Menjawab TGB [Bagian 1]

Rabu, 20 Februari 2019 | 16:20 WIB
0
566
Menjawab TGB [Bagian 1]
Tuan Guru Bajang (Foto: Derik.com)

Warga kampung sebelah dan orang-orang yang mengaku netral satu suara soal TGB (Tuan Guru Bajang). Telunjuk nyinyir mereka diarahkan ke kampung sini. Mereka bilang, kenapa kalian dulu memuji TGB, sekarang bersikap sebaliknya?

Jawaban balik dengan pertanyaan, kalau kalian punya mantan, kenapa sekarang yang dipuji adalah kekasih yang sekarang? Sebagai contoh, BTP memuji calon istrinya pintar masak, beda dengan mantan istrinya yang tidak pintar masak. Pernyataan BTP itu menuai protes dari adiknya dan sejumlah pendukung BPT wabil khusus kaum hawa.

Atau begini. Kalau kita memuji pembantu yang rajin bekerja lagi jujur, lalu karena pembantu kita jatuh cinta pada Satpam komplek, kerjanya jadi nggak bener lagi nggak jujur, apakah kita masih memujinya sebagai pembantu yang baik?

Perubahan perilaku seseorang akan diikuti oleh penilalain orang lain. Hal itu wajar saja.

TGB dulu tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. Keberhasilan memimpin NTB 2 periode sudah tidak diragukan lagi. Kalau ada yang meragukan, bahkan ada yang menghina dan menihilkan prestasinya, pastilah itu kampung sebelah. Silakan cek jejak digitalnya.

Sebagai alumni Mesir, keulamaannya pasti tidak diragukan lagi. Dia ceramah ke sana kemari. Sedikit bicara politik, banyak bicara soal agama. Perpaduan kecakapan di pemerintahan dan ahli ilmu agama inilah yang menjadikan TGB sebagai sosok ideal sebagai pemimpin masa depan.

Elektabilitasnya mulai nampak karena dukungan mayoritas kampung sini yang rindu pada kepemimpinan model TGB. Perlahan tapi pasti, elektabilitasnya mulai merangkak naik. Padahal TGB minim sekali bicara soal politik, lebih banyak bicara soal agama.

Ketika TGB mulai bicara politik, para pendukungnya menunggu dengan tegang. Kemana arah politiknya dilabuhkan? Setelah terus terang TGB menyatakan dukungannya pada Capres yang bukan pilihan para pendukungnya, serta merta elektabilitasnya terjun bebas.

Tapi para mantan pendukungnya tetap menghormati TGB sebagai seorang ulama. Karena waktu itu TGB masih lebih banyak bicara soal agama ketimbang politik. Masih ceramah ke sana kemari. Kalau ada satu dua para mantan pendukungnya yang marah, kebablasan memaki TGB yang lebih kental keulamaannya ketimbang sebagai politisi, ya karena tidak semua orang punya pengalaman hidup memuliakan ulama.

Sampai disini, saya mau kasih perbandingan mutakhir. Beberapa bulan lalu, Presiden Jokowi dan para pendukungnya memuji habis Bukalapak. Cukup dengan satu kicauan pendek boss Bukalapak, keadaan berbalik 180 derajat. Para pendukung Jokowi berusaha menenggelamkan Bukalapak dengan tagar uninstall Bakalapak. Imbauan Presiden Jokowi agar para pendukungnya menginstall ulang Bukalapak tidak didengarkan oleh pendukungnya. Mereka sudah telanjur sakit hati dengan kicauan boss Bukalapak.

Pertanyaan buat orang-orang yang mengaku netral. Perubahan sikap kedua kubu pada TGB, kenapa yang disasar hanya satu kubu saja? Kenapa tidak juga ditanyakan pertanyaan yang sama kepada kubu yang dulu nyinyir pada TGB sekarang berbalik memuji TGB?

Pertanyaan yang sama pada warga kampung sebelah, kenapa usil mempertanyakan sikap kampung tetangga yang balik arah dukungan pada TGB? Kenapa tidak bertanya pada tetangga dekatnya yang juga mendadak memuji TGB?

