Untuk Menjadi Orangtua yang Baik Tak Harus Jadi Presiden

Untuk menjadi orangtua yang baik tak harus jadi Presiden. Tak harus berkuasa. Toh orangtua yang beneran baik atau baik beneran, tetap akan dihormati yang muda.

Kamis, 13 Januari 2022 | 05:52 WIB
0
137
Untuk Menjadi Orangtua yang Baik Tak Harus Jadi Presiden
Bung Karno (Foto: Istimewa)

Kalau ngurusin orangtua, terutama para pecundang yang mengaku pemuja atau pengutuk Soeharto, yang masih bergentayangan di jaman kiwari, memang agak ngeselin. Kalau dalam budaya Jawa, ada istilah uwur-sembur, artinya ortu, ya, lebih dihormati karena pendapat, wawasan, atau nasihatnya.

Tapi kalau yang terjadi uwuh-sembur, atau hanya sampah yang disemburkan? Tentu saja, dalam kesadaran lingkungan jaman sekarang, sampah bukanlah hal jelek. Tapi kalau disuruh milih makan nasi-rendang atau sampah, mau organik atau pun an-organik? Saya tetap lebih memilih makan nasi-rendang. Toh trigiselawati dan angka kolesterol saya masih normal.

Berjuang untuk negara tak mengenal kata pensiun, begitu katanya. Itu mah alesan saja. Sepandai-pandainya orangtua memimpin, menggemaskan juga kalau dia boyoken, buyuten, gliyengan, terus akhirnya glayaran ngomong ngawur ke mana-mana.

Coba lihat rang-orangan seperti SBY, JK, Rizal Ramli, Amien Rais, ada juga Gatot Nurmantyo yang belum begitu tua tapi wajahnya boros. Rang-orangan ini, juga kelompok pendukung dan pemujanya, acap tak jelas apa sebetulnya nawaitu atau niatan mereka dengan jargon ‘tak kenal kata pensiun’ itu?

Apa bedanya dengan ilmu sedekah Yusuf Mansur yang manjur itu? Sampai Polisi pun terlihat culun, antara takut masuk neraka atau takut miskin. Sementara yang sering tak terjamah media, bagaimana di pelosok-pelosok Indonesia, anak-anak muda terus bekerja melakukan pendampingan. Menjadi inisiator perubahan, mengembangkan star-up, menggerakkan UMKM, menumbuhkan market-place, dan menggerakan perduitan nasional, bahkan internasional, ke desa-desa.

Perputaran ekonomi nasional, lebih didorong oleh anak-anak muda generasi baru ini, dengan media jejaring mereka. Bukan hanya dalam puluhan atau ratusan juta, melainkan tak sedikit yang mencapai puluhan milyar tiap bulannya.

Konektivitas dan kolaborasi menjadi kata-kunci, yang sebelumnya banyak dikunci oleh sistem perekonomian yang memusat, monopoli, mutlak-mutlakan, yang dikuasai oleh para senior citizen kita itu. Yang karena tak antisipatip dan adaptif, mereka kemudian menghina-dina yang Cuma jualan pisang, yang Cuma jualan martabak.

Padal, beberapa orang terkaya Indonesia, juga Cuma jualan rokok, jualan jamu, jualan mie. Karena tidak rela Presiden yang terpilih dulunya Cuma jualan meubel?

Terus penginnya sulapan, jualan bacot nyaingin penjual tahu bulat, yang Cuma 500-an. Dan selalu dadakan menggorengnya, karena takut tak laku dan membusuk?

Pantesan daripada uwuh-sembur orangtua, anak-anak muda kita lebih memilih anggur orangtua. Lebih setia dan tak banyak cakap. Tak sebagaimana Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Tak sebagaimana Habibie. Tak sebagaimana Emil Salim. Tak sebagaimana Buya Syafii. Padal, untuk menjadi orangtua yang baik tak harus jadi Presiden. Tak harus berkuasa. Toh orangtua yang beneran baik atau baik beneran, tetap akan dihormati yang muda.

Tak banyak orangtua yang menyadari kerentaannya. Parents wonder why the streams are bitter, when they themselves have poisoned the fountain, tulis John Locke. Orangtua bertanya-tanya mengapa sungai itu pahit, ketika mereka sendiri telah meracuni air mancur.

Ya, karena linglung, Mbah!

***