Tahta, Harta, Wanita: Tralala

Bagian paling mengherankan bagi saya, pada saat bersamaan si suami ini, tanpa merasa ada yang salah pada dirinya, justru berambisi maju sebagai calon presiden berikutnya. Menimbang dan menunggu partai untuk datang meminangnya.

Selasa, 21 Desember 2021 | 06:58 WIB
0
127
Tahta, Harta, Wanita: Tralala
Harta, tahta dan wanita (Foto: sahabatnews.net)

Hari-hari terakhir ini kita (eh saya minimal) dikepung suatu berita basi yang terus berulang. Berita yang sebenarnya kabar lama, yang sama sekali tidak ada nilai ke-baru-annya. Tampak bikin kaget, tapi sama sekali tak bikin takjub. Karena saking biasanya, sehingga hanya tampak seperti menonton hasil akhir skor pertandingan. Tanpa pernah benar-benar menonton acara pokoknya. Begitulah, hidup kita di hari ini semua hanya tampak seperti "pertunjukan bola", dimana yang penting adalah hasil akhirnya.

Menang kita soraki hasilnya, kalah kita rutuki semua pemeran yang terlibat di dalamnya. Seorang sahabat penah bercanda, "loe kan hanya pemain, gua pelatihnya. bisa apa loe?". Dia nyengir, saat saya bilang: "kamu cuma pelatih, saya pemilik klubnya. kuasa siapa dari kita?". Hal ini, bisa dibantah lagi bahwa ia adalah operator liga, bahwa mereka penguasa asosiasi, juga di titik paling absurdnya mereka akan bilang akulah sponsornya. Begitu terus, dimana ujungnya kita semua sekedar jadi penontonnya...

Yah kita lah si penonton abadi itu. Hanya sekedar bisa berkomentar, kadang memuji, tapi lebih sering mencaci maki. Lebih karena kita adalah komunitas manusia naif. Yang merasa selalu lebih, tanpa menyadari keserba-keterbatas-an kita. Sebab hanya pada posisi "penonton"-lah kita bisa memilih (seolah) jadi apa saja. Pemain, pelatih, pelatih klub, pemilik, operator liga, atau bahkan penguasa asosiasi. Kodrat penonton itu makin menguat dengan ketersdiaan sosial media. Apa boleh buat...

Lepas dari itu, saya hanya ingin mengungkap sedikit cerita bagaimana tiga kasus basi itu kembali menyeruak. Yang sialnya, dari sudut pandang saya. Akar masalahnya atau ashabul nuzulnya atau asal-usulnya kok ya ndilalah sama. Kok ndilalah lainnya, saya merasa sedikit banyak tersangkut silang sengkarut di dalamnya. Dari tempat yang sedikit banyak, saya sangat kenal dengan baik. Hanya karena saya pernah beberapa waktu di masa muda saya pernah tinggal.

Pertama, tentu kasus seorang ekstremis dalam bidang tahta. Seorang pasangan musisi cum politisi, yang kelakuannya sangat norak yang bikin muak. Seluruh episode hidupnya adalah prestasi yang dibantah atau dihancurkan sendiri oleh pilihan selera hidupnya yang buruk. Yang laki-laki walaupun, terlahir di kota S. Ia sesungguhnya hanyalah numpang tinggal. Ia laki-laki beruntung, menikahi seorang wanita cucu "guru bangsa". Dikarunia anak-anak ganteng, tapi dengan watak ringkih ala-ala milineal Selatan Jakarta.

Ia kemudian memilih, menikahi sang asisten si istri. Seorang mantan penyanyi pub di kota B, yang dengan sombong pernah menyebut dirinya sebagai "suami bersama". Setelah ia gagal berpolitik dan salah memilih teman maupun lawan. Ia justru dipenjara, karena menghina kota kelahirannya sendiri. Jauh sebelum itu, setelah bercerai si anak bungsunya membunuh penumpang satu mobil minivan. Hanya karena bandel ngebut dengan mobil sport kakaknya. Entah, jenis hukum apa yang ia beli hingga si anak terbebas dari hukuman. Lalu setelah bebas, hanya meneruskan episode hidupnya sebagai penjahat kambuhan...

