Mengenal Doktor Ahmad Basarah, Penulis Buku "Sukarno, Islam dan Pancasila"

Kamis, 10 Januari 2019 | 20:23 WIB
0
63
Mengenal Doktor Ahmad Basarah, Penulis Buku "Sukarno, Islam dan Pancasila"
Dr.Ahmad Basarah (Batik)

Ulang Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang ke-46 berlangsung meriah. Pidato Ketua DPP PDIP mbak Mega selama 46 menit telah membukan wacana berfikir merdeka bahwa politik bisa dilakukan dengan gembira, santun dan sehat . Apalagi slogannya adalah membumikan Pancasila. 

Sambil mendengarkan pidato tersebut, ditanganku ada sebuah buku bergambar ayah beliau yang bersanding dengan  gambar Pancasila. Buku ini ternyata hasil dari karya salah satu kader PDIP.

Membaca buku hasil karya uji akademis sebuah Disertasi seseorang itu pengalaman luar biasa buatku. Apalagi para pengujinya adalah orang top di negeri ini. Prof. Dr. Arief  Hidayat  mantan ketua  Mahkamah Konstitusi RI  dan Prof Dr. Mih. Mahfud MD mantan ketua MK RI periode 2008 - 2013  adalah yang memiliki kapabilitas di atas rata rata . 

Buku berjudul Bung Karno Islam dan Pancasila yang kupegang saat ini adalah salah satu karya terbaik yang mengandung banyak informasi pelurusan sejarah pemimpin besar revolusi Sukarno. Wajib dibaca dan disebarkan sebagai bahan olah pikir masyarakat kita agar lebih baik lagi menyikapi fenomena bangsa ini.

Penulis buku ini adalah Dr. Ahmad Basarah yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen DPP PDIP dan akrab dipanggil Baskara. Dia lahir di Jakarta, 16 juni 1968 dan sejak muda aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) hingga mencapai posisi puncak sebagai Sekretaris Jendral Presidium GMNI periode 1996-1999.

Hingga saat ini ia dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI periode 2015-2020. 

Bergabung di PDIP

Pada Tahun 1999, ia bergabung dengan partai politik , yaitu PDI Perjuangan. Menjabat sebagai wasekjen dua periode (2010 - 2015  dan 2015 - 2020).

Di DPR/MPR jabatannya juga tak kalah mentereng, yaitu sebagai Ketua Fraksi PDIP MPR RI dan Ketua Badan Sosialisasi MPR RI. 

Awal Pemikiran Menulis Tentang Sukarno

Ilmu dan Amal.

Ilmu pemgetahuan hanyalah berharga penuh jika dipergunakan untuk mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, atau praktek hidupnya bangsa, atau praktek hiduonya dunia kemanusiaan. 

Pengetahuan ialah untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Ilmu dan amal, kennis zonder daad is doellos. Daad zonder kennis is richtingloos. 

Bahwa pengetahuan, bahwa ilmu, bahwa wetenschap, bahwa teori adalah tiada guna, tiada wujud, doelloss, jika tidak dipergunakan untuk mengabdi kepada prakteknya hidup. Buatlah ilnu berdwitunggal dengan amal. 

"Dengan menuju ke laut, maka sungai setia kepada sumbernya." 

(Bung Karno, 19 September 1951).

Kutipan kalimat di atas adalah karya Bung Karno yang dijadikan Baskara sebagai motto dalam bukunya.

Baskara menempuh jenjang pendidikan S1 di  IISIP Jakarta Tahun 1988 -1992 dan FISIP Universitas 17 Agustus 1945  Jakarta , kemudian S2 di FISIP Universitas Indonesia (1998-1999) dan Fakultas Ilmu Hukum  Universitas Kristen Indonesia Jakarta (2007-2009). 

Terakhir, gelar Doktor diterimanya setelah memperjuangkan Disertasinya di Fakultas Ilmu Hukum  Universitas Diponegoro Semarang. 

Pada Tahun 2007, Baskara mendirikan Baitul Muslimin Indonesia. Organisasi ini ditugaskan untuk mempelajari kebangsaannya. Yang menjadi unik dari pendiriannya adalah adanya amanat dari  Almarhum H.M. Taufiq Kiemas, suami dai mbak Mega. 

Pada organisasi inilah, Baskara menemukan dimensi pemikiran pemikiran Islam Bung Karno yang sangat kokoh. Dimensi pemikiran yang melengkapi pemikirannya saat menjadi aktivis GMNI dahulu.

Jelas sudah, karena kekagumannya terhadap Sukarno ditunjang Baskara memiliki literasi data dan fakta  sejarah mengenai pemikiran Sukarno terhadap Islam yang menghasilkan Pancasila sebagai palsafah hidup berbangsa dan bernegara.

Bahwa pembelaannya terhadap keislaman Sukarno adalah ilmiah. Tidak membabi buta (taklid) dan ini diamini oleh para penguji Disertasinya. 

Di salah satu halaman bukunya (10) Baskara menuliskan peran Sukarno dalam Muktamar Nahdatul  Ulama (NU) Tahun 1954 di Surabaya.

Bahwa NU telah  memberikan dan mengesahkan gelar kepada Presiden Sukarno sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi Assyaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan - kebijakannya mengikat oleh sebab kekuasaannya atau pemegang pemerintahan  de facto dengan kekuasaan penuh). Gelar ini dianggap Baskara bukanlah hal yang main main karena NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia hingga kini. 

Selain itu, ada fakta menarik yang dilakukan Sukarno ketika Piala Dunia Tahun 1958, Beliau menolak Indonesia bertanding dengan Israel dalam babak penyisihan karena Israel dianggap sebagai penjajah Palestina. 

Mengenai Pancasila, perjuangan Sukarno tanpa lelah mempersatukan bangsa, beragam agama adat kebudayaan melebur menjadi satu dengan komponen agma lainnya, komponen nasionalis lainnya untuk menjadikan pancasila sebuah ideologi saat Sidang BPUPK 1 Juni 1945. 

Baskara sang penulis buku  dengan judul disertasinya Eksistensi Pancasila sebagai Tolok Ukur dalam Pengujian Undang-undang  terhadap Undang-undang Dasar Negara 1945 di Mahkamah Konstitusi: Kajian Perspektif Filsafat Hukum dan Ketatanegaraan menambah rasa keingintahuanku untuk mempelajari semua pemikiran Sukarno yang membangun bangsa dan peradaban dunia.

***