Rizieq dan Kejujuran

Antara Rizieq dan kejujuran, seperti minyak dengan air. Persis seperti politikus dengan kejujuran, meski berlatar kampus.

Sabtu, 28 November 2020 | 08:11 WIB
0
73
Rizieq dan Kejujuran
Silhuet Rizieq Shihab (Foto: cnnindonesia.com)

Bagi Rizieq, kejujuran agaknya barang yang susah dilakukan. Indikasinya, betapa mbulet untuk berbicara terang, sederhana, terbuka. Juga, pernyataannya acap tidak konsisten.

Ambil contoh kecil, ketika didatangi petugas Satgas Covid untuk test-swab, pihak Rizieq Shihab menolak. Alasannya, Rizieq baik-baik saja. Di Arab Saudi sebelum naik pesawat, sudah menjalani prosedur prokes. Tapi lawyernya bilang ke petugas Satgas Covid, Rizieq sudah menjalani test-swab dari lembaga lain.

Katanya pula, pemerintah tak perlu mengistimewakan Rizieq Shihab. Maksud pernyataan ini, bergaya merendah, padal merasa istimewa. Sebenarnya, sih, menolak karena takut. Bila-bila masa hasil test-swabnya nanti ternyata positif Covid. Bisa hancur minah. Makanya bikin pernyataan mbulet.

Siapa coba, yang mau mengistimewakan dia? Karena aturan prokes pandemi, berlaku sama untuk semua. Yang muncul dari pernyataan pihak Rizieq, bukan kesan rendah hati. Tapi justeru arogan, karena menolak test-swab. Padal, menolak karena takut. Emang cucu nabi Muhammad kek gitu? Saya cucu Nabi Adam, yang sanadnya lebih senior, biasa saja. Lha wong soal test-swab saja kok alesannya cem-macem. Itulah orang suka bikin plesetan, iman besar tapi imin kecil.

Padal, aturan PSBB secara nasional, yang baru datang dari luar negeri, wajib karantina 14 hari. Kalau baru datang langsung bikin kerumunan? Kasihan Doni Monardo, sampai kurus dan harus bilang 6 bulan dirinya tak pulang rumah. Eh, kini tahu-tahu, Rizieq dikabarkan masuk RS di Bogor. Masuk IGD. Tapi kata Walikota Bogor (ini jubir Rizieq yang baru atau gimana), juga keterangan pihak RS, bukan karena sakit. Karena kelelahan, katanya (25/11/2020).

Keterangan pihak RS, dalam cek awal, tidak diketemukan soal Covid. Sekali lagi kelelahan biasa. Dan dari pihak Rizieq, sudah mewanti-wanti, tidak menerima jengukan. Karena ingin istirahat. Lha, yang mau njenguk itu siapa? Anies? Atau JK? Tomi Soeharto? Rocky? Rocky Marciano?

Palingan cuma pemujanya. Apakah pemujanya banyak, seperti disinyalir JK? Pemujanya terkesan banyak, karena yang tak memuja Rizieq (yang jumlahnya jauh lebih banyak), lebih banyak diam. Mantranya; Gusti Allah ora sare! Tuhan tidak tidur. Sok tahu! Emangnya Gusti Allah suka begadangan? Clubing? Atau fesbukan di cafe?

Sesanti Gusti ora Sare, acap disertai dengan ‘slogan’ sing waras ngalah (yang normal, tidak gila, mending diam, mengalah). Karena, konon katanya, siapa yang salah bakal kalah (sing salah seleh). Mereka nggak ngerti, bukan hanya sejak jaman Hitler, hingga jaman Donald Trump, ditambah di Indonesia jaman Anies Baswedan bisa menyingkirkan Ahok.

Sejak kisah Nabi Adam dituturkan, sudah dimunculkan buah apel atau buah kuldi, ular, dan menurut kisah yang sexys itu, dihadirkan pula perempuan. Tanpa tiga unsur itu, Adam mungkin tetap di Sorga. Dan ‘manusia’ tidak pernah lahir di bumi.

Itu sekedar contoh, ‘how democracies die’ bukan hanya karena kepemimpinan otoriter. Tetapi juga karena demagogi, yang justeru dalam politik identitas acap dibangun dengan konsep agama. Apa itu demagogi? Tanya Mbah Kyai Google. Atau, kemenangan Hitler, Trump, Anies, mungkin bisa dijelaskan dengan baik oleh Eep Saefulloh Fatah. Asal di ruang tertutup, dengan kontrak yang jelas. Dalam kapasitasnya sebagai konsultan pemenangan pilkada atau pilpres. Dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Tapi, tak usahlah ngomong besar. Yang kecil saja. Soal protokol kesehatan dan Rizieq. Benarkah Rizieq baik-baik saja? Sehat? Tidak sakit? Emang psikolog sudah memeriksanya? Memang berat. Kini pihak kepolisian sudah menetapkan, kerumunan Rizieq di Bogor dan Petamburan, memenuhi unsur pidana. Kalau berhubungan dengan Polisi, Ahok lebih keren.

Memang bisa bikin puyeng. Manuver kepulangan Rizieq, dibuyarkan oleh (maaf), seorang janda bernama Nikita Mirzani. Sementara yang bernama Abu Janda, berkola-kali koak-kaok kagak mempan juga. Karena Abu Janda ini janda palsu. Tak sebagaimana janda lain lagi, yang bernama Firza Husein. Apakah Nikita bisa membuat Rizieq kabur, sebagaimana ketika Rizieq dulu berurusan dengan Firza?

Mungkin tidak. Tetapi Jokowi pasti senang punya mainan baru. Yang akan dia pakai sebagai killing time, sewaktu-waktu. Di situ bekas akademisi yang jadi politikus, macam Rachland Nasidik, bisa salah membaca. Jokowi yang cuma ‘sekadar’ baca komik, bisa lebih cergas dibanding yang membaca tulisan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dari Harvard.

Antara Rizieq dan kejujuran, seperti minyak dengan air. Persis seperti politikus dengan kejujuran, meski berlatar kampus. Hingga Fadli Zon sampai hari ini, belum juga komentar soal Edhy Prabowo. Kecuali terus mendesak Pak Jendral Dudung Abdurrahman dicopot dari posisi Pangdam Jaya, karena ngomong mau mbubarin FPI.

Dan dalam politik, jalan keluar itu bisa jadi jalan kebuntuan. Tergantung pada centelan.

***