Beberapa hari yang lalu, ia dengan keluarga barunya. Sepulang dari liburan luar negeri-nya yang tanpa empati itu. Ia justru menginjak-injak aturan hukum di negeri ini, dengan menolak di-karantina, dengan mengatas namakan dirinya sebagai pejabat negara. Alih-alih sembunyi, menutup rasa malunya. Si anak-beranak ini pamer kesombongan dengan jalan-jalan ke mall atau berlibur di rumah peristirahatan pribadinya. Inikah yang ia maksud dengan "karantina mandiri" itu?

Inilah bibit-bibit dari para ekstrimis "tahta". Belum lagi menjangkau cita-citanya sebagai presdiden negeri ini. Tapi kelakuannya, telah mencatatakan nasibnya di masa depan....

Kedua, si ekstrimis "harta". Mungkin, kalau ada orang yang paling pantas dikutuk dan didoakan punah oleh orang-orang yang dizaliminya mungkin dialah orangnya. Seorang yang memanfaatkan, segala persona yang dimilikinya melulu hanya untuk menipu orang lain sepanjang hidupnya. Ia adalah sejenis ustadz yang tampak cerdas memanfaatkan peluang dan kemungkinan. Ia tahu betul bagaimana memanfaatkan "psikologis orang kalah". Mendramatisasinya, seolah hanya Tuhan yang berhak menolongnya dan hanya dia yang bisa menjadi perantara jalannya.

Ia memposisikan diri tidak sebagaimana pendakwah lainnya yang "berbayar", ia mencitrakan dirinya sebagai satu-satunya pendakwah kondang yang mau datang gratisan. Tanpa pernah mau dibayar panitia. Tapi kemudian, justru merampok jauh, jauh lebih banyakl. Tidak hanya pada D-Day acaranya, tapi bahkan berlanjut setelahnya. Di hari ia berceramah, ia akan menggelar sorbannya untuk meminta apa saja dari orang-orang yang diperdayanya. Tidak hanya uang, tapi juga perhiasan yang melekat di tubuhnya, bahkan tak jarang ia meminta kendaraan pribadi yang dipakai "si manusia khilaf" itu untuk diberikan padanya.

Untuk apa? Ditukar dengan ganti sepuluh kali lipat dari Tuhan, yang entah bagaimana cara datangnya itu. Intinya hal itu apa yang ia sebut sebagai "The Power of Shodaqoh" atau "The Miracle of Sedekah". Atau apa pun: intinya lu jual, gua borong tanpa harus bayar balik....

Mungkin, dari coba-coba, ternyata bisa. Lalu dari sekedar menggelar sorban, lalu melebar pada bisnis ini-itu. Tak hanya pada jual beli remeh temeh semisal pulsa telpon atau token listrik. Tapi menjangkau mimpi-mimpi besar bagi hasil pembangunan apartemen, kapling tanah, bangun hotel, dan entah apalagi. Sebagian besar zonk, dan telah berjalan nyaris belasan tahun tanpa tindakan hukum. Bahkan testimoni dari banyak orang yang nyata-nyata merasa diperdayainya, tak menghentikan sepak terjangnya.

Beberasa saat ini, sudah muncul beberapa orang yang berani memperkarakannya ke pengadilan. Mungkin hanya sejumput pasir, ditengah lautan pasir yang berani melakukannya. Sebagian sangat besar memilih meratapi kebodohannya dan malu mengakuinya. Belakangan, ketika para ustadz radikal bergabung ke klub sebelah, ia memilih mendukung Jokowi. Sebuah jelaga hitam yang bikin malu. Karena motif dasarnya sangat kentara dan mudah ditebak!

Benang merah dari kelakuannya adalah nayris seluruh titik pusar bisnisnya terpusat di kota B ini. Tanya kenapa? Orang Jawa bilang: tumbu oleh tutup, cocok botol!

