Setelah Sebelas Tahun: Wawancara Imajiner dengan Gus Dur

Ternyata tidak sulit menemui sosok satu ini, meski beberapa kali saya urung mencoba melamarnya untuk suatu wawancara.

Rabu, 30 Desember 2020 | 08:30 WIB
0
441
Setelah Sebelas Tahun: Wawancara Imajiner dengan Gus Dur
Abdurrahman Wahid (santrigusdur.com)

SURAT elektronik itu saya tulis pendek saja, kurang dari 200 kata. Setelah saya rasa cukup, dengan sedikit keyakinan bahwa surel itu akan berbalas, dalam sedetik ia sudah berangkat secepat lintang kemukus melesat.

Ada sedikit kelegaan pada saya, kalau-kalau memang tidak terbalas, bolehlah usaha mencoba itu jadi pengalaman. Maklum, tujuan kiriman surel itu memang kondang sibuknya, entah sebagai komentator politik yang disegani dan bereputasi, ataupun sebagai kiai yang pikiran dan perkataannya patut menjadi kontemplasi bersama. 

Tidak sampai tiga jam sejak surel itu melesat dari kanal saya, sebuah balasan pendek masuk ke inbox. Nadanya singkat saja, tetapi hangat dan intim. "Boleh sekali, Mas. Besok, pagi-pagi, ya. Saya tunggu di Ciganjur." Betapa dada benar-benar terasa gembung. Ternyata tidak sulit menemui sosok satu ini, meski beberapa kali saya urung mencoba melamarnya untuk suatu wawancara, karena takut bahwa ia sangat sibuk untuk meladeni wawancara saya yang remeh lagi tak berarti itu. 

Pukul delapan kurang, sepeda motor saya melesat membelah pinggiran Jakarta yang (anehnya) tetap macet walaupun pandemi masih bersimaharajalela. Manakala sepeda motor saya sampai ke depan Jalan Al-Munawaroh, di mana sebuah gerbang telah terbuka gemboknya, dengan dada berdegup, motor saya mengaspal terus hingga memasuki pelataran rumah yang sejuk itu. "Wah, memang atmosfer rumah kiai, kok, di mana-mana ada kesejukan," kata saya dalam hati. 

"Assalamualaikum, Gus," ucap saya dari pintu depan. 

"Wa'alaikumsalam.... Masuk, Mas," jawab Gus Dur dari dalam rumah. Dengan bahu sedikit merendah, saya takzim menyalaminya. Ia nampak karismatik, tetap membumi, dengan setelan kemeja batik dan sarung yang melekat. 

"Mas yang kemarin kirim e-mail, sore-sore itu?" 

"Saya, Gus. Sudah lama sekali, saya mau mewawancarai Gus Dur. Tapi ndak berani-berani. Eh, begitu dicoba, kok gampang amat?" 

"Hla, memang gampang. Njawab e-mail pendek begitu, apa susahnya? Ada Yenny yang mbantu itu...." 

"Jadi, saya mulai wawancaranya, ya, Gus?" 

"Ha, ya sudah, mau tanya apa?"  

Gus, tidak terasa sudah 11 tahun panjenengan tiba-tiba seda. Saya masih ingat breaking news 30 Desember 2009 jam 7 malam yang menyatakan njenengan mangkat, mak tratap, saya benar-benar tidak percaya. Sekarang saya tanya, ada apa sih sampai njenengan tega meninggalkan kami semua? 

Elho, ini bukan masalah tega atau enggak, Mas. Juga bukan terasa atau tidak terasa. Saya pergi itu, ya berarti sudah waktunya. Apa yang saya lakukan semasa hidup, sudah lewat, lah. Sekarang saya plong. Paling-paling ketawa melihat keadaan sekarang. Dulu-dulu enggak pernah, tuh, terbayang sampai begini amburadul-nya. Tapi syukur alhamdulillah, Indonesia masih tetap satu. Itu yang paling penting. Kalau bertikai, ah, itu biasalah. Tandanya bangsa ini masih hidup, bukan bangsa mumi, ha-ha-ha-ha-ha-ha.....

Saya tertarik ketika Gus Dur bilang bahwa keadaan sekarang enggak terbayang. Maksud enggak terbayang ini apa, Gus? Apakah karena sering gonjang-ganjing atau....

Gini, Mas dulu ingat waktu saya dilengserkan Amien? 

Waktu njenengan cuma pakai oblong dan dalaman itu, kan? 

Iya, itu dia. Wah, ikonik juga celana pendek saya, ya? Ha-ha-ha-ha. Nah, waktu saya dilengserkan Amien itu, semua orang lihat bagaimana politisi sebetulnya: di mana-mana mencari kepentingan. Elha, kepentingan dulu dan sekarang sama. Dulu terang-terangan, sekarang tuduh-tuduhan. Lantas cari kambing hitam. Sudah begitu berkedok agama. Weh, itu saja, saya enggak pernah terbayang. "Bangsa ini kelihatannya aja kuat di luar, tapi dalamnya begitu rapuh, ya," pikir saya.  

