Minus Pahlawan

Rabu, 6 Maret 2019 | 22:34 WIB
0
511
Minus Pahlawan
Andi Arief (Foto: Harian Singgalang)

Resiko berdiri di tengah bisa jadi incaran kanan kiri depan belakang. Partai Demokrat yang pada Pilpres 2014 berdiri di tengah hidupnya tidak pernah merasa tenang. Ada saja gangguan mendadak. Ada demo mahasiswa yang nyasar ke rumah SBY. Niatnya mau demo ke gedung DPR, tapi kok nyampenya ke rumah SBY.

Ya, semacam gangguan aneh dari para mahluk aneh seperti itu. Terlebih saat AHY nyagub. Beberapa saat jelang pencoblosan, mendadak muncul Antasari Azhar yang bikin SBY meradang.

Walaupun sekarang Partai Demokrat mau tidak mau dipaksa oleh undang-undang harus bergabung ke salah satu koalisi, tapi jiwa netralnya masih belum sepenuhnya hilang. Pidato politik AHY yang mewakili ayahnya kemarin, jadi ajang pencitraan kubu 01.

Dalam pidatonya AHY sama sekali tidak menyebut nama Prabowo. AHY malah menyebut dua Capres yang diminta melanjutkan program SBY. Tentu saja yang paling berbahagia adalah kubu 01. Walaupun kader Partai Demokrat di tubuh timses Prabowo cukup galak membela Prabowo, tapi tetap saja patokannya adalah AHY dan SBY.

Setelah pidato AHY, Partai Demokrat dipuji habis oleh kubu 01.Bukan hanya memuji, tapi juga ngeledek kubu 02 yang seolah ditinggalkan Partai Demokrat. Tapi pujian itu tidak berlangsung lama, hanya hitungan hari, mendadak kubu 01 seolah tidak mengenal Partai Demokat setelah Andi Areif ditangkap polisi gara-gara nyabu.

Kubu 01 menyemburkan tagar 02 nyabu. Seolah ingin mengatakan, Andi Arief dan Partai Demokrat adalah pendukung utama 02. Walaupun Andi Arief tidak terdaftar dalam timses 02, tapi kan Partai Demokrat sekutu utama kubu 02. Mereka lupa, baru saja beberapa hari mereka joget-joget sampai kejengkang, sambil ngeledek, weeeee kubu 02 dicuekin Partai Demokrat…

Ini bukan kali pertama kubu 01 bertingkah seperti itu. Sewaktu Andi Arief mencuit uang mahar dan jenderal kardus, segala cuitan Andi Arief oleh kubu 01 dianggap sebagai kebenaran. Setiap hari mereka menunggu dalil-dalil baru Andi Arief yang dianggap dalil shahih walaupun termasuk dalil ahad. Pokoknya apa yang didalilkan Andi sudah pasti fakta. Kan Andi orang dalam koalisi 02.

Keadaan berubah 180 derajat setelah Andi Arief mencuit soal kertas suara tercoblos satu container. Dalil Andi tidak lagi dianggap shahih, tapi dalil munkar. Bukan lagi dalil ahad, tapi dalil mutawatir, dalil gerombolan kubu 02. Nggak peduli, walaupun hanya seorang Andi yang mencuit tapi kan Andi kader Partai Demokrat yang sekoalisi di kubu 02. Nggak mungkin Andi berani sendirian menuduh, pasti sudah dibicarakan di koalisi 02 yang sengaja ingin mendelegitimasi KPU ! Setiap bicara isu surat suara tercoblos, seluruh telunjuk kubu 01 diarahkan ke kubu 02.

Entahlah. Apakah karena kubu 01 minus pahlawan hingga meminjam mulut Andi untuk menyembur kubu 02. Pernah sekali kubu 01 mencoba mencitrakan junjungannya sebagai super hero Superman yang akan mengalahkan Darkside, seteru utamanya. Tapi sayangnya usaha pencitraan itu gagal. Jadilah mencari pahlawan dari luar kubunya. Andi Arief terkadang dijadikan Batman, terkadang dijadikan Joker.

Terlalu banyak pahlawan di kubu 02 yang bikin kubu 01 pusing 13 keliling. Menghadapi seorang Rocky Gerung saja sudah bikin senewen. Rocky dilarang bicara di berbagai tempat, tapi tetap tidak bisa membungkam mulut Rocky. Rocky diincar kelemahannya, dilaporkan ke polisi dengan tuduhan menista agama. Juga gagal membendung Rocky. Latar belakang pendidikan dan Agama Rocky dibedah sampai serpihan terkecil. Masih tetap gagal.

Cari cara lain. Mau tidak mau,suka atau tidak suka, percaya tidak percaya, UAS dan AA Gym jamaahnya selalu meluber sampai tumpah kemana-mana, terkesan di publik berada di kubu 02. Walaupun UAS dan AA Gym tidak pernah terang-terangan berpihak ke kubu 02, tapi fakta membuktikan, jamaah UAS dan AA Gym mayoritas mendukung 02. Misalnya, dalam satu ceramah UAS mengatakan, “ Persatuan umat nomor satu…” Langsung disambar jamaah, “Pilihan nomor duaaa…” UAS cuma tersipu sambil bercanda mengingatkan jamaah agar hati-hati ada Panwaslu, ada Bawaslu.

Tentu saja jumlah kepala sama dengan jumlah suara. Menarik UAS dan AA Gym ke kubu 01 bisa jadi berkah suara yang bernilai sebongkah berlian. Adalah Rohamurmuzy yang akrab disapa Romi, sebagaimana diberitakan di berbagai media, bertugas menarik UAS dan AA Gym ke kubu 01. Target minimal, UAS dan AA Gym tidak terang-terangan berpihak ke kubu Prabowo.

Entah bagaimana ceritanya, Romi sesumbar kalau misi target minimalnya berhasil. AA Gym disebut sudah mulai “ke tengah.“ Baru saja Romi bilang begitu, AA Gym mengeritik gubernur yang bukan bekerja untuk rakyat, tapi malah sibuk mengkampanyekan salah satu Capres. Gagal lagi deh, Rom.

Kalau UAS, dia memang ingin berdiri di atas semua golongan. Jadi Romi nggak perlu repot-repot minta UAS ke tengah. Cuma jejak digital UAS yang mengatakan soal pilihan politik akan ikut pilahan HRS, belum diuninstall.

Masih banyak pahlawan, atau katakanlah mascot kubu 02. Kalaupun misalnya ada yang menyeberang, bisa dipastikan kekuatannya sudah dilucuti, karena kekuatan pahlawan dalam bidang ini adalah para pendukung. Jika para pendukungnya nggak mau ikut menyeberang, ya sama saja baju kepahlawanannya tertinggal. Gicuuuuu…

***