Bung, Saya Tidak Paham!

Adalah sangat berbahaya kalau kemudian situasi dan kondisi sekarang ini oleh para petualang politik digoreng, direbus, dibakar, dimainkan, dipelintir untuk kepentingan diri, kepentingan politik.

Minggu, 25 Juli 2021 | 12:47 WIB
0
76
Bung, Saya Tidak Paham!
Srigala berbulu domba (Foto: Lampung Post)

I

Bung. Begitu kami saling menyapa selama ini. Ada tiga sahabat yang saya sapa dengan sapaan “Bung”. Mereka pun menyapa saya dengan sapaan yang sama, “Bung”. Tiga sahabat itu: satu  teman sekolah menengah pertama, satu  teman kuliah, dan satu lagi teman setelah bekerja. Yang terakhir, yang paling muda di antara keduanya. Yang juga berarti lebih muda dari saya.

Tidak tahu persisnya, mengapa kami saling menyapa dengan sapaan “Bung”, seperti di zaman revolusi perjuangan saja. Yang jelas, kami nyaman dengan saling menyapa “Bung”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “bung”, berarti “abang.”  

Sapaan “Bung” itu mula pertama digunakan setelah terbentuknya Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia (PPKI), 17-18 Desember 1927 di Bandung. Bung Karno-lah yang memopulerkan sapaan “Bung” itu. “Dipanggil ‘Bung’ (panggilan akrab kepada saudara) sesuai anjurannya…” (Parakitri T Simbolon, Menjadi Indonesia, 2006, hlm. 363). Mungkin, sama dengan “kamerad” sapaan akrab dalam Revolusi Rusia.

Ada kisah lain. Suatu hari Bung Karno menginginkan dibuat sebuah poster untuk memberikan semangat pada kaum muda. Affandi, yang sejak zaman perjuangan dikenal sebagai pelukis, lalu membuat poster. Yang dijadikan model untuk lukisannya adalah Dullah, yang juga seorang pelukis. Dalam poster itu, digambarkan seorang pemuda berteriak, kepala menoleh ke kanan, tangan kanannya memegang bendera  merah putih, dan kedua tanganya ada rantai putus….Oleh Chairil Anwar, seorang penyair, diberi kata-kata “Boeng, Ajo Boeng”.

II

Sekarang ini, memang, bukan lagi zaman revolusi perjuangan, tetapi tetap zaman perjuangan. Dulu berjuang untuk kemerdekaan bangsa, bersama-sama mengorbankan segalanya, termasuk nyawa, demi lahirnya negara Indonesia. Sekarang berjuang bersama untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Dalam setiap perjuangan, selalu saja ada yang berkhianat, mengkhianati perjuangan, mencari keuntungan diri. Dahulu di zaman revolusi perjuangan ada. Sekarang pun, ada!  Tentu, bentuk pengkhianatannya berbeda-beda.

Sekarang ini, ketika hampir semua lapisan masyarakat berjuang untuk mengatasi pandemi Covid-19, ada saja orang-orang yang mencari untung di tengah kemalangan, di tengah penderitaan. Ada yang korupsi dana bantuan sosial. Ada yang menaikkan harga obat-obatan. Ada yang memungli biaya pemakaman korban Covid-19, seperti yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Bahkan, ada yang membuat jaringan mafia kremasi jenazah korban Covid-19.

Bukankah semua itu adalah bentuk pengkhianatan. Pengkhiatan terhadap  nilai-nilai luhur kemanusiaan. Pengkhianatan terhadap  hati nurani. Bukankah, setiap manusia mempunyai hati nurani yang menuntut manusia untuk berlaku berdasarkan prinsip-prinsip moral, seperti bertindak adil, benar, dan jujur. Tuntutan tersebut bersifat mutlak atau tidak bisa ditawar-tawar, bukan berdasar pertimbangan untung atau rugi, bukan pula berdasarkan perasaan senang atau tidak senang; juga bukan karena alasan politik ataupun idiologis.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsafan akan adanya kewajiban. Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret. Suara hati menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk.

III

Bung, masih ada bentuk pengkhiantan lainnya. Mereka yang menyebarkan berita bohong, informasi salah, menghasut, dan memprovokasi; yang mengajak-ajak untuk demonstrasi yang hanya akan membuat situasi tambah tidak karuan di tengah situasi yang kritis ini, di tengah kesusahan rakyat; yang menyerukan untuk menjatuhkan pemerintah yang sah; yang membuat pernyataan-pernyataan politik yang asal ngritik untuk cari simpati; yang memecah belah bangsa dengan membawa-bawa agama adalah juga pengkhianat. Pengkhianatan terhadap rakyat, terhadap bangsa yang tengah berjuang mengatasi pandemi Covid-19.

Mengapa, Bung, kita tidak bisa bersatu padu, bergandeng tangan, bahu-membahu, saling dukung mengatasi kondisi negeri sekarang ini dengan menyisihkan kalau perlu membuang jauh-jauh kepentingan diri, kepentingan kelompok, kepentingan partai? Bahwa ada banyak kekurangan dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini, memang benar.

Tetapi, harus diakui pula bahwa semua pihak—para dokter, perawat, tenaga kesehatan, relawan, tentara, polisi, masyarakat kebanyakan sampai tingkat paling bawah—telah berjuang keras, harus pula diakui dan dihargai. Bahwa pemerintah sudah mengeluarkan dana begitu banyak untuk melindungi rakyat yang tengah kesusahan dan menderita, juga harus diakui. Ada kekurangan? Iya. Tetapi, kiranya prinsip salus populi suprema lex, kesehatan rakyat merupakan hukum tertinggi, terus diupayakan.

Maka menganggap bahwa pemerintah tidak berbuat apa-apa, adalah sungguh anggapan yang absurd, yang tidak berakal, yang tidak berhati nurani. Yang menganggap bahwa pemerintah tidak berbuat apa-apa adalah mereka yang menutup mata dan hatinya, meninggikan ego dan kesombongan dirinya.

Bahwa bangsa ini mengahadapi krisis, itu benar. Bahwa bangsa ini tengah menghadapi tantangan berat, itu juga benar. Yakni berkait dengan pandemi Covid-19. Tetapi, bukan berarti hal itu menjurus kepada krisis politik nasional.

Adalah sangat berbahaya kalau kemudian situasi dan kondisi sekarang ini oleh para petualang politik, juga gelandangan politik—meminjam istilahnya Gus Dur—kemudian digoreng-goreng, direbus-rebus, dibakar-bakar, dimain-mainkan, dipelintir-pelintir untuk kepentingan diri, kepentingan politik. Itu tindakan pengkhianatan terhadap kesengsaraan rakyat; menari di atas penderitaan rakyat.

Bung, saya sungguh tidak paham terhadap mereka itu. Saya, lebih bisa memahami dan bangga dengan keponakan saya yang kemarin kirim pesan pendek lewat WA, “Om, boleh kan saya menjadi relawan?”

Sungguh, Bung, keputusan keponakan mengikuti jejak dan ketulusan hati para relawan lainnya yang sudah lebih dulu mempertaruhkan hidupnya bagi orang lain, memberikan harapan akan keselamatan bangsa ini, dari pada orang-orang yang hanya bisa berteriak-teriak, menganggap dirinya paling hebat.

Kata orang, Spe salvi facti sumus, kita diselamatkan dalam pengharapan, Bung.

***