Elho, kalau rapuh begitu, kan sudah sejak lama, Gus? Agama dan politik kamemang enggak pernah jauh-jauhan, toh, seperti waktu njenengan digoyang Pak Harto. Itu tanda bahwa njenengan sebagai pemuka agama punya pengaruh ke politik

Bukan cuma itu. Nhah, sekarang saya tanya. Siapa yang sesungguhnya berkuasa di Indonesia ini? Negara atau agama? Sabar, Mas, saya belum selesai. Kalau negara berkuasa, kenapa umat HKBP Filadelfia itu masih kebaktian di seberang Istana Merdeka? Kalau negara berkuasa, buktikan kewibawaannya, dong. Perkara IMB itu, kan, urusan negara dan aparat. Elha, sebaliknya. Kalau agama berkuasa, dipakai kedok, semua bisa kena batunya. 

Kena batunya bagaimana, Gus? 

Mas lihat bagaimana orang Sunda Wiwitan dipersekusi tempo hari? Sebentar, kemarin Yenny kasih saya koran. Aparat terlibat menyegel makam leluhur Sunda Wiwitan. Nhah, itu menjadi kasus pertama. Lain lagi, kemarin ini Gus Yaqut dilantik jadi Menteri Agama, lantas meminta pengakuan hak beragama Ahmadiyah dan Syiah. Semua orang ribut, karena dianggap itu bid'ah. Padahal yang ingin diakui adalah hak beragama yang selama ini dikekang dan dipersekusi, bukan persoalan teologi mereka. Sebentar lagi, mereka-mereka yang doyan mempersekusi itu akan kena batunya. 

Wah, Gus Dur berkata profetis lagi, nih. Sudah banyak yang kejadian, lho, Gus, bagaimana kata-kata njenengan itu terbukti. Seperti mBah Amien, sekarang ndilalah jadi gelandangan politik betulan. 

Ah, enggak. Memang dia kena sial aja, ha-ha-ha-ha-ha. Kalau profetis, enggak juga, ah. Nanti publik yang akan membuktikan siapa yang benar. Bukan masalah, kan? Seandainya kejadian, jangan bilang itu sudah saya ramalkan. Saya bukan cenayang, kok. Kalau kejadian betul, ya berarti memang sudah takdirnya, to? 

Gus, saya penasaran. Njenengan di sana ketemu Romo Mangun, ndak

O, ketemu. Ketemu. Kenapa? Ini, habis ini saya mau mampir ke Romo Mangun. Dia kesal sekali karena pendidikan sekarang semakin brengsek saja. Semakin awut-awutan. Anak-anak diajar ngejar hidup jadi karyawan, jadi buruh saja. Bahasanya bagus, kata Romo Mangun, menyiapkan pelajar untuk dunia usaha dan industriElha, kok jatuhnya seperti anak-anak diajar ngejar duit saja? Lalu apa gunanya Allah menurunkan talenta itu, kalau semua dipaksa jadi karyawan? Memang dunia ini cuma butuh karyawan? Apa lagi bahasanya diputar-putar, sampai orang setengah mudeng dan dikesani baik, padahal aslinya enggak.

Elho, Gus Dur jadi sensitif, nih. Dunia industri dan investasi sekarang kan memang sedang moncer-moncernya. Kalau Indonesia diperhitungkan, dengar-dengar 2024 kita akan jadi peringkat empat ekonomi dunia, lho, Gus! 

Ya, peringkat empat di bidang ekonomi, tapi peringkat buntut dalam kepribadian! Sudahlah diterpa politik yang enggak karuan, orang dibikin terbelah pandangannya, jadi cuma ada kawan dan lawan, padahal kita ini satu bangsa, Mas. 

Bagaimana bangsa ini bisa berkepribadian, kalau yang berbeda pilihan dianggap lawan? Padahal selama ini rakyat cuma jadi tunggangan, jadi alat, sampai sesama rakyat musuhan. Padalah politisi yang mereka dukung sudah bagi-bagi jabatan, pelukan, makan bareng, ketawa-ketawa....

Gus Dur ini makin ngeri aja. Nah, omong-omong kepribadian, banyak orang kemarin kebakaran jenggot waktu Papua menyatakan benar-benar mau memisahkan diri. Minggu lalu, tentara kirim empat ribu serdadu ke sana. Katanya, mengamankan Natal. Padahal dulu njenengan sendiri mengizinkan bintang-kejora dikibarkan, to? Sampai jabat tangan dengan Almarhum Theys Eluay juga?  

