Jangan Sampai Capres 02 Menang, Ngeri, Lur!

Minggu, 13 Januari 2019 | 11:24 WIB
0
21561
Jangan Sampai Capres 02 Menang, Ngeri, Lur!
Ilustrasi pemimpin (Foto: Independensi)
Sejak mengenal sosok Jokowi, maka aku sudah jatuh hati, aku yakin dia orang baik. Menatap matanya membuat aku yakin pria berbadan kurus ini memiliki ketulusan, bahkan Megawati Soekarnoputri rela memberikan kursi kerjaannya untuk seorang petugas partai, dan enggak heran sih karena PDIP tak pernah membedakan hak kadernya, tak ada politik ekslusif didalam PDIP siapa yang mampu pasti akan maju jadi pemimpin.
 
Capres 02 dan Produksi Hoax
 
Sejak kemenangan Jokowi 2014 rasanya dendam anak buah Prabowo Subianto tak kunjung usai, Prabowo masih bisa menggandeng tangan Jokowi tapi anak buah Prabowo merasa tak senang. Sang Jendral yang grasak grusuk juga tak punya analisa tajam lagi sehingga apapun yang dibisikkan anak buahnya maka dia yakini saja. Entah sebuah bentuk ketakutan ditinggal anak buah atau memang Prabowo tak mampu lagi bergerak sendiri?
 
Dalam pidato Bu Mega terbuka rahasia kalau Pak Prabowo kangen nasi goreng buatan Bu Mega dan bahkan kembali Bu Mega menyebutkan anak buah Prabowolah yang membuat urusan menjadi mumet.
 
Bu Mega mumet dengan segala hoax yang disebarkan kubu 02, entah untuk apa semuanya. Mulai dari 2014 yang menuduh Capres 01 saat ini berbuat curang, lalu muncul analisa negara Indonesia akan punah, dan terakhir kubu 02 berusaha menggembosi KPU dengan tujuan mengacaukan pemilu dan anehnya mereka bahkan sudah berwacana memboikot pemilu, sebagai orang awam maka saya bertanya ehm kenapa ya segitu paniknya ?
 
Sebagai ibu rumah tangga yang hobi baca status para kampret maka jujur saya ngeri bila mereka menang, enggak kebayang aku akan masuk kembali ke era kegelapan, enggak kebayang keluarga cendana akan kembali berkuasa dan segala organisasi muslim yang merapat ke kubu 02 dengan maksud yang abu-abu dengan segala permasalahan yang mereka munculkan ke permukaan seperti kriminalisasi ulama dan larangan terhadap HTI sudah mereka share menjadi seolah semuanya salah rezim ini.
 
Pengikut Rizieq dan HTI Masih Ada, di Manakah Mereka?
 
Sudah jelas barisan sakit hati ini ada di pihak Capres 02, mereka merapat ke sana karena merasa tidak senang dengan pembubaran HTI, dan mereka tak lagi bisa mencium harum syurga dari telapak tangan ulama panutannya Habib Rizieq. Mereka ada dalam lingkaran 02, saat ini mereka mendukung dan yakinkah mereka tak meminta imbalan?
 
Sebagai emak-emak aja gue mikir, kalau anak tetiba menjadi baik gue aja curiga si anak ada maunya, lantas apakah yang dijanjikan kubu 02 kepada mereka? Atau apakah yang mereka sudah ajukan untuk siap menjadi barisan paling depan dalam membela keislaman Prabowo? Rasanya engak mungkin kalau hanya sebatas berangkat umroh gratis?
 
Jadi, kita harus waspada kepada barisan sakit hati ini karena bisa jadi mereka akan mendirikan impian mereka diatas negeri kita.
 
Pemimpin Pilihan Ulama
 
Bicara tentang Ulama, tentu di Indonesia banyak ulama dan menurutku ulama yang masuk televisi sudah kebanyakan bukan mikirin umat sih melainkan mikirin cari duit buat tujuannya, entah untuk memperluas pesantren, melancarkan dagangannya atau apapun dengan motif ekonomi dan ini sangat manusiawi, sah-sah saja.
 
