“Tutupi” Aib, China Bakal Eksekusi Massal Pasien Corona!

Sabtu, 15 Februari 2020 | 11:55 WIB
0
1127
“Tutupi” Aib, China Bakal Eksekusi Massal Pasien Corona!
Pengusaha China di Amerika Serikat, Miles Guo, bicara soal korban virus corona. (Foto: Swamedium.com)

Akibat wabah Virus Corona yang melanda negerinya, China sekarang ini benar-benar panik! Upaya mencegah meluasnya serangan virus corona yang oleh WHO dinamai dengan COVID (CO*rona *V*irus dengan *ID*entitas muncul pada 20*19 itu gagal.

Saking paniknya, Pemerintah China sampai perlu meminta fatwa kepada Mahkamah Agung memberikan persetujuan untuk Pembunuhan Massal Pasien Corona Virus di China sebagai cara yang pasti untuk mengendalikan penyebaran virus mematikan.

Tampaknya, MA China telah “mengizinkan” adanya pembunuhan massal atas pasien yang terinfeksi virus corona. Jika benar, maka video penembakan yang diduga dilakukan aparat keamanan China yang viral di medsos, adalah hasil Fatwa MA itu.

Sebelumnya memang diberitakan oleh koresponden lokal, China meminta persetujuan MA untuk membunuh lebih dari 20.000 pasien virus corona guna menghindari penyebaran virus lebih lanjut.

Alasan yang diajukan ke MA, China hampir kehilangan pekerja kesehatannya karena virus corona. Setidaknya, setiap harinya sebanyak 20 petugas kesehatan tertular virus corona ini. 

China berpendapat bahwa pasien virus corona yang dirawat di RS hanya memiliki kematian yang tertunda dan menginfeksi banyak orang lain saat menerima perawatan medis di RS-RS.

China telah dikritik karena pelanggaran HAM dan organisasi mempertanyakan pendekatan China dalam menangani wabah virus corona dan diyakini negara itu telah membunuh banyak pasien virus coronanya.

Dalam sebuah dokumen yang diajukan ke MA disebutkan, China dapat kehilangan seluruh warganya jika beberapa pasien yang terkena dampak tidak mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Pekerja Kesehatan dan Satu Miliar lainnya.

Karena tak ada harapan yang terlihat dalam perang melawan virus ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, perlu $1 miliar untuk memerangi virus corona di Luar China.

Negara-negara di seluruh dunia mulai memutuskan hubungannya dengan China dan menarik warganya keluar dari wilayah Hubei yang dilanda krisis, tempat virus itu muncul pertama kali di Kota Wuhan.

Tiga belas kasus di seluruh dunia telah mengkonfirmasi bahwa virus corona menyebar dari orang ke orang di luar China diantara orang-orang yang belum mengunjungi negara tersebut.

Pemimpin Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, dalam jumpa persnya mengatakan, Hongkong akan menghentikan semua Kereta Api dan Feri berkecepatan Tinggi ke Daratan, mengurangi separuh Jumlah Penerbangan dan berhenti memberikan Visa kepada Pengunjung dari China.

WHO sendiri telah meminta seluruh negara di dunia menjadikan virus corona yang sekarang dinamai COVID-19 sebagai musuh utama negara nomor 1 (public enemy number one).

Ketika WHO memberi nama baru itu, otoritas China juga mengumumkan metode baru yang membuat angka warga yang terinjeksi COVID-19 berubah drastis.

Tercatat, pada Rabu (12/02/2020), mereka yang terdeteksi COVID-19 bertambah menjadi 14.840 kasus di Provinsi Hubei dalam sehari, sehingga total warga negara China menjadi 58,805 kasus COVID-19.

Angka kematian pun tiba-tiba bertambah 242 kematian dalam satu hari, sehingga total korban jiwa COVID-19 adalah 1.367 orang. Bahkan, hingga tulisan ini dibuat, total kotban jiwanya sudah mencapai angka 1.500 orang.

Kenaikan tajam tersebut mengindikasikan betapa sulitnya para petugas medis China untuk mengukur luasnya virus corona khususnya di pusat epicenternya di Wuhan di mana ribuan orang sakit tanpa di tes atas sakitnya.

Dihadapkan dengan banyaknya orang yang memiliki gejala serupa dan tidak mudahnya untuk menguji mereka membuat otoritas China mengubah cara bagaimana COVID-19 diidentifikasi oleh petugas medis.

RS di Wuhan, kota terbesar di Provinsi Hubei dan pusat epicentrum bencana harus berjuang dengan test yang kompleks dan susah untuk mendeteksi tanda genetik virus secara langsung, termasuk Indonesia masih kesulitan mendeteksi tanda genetik virus dari si pasien.

Dus, akhirnya, otoritas china memutuskan mengubah metode dengan melakukan diagnosa menggunakan rontgen paru (lung scans) daripada mencari tanda genetik virusnya (virus genetic signature).