Kalau masalah Papua, saya cuma bisa bilang, akan ada waktunya salah satu pihak akan lelah bertikai terus. Lima puluh sembilan tahun, Mas! Kalah sedikit dengan sengketa Israel-Palestina. Kita mengutuk kelakuan Israel di Palestina, tapi selalu merasa benar ketika orang Papua ditembaki dengan klaim bahwa mereka adalah gerombolan kriminal bersenjata. Dulu saya izinkan mengibarkan bendera, karena itu bendera kultur. Simbol budaya, bukan politik. Elha, kalau dianggap politik, itu sudah jelas enggak nangkap. Nah, ketika pertikaian lelah, akan ada waktunya juga kita bertemu satu meja, duduk bersama, tanpa pretensi menggurui. Saya, kok, menunggu kesempatan itu saja daripada mengirim tentara kita terus-terusan ke Papua? Mereka juga punya harga diri, lho, Mas. Itu yang jarang kita perhatikan. 

Jadi kalau orang Papua minta merdeka, wajarlah itu, begitu, Gus? 

Saya enggak bilang wajar atau enggak wajar. Penilaian semua itu terserah bangsa Indonesia. Saya cuma bilang, akan ada waktunya kita berhenti bertikai. Duduk bersama, memikirkan jalan terbaik. Selama ini, kan, kita merasa bahasa perdamaian ada di beras, aspal, harga bensin. Semua itu bahasa perdamaian orang Jawa, yaitu gratifikasi. Padahal bahasa perdamaian yang paling mendasar dan dibutuhkan adalah keterbukaan diri dan kemauan untuk merangkul Papua sebagai saudara. Mereka bukan musuh kita, kok. Kenapa harus kirim ribuan tentara ke sana? Memang Papua itu medan perang? Kalau terus ditembaki, lama-lama tinggal hutan dan tambang, dong, Papua itu. 

Saya terusik kata-kata "bahasa perdamaian" tadi, Gus. Memangnya menurut njenengan, damai itu apa, sih? Ada orang pesimis dan bertanya kalau perdamaian dunia itu mustahil atau bukan. Tapi menurut Gus Dur, bagaimana? 

Perasaan damai itu tidak jatuh dari langit, Mas. Itu yang pertama kali harus diingat. Lihat bagaimana orang Jerman berdamai dengan kenyataan masa lalu, tentang kekejaman rezim Hitler? Mereka terlebih dulu meminta maaf dan mengakui kesalahan. Itu dulu. Artinya apa? Perdamaian itu harus diusahakan, walau sangat sulit, apalagi bagi mereka yang merasa benar sendiri. Dalam hal ini, perasaan damai adalah tujuan. Tapi damai juga adalah keadaan awal untuk langkah-langkah besar berikutnya. Sesudah mengakui kejahatan, Jerman bertekun mendidik generasi berikutnya, mengajarkan bahwa Holocaust adalah kejahatan besar dan jangan sampai terulang sampai kapan pun. 

Gus Dur kok memakai contoh Jerman, sih

Elha, habis, kalau pakai Indonesia, mau contoh yang mana? Orang Indonesia dengan masa lalunya saja dengki setengah mati, kok. PKI dimusuhi, Belanda dimusuhi, Jepang dimusuhi, Ahmadiyah dimusuhi. Lalu tidak mau jujur kepada diri sendiri. Dari dulu saya minta maaf atas pembunuhan yang terjadi atas diri orang-orang yang dikatakan sebagai "komunis". Mana sekarang? Balik lagi membicarakan dosa-dosa PKI. Lalu kasus lainnya: Tanjung Priok, Talangsari, Santa Cruz, Marsinah, Cak Munir. Mengapa publik begitu takut bicara itu semua, padahal itu kenyataan bukan fiksi. 

Oke-oke, monggo dilanjut, Gus....

Apa lagi yang mesti dilanjut? Kelanjutan kata-kata saya adalah tindakan. Mas dan teman-teman seangkatan Mas harus membuktikan dan berbuat. Kata-kata saya cuma pengingat. Kalau enggak berbuat, enggak mau melihat kenyataan, maunya jadi karyawan saja, enggak ada gunanya. 

Begitu, ya, Gus? 

Elha, habis mau bagaimana lagi? Gitu aja kok repot? Ha-ha-ha-ha-ha-ha....


Saya terhenyak. Di depan saya, laptop saya menyala menunjukkan notifikasi baterai mau habis. Saya masih di rumah, tidak di Ciganjur. Sepertinya tadi itu bukan saya yang mengunjungi Gus Dur, tapi Gus Dur yang mengunjungi saya. Seteguk demi seteguk saya meminum kopi hitam. Permukaan kopi memantulkan bayangan Gus Dur yang tertawa, setidak-tidaknya karena kelucuan nampak semakin tidak ada batasnya di republik kita. 

***