Perlawanan Jokowi dari Balik Pakaian Adat Bali

Berapa persenkah porsi bagi Partai politik, dan berapa persen pula kaum millennial dan profesional dialam Kabinet Kerja Jokowi-Ma'ruf.

Minggu, 11 Agustus 2019 | 10:11 WIB
0
708
Perlawanan Jokowi dari Balik Pakaian Adat Bali
Presiden Joko Widodo (Foto: Agus Suparto)

Hadir pada Kongres V PDI Perjuangan di Grand Inna Beach, Denpasar, Bali, Jumat (9/8/2019), Presiden Jokowi lebih memilih menggunakan Pakaian Adat Bali ketimbang memakai pakaian khas PDI Perjuangan, meskipun warna pakaian adatnya tetap berwarna Merah.

Bukanlah tanpa maksud Jokowi melakukan hal tersebut, secara simbolik dia ingin memperlihatkan netralitasnya sebagai Presiden kepada masyarakat dalam acara Kongres tersebut, meskipun merupakan kader PDI Perjuangan, namun tidak serta merta dia harus memakai pakaian dan atribut Partai.

Ada kesan Jokowi ingin memperlihatkan kemandiriannya dalam sikap, tidak ingin diatur. Bahkan bisa jadi secara simbolis Jokowi ingin memperlihatkan Hak Prerogatifnya sebagai seorang Presiden, yang tidak ingin 'Manut' pada keinginan Partai koalisi pendukungnya.

Sebagaimana diketahui, Megawati secara terang-terangan sudah meminta dan menentukan porsi kursi Menteri yang harus didapat PDI Perjuangan, sebagai Partai Pemenang yang menguasai kursi parlemen secara dominan, namun isyarat yang diperlihatkan Jokowi, belum tentu memenuhi tuntutan tersebut.

Bisa dipastikan Jokowi akan bertindak sesuai dengan ucapannya, bahwa diperiode kedua beliau sudah tidak ada beban politik lagi, dia hanya akan melakukan sesuatu yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Kalau keinginan Megawati dan PDI Perjuangan saja tidak diakomodir sepenuhnya, bagaimana dengan partai koalisi yang lainnya, jelas porsinya tetap dibawah PDI Perjuangan.

Memang semestinya Partai pendukung Jokowi-Ma'ruf, harus mendorong Jokowi untuk menggunakan hak Prerogatifnya, bukan malah memaksa Jokowi untuk memenuhi syahwat politik mereka, yang bisa berakibat pada rusaknya reputasi politik Jokowi.

Jokowi sepertinya sudah mulai mengantisipasi prilaku politik "mbalelo" Partai koalisi pendukungnya diperiode kedua, seperti yang dialami SBY saat di Periode kedua kekuasaannya, dimana partai koalisi pendukungnya mbalelo dengan mendirikan Koalisi didalam Koalisi, lewat pendirian Sekretariat Gabungan PKS dan Partai Golkar.

Maka dari itu jauh-jauh hari Jokowi secara simbolis sudah memperlihatkan netralitasnya, tidak lebih dekat dengan salah satu Partai pun, bahkan dengan PDI Perjuangan sendiri juga demikian, agar tidak ada yang merasa lebih diprioritaskan.

Dengan menggunakan pakaian adat Bali, Jokowi ingin memperlihatkan gaya komunikasinya dalam perspektif kultural, disamping upaya ngeles dari memakai baju Partai PDI Perjuangan, momentum tersebut juga ingin digunakan Jokowi untuk memperlihatkan sikapnya.

Semua ini adalah pengantar Jokowi untuk menyusun Kabinet, Jokowi ingin dalam menyusun Kabinet secara otonom adalah kewenangannya yang tidak bisa di dikte dan diatur oleh siapapun. Seorang Megawati pastinya sudah bisa membaca Bahasa simbolis yang diperlihatkan Jokowi tersebut.

Masih dengan pakaian adat Bali, Jokowi meninggalkan Kongres V PDIP, untuk kunjungan balasannya ke Malaysia. Ini pun secara simbolis diperlihatkannya untuk memperkuat otentitas siapa dirinya yang tidak ingin diatur oleh siapapun. Dia bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginannya, Karena dialah penguasa tertinggi dinegeri ini.

Mari kita lihat sama-sama nanti, seperti apa Jokowi menyusun dan menentukan komposisi para menteri dikabinetnya. Berapa persenkah porsi bagi Partai politik, dan berapa persen pula kaum millennial dan profesional dialam Kabinet Kerja Jokowi-Ma'ruf.

***