyarakatnya masih belum dewasa dalam menanggapi masalah dan masih ada yang terjebak dalam isu-isu yang beredar di media sosial tetap ada pro kontra yang membuat “panas” situasi politik tanah air.

Kalau mau ada kesinambungan kebijakan pemerintah dari presiden satu ke presiden selanjutnya harus memilih pemimpin yang tidak mempunyai dendam politik, tidak mempunyai ego untuk menjegal atau menggantungkan proyek pemerintahan yang lalu kecuali proyek itu memang bermasalah dan harus ditinjau ulang.

Jadi sekali lagi menurut penulis amati dulu dinamika politik, ikuti jejak kinerjanya selama menjadi pejabat publik. Tidak ada pemimpin sempurna yang bisa memuaskan semua orang, cari saja yang terbaik dari yang terburuk.(kalau tidak ada yang benar-benar ideal).Salam damai selalu.

***