Ketiga, terkait masalah wanita. Dan yang ini ketelanjangan yang didiamkan sedemikian lama. Saya kehabisan kata, dan kehilangan nalar untuk mendeskripsikan ekstremitas kebiadabannya. Kalau mau memperdayai perempuan, mbok ya milih yang akil balik. Yang sudah matang organ maupun emosi seksualnya. Tapi ia memilih santriwatinya yang masih di bawah umur. Anak yang tidak saja butuh dituntun dan dilindunginya. Tidak hanya satu tapi lebih dari 21 yang berani melakukan pengakuan. Tak terkira berapa lainnya yang memilih diam dan menghilang.

Sesungguhnya, ia adalah persoalan paling biadab yang melebihi kelakuan binatang. Bahkan binatang, sekalipun tak kan tega memakan anaknya sendiri yang bahkan berdiri-pun masih tertatih. Bagaimana mungkin kita menjelaskannya dengan cara pemahaman yang berimbang. Bagaimana mungkin, ketika si anak kecil itu melahirkan, si anak kemudian disuruh mengemis meminta derma. Kata orang ia terlalu menang banyak, menangnya kebanyakan. Bagaimana sebuah komunitas, masyarakat, dan kota tidak sekedar membiarkannya. Bahkan terkesan tega melindunginya...

Si Ibu bekas-Walikota yang kemudian jadi Gubernur, bahkan disinyalir telah jauh hari mengetahui dan menerima pelaporan tentang kelakuannya. Tapi membiarkan dan memilih diam menunggu. Sesuatu yang kemudian dibantah oleh suaminya yang membelainya. Malah berlagak justru keduanyalah, yang pertama melaporkan. Walau fakta sesungguhnya, tak bisa menyembunyikan realitas bahwa mereka jugalah yang berusaha menutup-nutupi kasus ini.

Bagian paling mengherankan bagi saya, pada saat bersamaan si suami ini, tanpa merasa ada yang salah pada dirinya, justru berambisi maju sebagai calon presiden berikutnya. Menimbang dan menunggu partai untuk datang meminangnya.

Sekali lagi, benang merah peristiwa ini bagi saya sama: pusarannya bermula dari kota B. Si ekstremis tahta memang tak terkait langsung dengan kota ini, tapi ayah dan istri keduanya berasal dari sini. Dan sejak ia menikahi si perempuan itu, terkuaklah watak asli sebenarnya. Si esktremis harta, memang seorang dari kota J, tapi seluruh gerak penipuannya beranjak dari kota ini. Korban terbesarnya, dan menjelaskan kenapa gugatan terbesar terhadapnya juga berasal dari kota ini. Tentang si ekstremis kepada wanita, bukti apa lagi yang harus saya katakan?
Kota apakah si B itu? Burkina Faso!

NB: Burkina Faso adalah kota yang paling sering saya rindukan. Bapak-ibu dan adik-adik saya masih tinggal di kota ini. Ia meninggalkan kenangan masa muda yang sedemikian kaya dan penuh warna. Masyarakat yang ramah, toleran, dan tulus. Kota yang indah, damai, dan sejuk. Tapi itu pada masanya. Hingga negara api menguasainya, membunuh akar budaya dan masa lalunya. Memusuhi mereka yang tak sama dengan gagasan dan pilihannya.
Apakah saya masih merindukannya. Tak kerap lagi. Berkali saya mencoba singgah dan pulang kepadanya. Hanya tahan beberapa jam, untuk kemudian ingin segera pergi meninggalkannya lagi. Membawa pulang memori baik di dalamnya, sembari memanggul rasa sedih yang abadi. Ketiga peristiwa itu, makin menguatkan keyakinan saya, Indonesia tak akan berusia lama lagi. Kebusukan memang abadi akan lahir sepanjang masa. Tapi ketika orang-orang baik diam membiarkannya, bahkan berusaha keras melindunginya. Itu adalah isyarat tanda bahaya yang nyata!