Renungan di Tengah Merebaknya Kembali Kekerasan

Di tengah kita mengecam para pelaku tindak kekerasan, kita juga mengecam cara-cara tak hati-hati, tak transparan, dan terburu-buru dalam mengambil keputusan sangat penting.

Selasa, 13 Oktober 2020 | 17:27 WIB
0
16
Renungan di Tengah Merebaknya Kembali Kekerasan
Demo yang berujung kerusuhan (Foto: okezone.com)

Saat anda membaca catatan saya kali ini, mohon rendahkan emosi dan kedepankan hati. Saya berusaha ungkapkan sejujurnya melihat fenomena demonstrasi yang berujung pada tindakan kekerasan dan perusakan. Mohon bersabar sehingga anda dapat membaca uraian ini sampai habis. Bila anda berhenti membaca di tengah uraian ini, pasti anda tak utuh memahami apa yang saya maksud.

Untuk memulainya, mohon lihat video ini. Lihat awal dan akhirnya. Apa yang bisa kita petik dari pelajaran ini? Untuk memahaminya, kita coba dengan memahami sifat kerumunan expresif (angry/expressive crowd) sebagaimana terlihat pada video ini.

Tiap orang yang menjadi bagian kerumunan ini setidaknya mengalami tiga hal berikut:

1. Terjadi proses deindividualisasi. Nilai-nilai individu terbawa oleh emosi massa. Tokoh dominan yang berhasil mengendalikan psikologi massa dapat memprovokasi kemarahan dan mengarahkan perilaku "massa ikut-ikutan" (floating mass).

2. Terjadi penurunan derajat kehati-hatian (mereka mendadak menjadi pemberani di luar batas normal). Karena itu, aksi beringas mudah sekali terjadi.

3. Terjadi proses mudah ikutan. Satu teriak "lempar batu", yang lain cenderung ikutan.

Bila sejak awal kita fahami bahwa kerumunan ekspresif memiliki sifat seperti ini, maka tiap pengambilan keputusan penting yg menyangkut harkat hidup orang banyak dengan beragam kepentingan, harus mengikuti proses dengan penuh kehati-hatian. Para penentu kebijakan harus membuka dialog luas yang intensif dan tuntas. Waktu dalam mengambilan keputusannya juga harus tepat. Jangan tutup mata, tutup telinga dan tutup hati, Tanpa kehati-hatian, reaksi keras dapat muncul. Salah paham dan kecurigaan mudah terjadi.

Dan Demonstrasi bisa merebak, tak peduli masa Covid-19 atau tidak. Apalagi kita tahu, kelompok penunggang pada saat situasi politik saat ini bisa jadi ikut memanfaatkan. Agen kekerasan baik bermotif politik maupun semata-mata motif ekonomi, telah lama kita kenal keberadaanya.

Apa boleh buat. Saat ini reaksi keras telah terjadi. Aksi vandalisme muncul. Ini jelas harus disesali. Bahkan menurut saya harus dikecam karena ini bukan cara ekspresi yang patut. Perusakan fasilitas umum jelas melukai hati rakyat banyak dan merugikan diri sendiri.

Di zaman kolonial yang penuh penindasan terbuka saja, gerakan tanpa kekerasan bisa dilakukan. Mungkin tokoh gerakan seperti Mahatma Gandhi dari India perlu diperkenalkan kembali. Tokoh yang lahir di India 2 Oktober
1869 ini menginspirasi dunia karena gerakan Ahimsa (gerakan “tidak melukai” dan “cinta kasih”) atau gerakan tanpa
kekerasan yang didasarkan pada rasa cinta kasih kemanusiaan  untuk membebaskan rakyat India dari penjajahan Inggris.

Dalam bukunya, My Non-violence, Gandhi menjelaskan konsep ahimsa sebagai berikut:
“Tindakan tanpa kekerasan bukanlah persembunyian bagi  pengecut, melainkan bukti moral tertinggi bagi pemberani.

Pelatihan diri untuk tidak melakukan kekerasan membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada pelatihan untuk menjadi pendekar pedang. Sikap pengecut sama sekali tak sama dengan sikap tanpa kekerasan. Pengalihan keahlian pendekar pedang kepada tindakan tanpa kekerasan dimungkinkan dan, bahkan terkadang, menjadi sebuah tahapan mudah. Tindakan tanpa kekerasan, oleh karena itu, diibaratkan seperti kemampuan dalam menyerang. Ini merupakan sebuah kesadaran, kemauan menahan diri saat seseorang memiliki nafsu untuk membalas dendam.”

Kita memang perlu kreatifitas dalam mengungkapkan ekspresi. Apapun dan seperti apapun kemarahan membakar hati.

Namun, di satu sisi kita menyesali aksi kekerasan yang menunggangi aksi unjuk rasa, di pihak lain kita juga sesalkan pemicu awalnya. Kita harus ingatkan sekali lagi kepada para politisi di lembaga legislatif (DPR) maupun eksekitif agar dapat berpikiran jernih dalam melihat kondisi saat ini.

Pikiran dan hati yang peka dan bijak dalam menyikapi kondisi sosial politik saat ini sangat penting karena situasi masyarakat kita memang sedang sangat rentan. Sikap kurang sensitif, bisa jadi menjadi biang keladi terjadinya kesalah-pahaman, ketidak-puasan dan bahkan kerusuhan.

Jadi, di tengah kita mengecam para pelaku tindak kekerasan, kita juga mengecam cara-cara tak hati-hati, tak transparan, dan terburu-buru dalam mengambil keputusan sangat penting. "Setiap kali ada api besar, bukankah di sana selalu ada bensin yang tertumpah atau ditumpahkan?" Bangsa ini agaknya memilih jalan terjal dan sulit dalam menyusuri jalan ke depan.

Semoga kedamaian kembali terjadi. Semoga bangsa ini mampu menatap ke depan, dengan satu visi, satu hati.

#iPras2020