Dua bulan terakhir ini, TGB sudah menjadi politisi murni tanpa campuran. TGB telah menjelma menjadi sosok politisi sejati. Tercermin dari pernyataan pernyataan mutahirnya. Makanya tulisan ini dibuat. Mengkritisi politisi bukan pekerjaan durhaka.

Setelah acara debat antar Capres episode dua, ada “debat” lanjutan antar timses mendebat soal debat Capres. TGB tampil sebagai juru bicara kubu Jokowi. Berbeda dengan debat sebelumnya, kali ini sejumlah media online sepakat membandingkan dengan cepat ucapan dua Capres yang berdebat dengan data dan fakta yang sebenarnya, dengan cara menginformasikan setiap sesi debat.

Dari sejumlah fakta yang dibongkar oleh media online, tertulis dengan jelas sejumlah data yang tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh Capres Jokowi. Media tidak menyebutnya sebagai kebohongan, tapi hanya bilang, tidak sesuai fakta. Tapi bagi kubu oposisi tentu saja lebih tajam, mereka menyebutnya sebagai kebohongan.

Sebagai juru bicara kubu Jokowi, TGB tentu saja harus membela apa yang disebut oleh kubu oposisi sebagai kebohongan. Membela kebohongan sudah menjadi sifat dasar politisi sejati. Membela kebohongan dalam konteks ini bukan berarti membela kebohongan, tapi meluruskan kebohongan menjadi seolah bukan kebohongan.

Misalnya ketika dulu Prabowo mengatakan, Malaysia lebih besar dari Jawa Tengah, kubu petahana menuduh Prabowo berbohong. Tapi kubu Prabowo membela dengan meluruskan, yang dimaksud bukan luas wilayah, tapi jumlah penduduk.

Ucapan politisi tidak bisa diartikan verbatim. Tidak ada lagi kebakaran hutan tidak bisa diartikan tidak ada kebakaran hutan, tapi bisa berarti penurunan kebakaran hutan. Tidak ada lagi konflik agraria tidak bisa diartikan tidak ada konflik agraria, tapi bisa bermakna ganti untung.

Bingung? Jangan bingung kalau berhadapan dengan politisi murni. Begitulah bahasa TGB sekarang. Dia seolah menjadi juru tafsir ucapan verbatim Capres Jokowi. Dia tidak peduli pada sejumlah media yang membongkar sejumlah kebohongan data yang diucapkan Jokowi, pokoknya bagi TGB Capres jokowi dalam debat ini menyampaikan argumennya dengan gaya bicara yang singkat, tegas, lugas, dan jernih.

Dengan modal pengetahuan mutakhir soal TGB ini, saya mau menengok sejenak ke belakang beberapa pernyataan TGB. TGB pernah memuji Presiden Jokowi sangat perhatian pada NTB sampai beberapa kali mengunjungi NTB padahal pada Pilpres 2014 Jokowi kalah telak di NTB.

Itu sebagai bukti bahwa Presiden Jokowi sama sekali tidak sedang bekerja untuk elektoral. Jawabannya mudah saja. Bagi politisi, daerah yang dulu kalah harus diberi perhatian lebih. Sesederhana itu jawabannya. Masa sih nggak paham?

Kalau belakangan ini duet UYM dan TGB sedang gencar memuji keislaman Jokowi, itu sih hal biasa dalam setiap pilpres. Dulu ketika di NTB Jokowi menjadi imam shalat maghrib, TGB ditanya soal bacaan sholat Jokowi, TGB menjawab diplomatis, “ Bacaannya terang.“ Padahal kriteria “terang” tidak dikenal dalam menilai bacaan sholat. Tapi sudahlah, memuji Capres yang didukung adalah wajar saja. Hak segala para pendukung.

Beda lagi Kalau sudah merembet menyinggung pada lawan politik. Harus dijawab tuntas. Dalam sebuah pidatonya yang diunggah di Youtube, TGB bukan cuma memuji Jokowi, tapi menyinggung sikap para pendukung Prabowo dari soal HRS, soal kebebasan beribadah, dan soal lainnya.

Tapi tulisan ini sudah cukup panjang, bisa bikin mata berkunang-kunang. Tunggu saja soal dan jawabannya pada bagian kedua.

(Bersambung)

***