Tapi ketika memilih pemimpin harus dengan dikte ulama rasanya ada yang salah. Apalagi ulama yang bersatu di 212 kebanyakan orasinya berbau kepentingan kelompoknya, dulu hanya karena Ahok nerjemahin ayat alqur'an kita maka satu Indonesia mengamuk.
 
Di sisi lain ketika Jokowi solat dan menjadi imam maka geng 212 ribut membredeli rakaat demi rakaat seolah benar adanya sebuah kesalahan. Namun di sisi lain para ulama ini sangat memaklumi ketika Prabowo salah mengucapkan SAW, memaklumi enggak bisa ngaji, malah bangga ketika ngaku enggak bisa sholat, aneh bukan?
 
Banyak Ulama Pensiun Dini dari Geng 212
 
Dalam suatu kesempatan Tuanku Guru Bajang (TGB) juga pernah mengaku bahwa beliau selaku ulama bersama ulama lainnya memang sempat menilai Jokowi adalah pemimpin yang bukan akan memihak ummat Islam, namun TGB beruntung karena beliau adalah Gubernur maka otomatis beliau bisa berkomunikasi secara langsung dengan Jokowi, dan dalam perjalannya TGB merasakan hatinya berkata lain tentang Jokowi.
 
Hal ini disampaikan juga kepada Ulama lainnya dan ternyata memang banyak yang sepaham dengan TGB namun tak semua ulama berani bersuara. Dan benar sih ya ges apa yang disampaikan Ali Bin Abi Thalib bahwa "Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik." 
 
Karena mengingat itulah TGB merasa harus bersuara menyampaikan bahwa Jokowi bukanlah seperti apa yang sudah sampai ketelinga para Ulama, namun banyak teman TGB yang memilih diam entah untuk apa?
 
Sebagai Alumni Al Azhar Mesir TGB punya tanggung jawab untuk menjaga persatuan ummat islam di Indonesia, Islam di Indonesia sangat beragam dan persatuan adalah kunci yang membuat ummat islam di Indonesia masih bisa saling menjaga maka sebelum persatuan terpecah belah TGB mengambil sikap untuk menyampaikan bahwa Jokowi adalah pemimpin yang baik.
 
Beberapa kali TGB menjadi makmun sholat ketika Jokowi menjadi Imam, bacaan surah Jokowi juga layak menjadi imam, yang suka komplain malah bukan makmum kan aneh ges!
 
Nah kalau ulama sudah bilang begitu maka aneh kalau ada ulama yang mengklaim Prabowo sebagai pemimpin yang islami, padahal Prabowo saja disuatu pertemuan pernah mengakui sebagai islam abangan, yah sholat enggak sholat ges.
 
Sejak TGB menyatakan sikap maka banyak juga ulama yang pensiun dini dari 212, bahkan setelah bertemu Presiden beberapa ustadz juga menjadi Alumni. Intinya 212 sekarang benar-benar diisi oleh ulama garis keras, dalam ceramah enggak segan memaki, dalam berorasi hanya bilang takbir tanpa dia mengucapkan "Allahu Akbar".
 
Pilihan ada pada kita, kalau aku jelas enggak akan memilih orang-orang yang mudah marah, orang-orang yang berbohong untuk menarik perhatian. Jangan sampai 02 menang karena bisa dibayangkan Indonesia akan mengalami kemunduran.
 
Ingat prens sejarah itu ritmenya berulang, jadi jangan sampai kita balik lagi ke zaman Pak Harto, 2019 harus jadi kebangkitan Indonesia dengan Jokowi Presidennya, dan waspada ges karena Ali bin Abi Thalib also said "Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir."
 
Rapatkan barisan coblos Jokowi - Ma'ruf , inshaallah aamiin...
 
***