Bagi GAR ITB mungkin tindakan Din Syamsudin kepada Presiden RI selama ini juga mengada-ada, tepatnya radikal.
Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah tengah mempersiapkan langkah hukum merespons tindakan kelompok Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB (GAR ITB) yang telah mengusik Din Syamsuddin. Mereka marah karena Din Syamsuddin adalah mantan ketua umum mereka, yaitu PP Muhammadiyah periode 2005-2015.
Hal ini terkait dengan tindakan GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) atas tuduhan radikalisme.
Saya bisa mengerti jika mereka marah. Namanya juga bekas pimpinan mereka dituding radikal ya marah dong.
Baca Juga: Benarkah Din Syamsuddin Tercatat sebagai Teroris?
Saya juga bisa mengerti JIKA SEANDAINYA organisasi kepemudaan Golkar, dari Barisan Muda Kosgoro 1957, Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Gema MKGR), Baladhika Karya, serta Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) marah dan menantang siapa saja yang coba-coba menuntut Abu Rizal Bakri dan menuduhnya radikal atau apa pun.
Namanya juga mantan pimpinan Umum mereka. Marwahnya harus dijaga dong! Siapa lagi yang akan menjaga marwah pimpinan atau pun mantan pimpinan jika bukan anggotanya. Iya kan...?!
Dengan logika semacam ini maka MAU TIDAK MAU saya juga harus memahami mengapa GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) atas tuduhan radikalisme. Bagi mereka Din Syamsudin telah mengusik pimpinan mereka. Bukan...!
Yang diusik bukan pimpinan kampus mereka atau alumni top mereka seperti Habibie umpamanya. Ini lebih tinggi lagi, yaitu Pimpinan Negara mereka, alias Presiden RI yang sampai hari ini masih menjabat.
Bagi mereka tindakan Din Syamsudin selama ini mengusik dan melecehkan Jokowi sebagai pimpinan negara Republik Indonesia di mana GAR ITB adalah sebagai warganya. Jika warga Indonesia merasa terusik jika Presiden mereka yang mereka cintai diganggu, dilecehkan, atau dihujat bukankah itu wajar belaka?
Bagi Pemuda Muhammadiyah tindakan GAR ITB yang melayangkan tuduhan radikal yang dialamatkan terhadap Din Syamsuddin merupakan hal yang mengada ada.
"Langkah kelompok GAR ITB itu dapat memicu kemarahan warga Muhammadiyah secara keseluruhan," kata Razikin yang juga mantan ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Bagi GAR ITB mungkin tindakan Din Syamsudin kepada Presiden RI selama ini juga mengada-ada, tepatnya radikal.
Meski demikian saya berharap pimpinan GAR ITB tidak perlu membalas pernyataan pimpinan Pemuda Muhammadiyah dengan ucapan, "Langkah Din Syamsudin itu dapat memicu kemarahan warga Indonesia secara keseluruhan."
Jadi bagaimana kelanjutan dari konflik antara GAR ITB dengan Pemuda Muhammadiyah ini?
Ya kita nikmati sajalah sambil ngopi-ngopi. Let them settle their own problem.
Balikpapan, 16 Februari 2021
Satria Dharma
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews