Ma’ruf Amin  Blunder bagi Jokowi?

Sabtu, 19 Januari 2019 | 21:45 WIB
0
59
Ma’ruf Amin  Blunder bagi Jokowi?
Ma'ruf Amin (Foto: Nahimunkar.com)

Pemilihan bakal calon wakil presiden sudah berlangsung tahun lalu. Usai debat pertama kemarin, mulai muncul riak-riak lagi mengapa bukan Mahfud MD, atau mulai membahas istri Pak Kyai. Ya wajar saja namanya juga orang kecewa dan tidak terjawab ekspektasinya. Ungkapan kecewa yang wajar, namanya juga manusia yang berpolitik.

Porsi bicara dan gaya mendukung capres pasangan pun jadi sorotan, banyak lah isu-isu dan othak-athik gathuk yang muncul seputaran sosok wakil presiden ini. Apalagi jika diperbandingkan dengan kubu satunya yang memang bertolak belakang secara banyak segi. Wajar untuk menggaet pemilih yang bisa diraih dengan membandingkan sosok. Masih wajar lagi-lagi namanya demokrasi.

Jokowi dan koalisi memilih Pak Kyai memang sebuah blunder. Bagaimana tidak, koalisi satunya masih tarik ulur, menggembor-gemborkan ulama, eh malah keduluan rombongan Jokowi. Susahnya mereka mau memainkan isu antiislam atau kriminalisasi ulama. Padahal itu jualan paling murah meriah. Tanpa gembar-gembor rekomendasi dari ulama mereka memasang ulama pada posisi yang tertinggi.

Blunder kedua, suara NU sangat signifikan di dalam pemilu. Mau menggunakan hoax, ala luar asing itu, toh kalah dengan kekuatan dan kharisma kyai kampung yang tidak ada bandingannya. Google pun kalah pamor dan wibawa di hadapan kyai yang bukan kyai televisi dengan dandanan mewah, mobil sport, dan bayaran nol banyak itu. ulama yang mengaji setiap saat, memuji Allah dalam hati, bukan untuk dipuji dan digaji.

Nah potensi ini diserobot yang awalnya mereka sudah melihat itu sebagai sebuah durian runtuh, eh ternyata yang mengelola kebun duren datang dan memanennya. Siapa tidak jengkel coba?

Blunder ketiga, daerah basis kekalahan periode 2014 memegang teguh suara kyai, Madura, Banten, Sumbar. Memang susah untuk membalik jadi menang, tetapi dengan pendekatan ini, toh bisa diharapkan menipiskan margin selisih perolehan suara.

Keempat, pemilih itu ada dominasi kaum milinial katanya, toh masih memilih yang sepuh. Lha ini timur lho, Indonesia lagi, anak masih ikut kata orang tua. Nah orang tua ikut kata sesepuh, kyai, dan ulama, toh tidak akan berbeda. Beda dengan barat di mana anak muda sangat mandiri dan lepas dari pengaruh siapapun.

Kelima, lha kandidat presiden antiislam, pelaku kriminalisasi ulama, eh malah memilih ulama, piye jal mau mem-bully-nya? Kan susah, merepotkan saja. Jadi perlu belajar lagi menemukan isu yang bisa menjual sama besar dampaknya.

Padahal mereka mau mengamnil ulama. Lha ulama mana yang bisa menyaingi ketua MUI dan pejabat NU lagi. Semua kalah kelas, tidak heran mendadak santri bisa tercipta. Kesulitan ganda menganga di depan mata. Mau apapun serba salah, silamakama malah ikut anak segala yang bisa jadi korban.

Keenam, eh antiulama, toh membebaskan ulama terpidana terorisme. Sedikit banyak atas masukan Pak Kyai dan Yusril sebagai pengacara lah. Susah melihat tidak ada peran mereka di dalam memberikan nasihat baik hukum, politis, pemahaman agama, dan juga paling penting humaniora kepada presiden.

Ketujuh, posisi ini membuat timses tidak sibuk klarifikasi dan mendukung dengan bingung, semua sudah berjalan pada rel yang semestinya. Semua berjalan sesuai skenario, tidak perlu meluruskan barang lurus bukan? Nah itu keuntungan besar.

Nah blunder-blunder itu malah sangat membantu, kalau pemain bulutangkis, netting tipis dan masuk lapangan lawan, dan point penting. Belum usai, tapi signifikan memberikan pukulan telak mental lawan.

Nah dengan pilihan cerdik demikian, kematangan berpolitik seperti itu, bandingkan kubu lain yang bluder demi blunder. Blunder yang membuat riebt dan riuh rendah antara cemoohan dan dukungan prihatin.

Memilih blunder yang cerdik bukan yang receh dan malah menghabiskan banyak energi untuk menambal kesalahan itu. Ini identik dengan eksekutor pinalti yang betingkah, eh melambung tendangannya, padahal dengan satu gol itu bisa membawa pada putaran berikut. Gol detik terakhir gagal.

Posisi Pak Kyai ini lah yang melahirkan salah tembak dari kubu sebelah. Konsentrasi mereka pada pihak lain, militer akan diserbu dengan mudah karena kubu militer juga. Kau Mahfud akan diserang soal antiagama, meskipun agamanya sama. Toh dengan Pak JK sebagai ketua dewan masjid, ungkapan itu masih lantang.

Kesalahan sendiri kubu 02 karena bingung adanya Kyai Ma’ruf di sana. Mau kasar jelas takut kualat dan ditinggalkan pendukung yang potensial. Diam jelas fatal karena tidak akan terdengar. Serba salah. Dulu salawi, serba salah Jokowi, kini berbalik rupanya.

Netting itu hanya ada dua, keberuntungan, atau hasil dan buah kerja keras. Melihat rekam jejaknya kog ini karena kerja keras dan kerja cerdas selama ini. keberuntungan itu tidak ada, namun rencana Tuha ikut di dalamnya, sebagai unsur orang beriman dan memiliki Pancasila.

Siapa yang meninggalkan ulama, ingat bukan semata klaim, atau dekat fisik, namun secara hati dan personal, bersama Tuhan di dalam rencana hidupnya akan mendapatkan jalan terbaik. Mudah memang merasa dekat dengan Tuhan dan ulama, namun apakah berbuah? Itu penting.

Salam.

***