Metode baru tersebut mempermudah pasien untuk segera mendapat pengobatan dan membuat otoritas dengan cepat memutuskan bagaimana alokasi sumber daya ditempatkan, kata petugas medis Hubei.

Pertanyaannya, apakah otoritas medis disana telah memiliki perlengkapan yang cukup. Ahli lainnya mengkritik, metode lung scan tidak sempurna untuk mendeteksi keberadaan COVID-19 karena pasien biasa dengan flu musiman dapat terlihat gangguan paru dalam lung scans.

Banyak media, baik di dalam maupun luar China mengkritik informasi otoritas China tidak lengkap. Tidak seperti MERS dan SARS, COVID-19 ini adalah virus yang sangat mudah menular, namun tidak cukup tinggi untuk menyebabkan kematian.

Ini yang menyebabkan Dr Tedros, Managing Directure WHO menyatakan bahwa epidemik COVID-19 seperti puncak gunung es, cangkupan luasnya virus ini terletak di bawah laut yang tidak diketahui seberapa besar dari puncaknya.

Jika begitu adanya, publik harus diberi edukasi, informasi COVID-19 berada dalam wilayah gelap sehingga kita tidak dapat memprediksi bagaimana tidak lanjutnya kemudian.

Kita semua berharap penyebaran COVID-19 ini mereda dan kita semua berharap COVID-19 tak menambah berat kinerja ekonomi dunia yang bisa melahirkan krisis baru bila penyebaran virus COVID-19 tidak terkendali.

Sudah saatnya otoritas medis Indonesia juga berani melakukan diagnosa lung scans, bisa jadi dengan metolodogi ini kita menjadi lebih aware dan publik tidak menyepelekannya. Lebih baik mencegah daripada terlanjur terpapar virus COVID-19 tersebut.

Inilah perlunya kejujuran yang bisa melahirkan kredibilitas baik bagi warga negara maupun masyarakat internasional nanti. Saatnya lebih banyak mendengar dan mengakui kelemahan daripada membuat kegaduhan di kemudian hari.

China Tutupi

Pernyataan mengejutkan datang dari miliarder asal China, Miles Guo. Menurut pria yang bernama asli Guo Wengui ini, jumlah korban meninggal secara total yang dirilis Pemerintah Komunis China tidak sesuai fakta di lapangan.

Seperti dilansir Swamedium.com, Kamis (13/2/2020), hal ini diungkap Miles Guo dalam program “War Room: Pandemic” yang disiarkan Americasvoice.news pada Sabtu lalu (8/2/2020).

Miles Guo menyebut pihak China tak ingin pihak luar mengetahui jumlah sebenarnya dari korban virus corona ini. Di Wuhan, setiap hari ada 1.200 mayat yang dikremasi. Itu baru di Wuhan saja.

“Sementara total yang sudah dikarantina lebih dari 250 juta orang di seluruh China,” tegas Miles Guo.

“Saya mendapat informasi dari ‘orang dalam’, ada 1,5 juta orang sudah terkonfirmasi terjangkit virus corona di seluruh China. Dan total jumlah kematian, sesuai data yang sudah dikremasi adalah 50 ribu, bukan 30 ribu,” imbuhnya.

Menurut miliarder yang tinggal di New York, Amerika Serikat ini, Pemerintah Komunis China mencoba mengalihkan perhatian soal jumlah sebenarnya dari korban virus corona ini dengan menyebut virus berasal dari AS.

“Tak ada kejelasan soal jumlah total kematian, berapa banyak yang sudah dikarantina, berapa banyak yang dipastikan terjangkit. Ini sudah sangat berbahaya,” tandas Miles Guo.

Apa yang diungkap Miles Guo nyaris sama dengan yang diungkap oleh media online terbesar China, Tencent, yang menyajikan hasil liputannya.

Tencent, menyajikan jumlah data kematian dan yang terinfeksi virus Corona di Wuhan jauh melebihi angka resmi yang dirilis pemerintah China, seperti dilansir oleh Tempo.co, Kamis (6 Februari 2020 19:54 WIB).

Tencent pada 26 Januari 2020 dalam hasil liputannya yang diberi judul Epidemic Situation Tracker menunjukkan jumlah korban infeksi virus corona yang tewas di Wuhan mencapai 24.589 orang dan korban yang terinfeksi di kota itu sebanyak 154.023 orang.

Seperti dilaporkan Taiwan News.com, 5 Februari 2020, Tencent memuat data itu pada tanggal 1 Februari 2020 jam 11 malam 39 menit dan 4 detik.

Setelah beberapa saat kemudian, media yang dimiliki konglomerat multinasional China itu, mengganti data tersebut sesuai dengan data yang dirilis pemerintah China, yaitu 304 orang tewas dan 14.446 kasus terinfeksi virus corona di Wuhan.

Jadi, wajar jika kini Pemerintah China sangat panik setelah gagal kendalikan serangan wabah virus corona ini!

***