Tedjabayu

Pak Tedja, sahabatku dalam gagasan dan cita-cita, selamat jalan. Titip salam dan takzimku untuk ayah-bunda dan Pak Pram. Dari kepergianmu, aku mendoakan rahmat.

Kamis, 25 Februari 2021 | 19:52 WIB
0
214
Tedjabayu
Lukisan Kawan-Kawan Repoloesi S. Soedjojono

ANDA tentu tidak asing dengan lukisan yang menjadi ilustrasi tulisan ini. Barangkali pernah melihat, namun tidak tahu siapa pelukisnya. Barangkali pernah dengar pelukisnya, tetapi tidak tahu bahwa lukisan ini adalah karya tangannya.

Di tengah hiruk-pikuk zaman digital ini, nama Sindhoedarsono Soedjojono memang jarang disebut-sebut lagi. Kalaupun disebut, tentu dengan takzim bercampur kagum. Maklum, orang bahkan menjulukinya sebagai "Bapak Seni Rupa Modern Indonesia". 

Lukisan tersebut diberi judul "Kawan-Kawan Repoloesi". Menggambarkan 18 sosok wajah laki-laki dewasa yang dekat dengan pribadi pelukisnya, lukisan tersebut juga mengundang penasaran bagi mereka yang mendapati sosok bayi laki-laki yang kelihatan digendong oleh Basoeki Resobowo. Dalam konteks "Kawan-Kawan Repoloesi", si bayi kecil tentu tidak akan direken sebagai mereka yang memanggul senjata, seperti orang-orang dewasa yang masuk dalam satu lukisan itu. 

"Ah, Mas Chris, kata Simbok saya saat itu sedang pilek dan rewel. SS (S. Soedjojono-red) yang sedang melukis 'Kawan-Kawan Repoloesi' merasa terganggu dan menempatkan saya sebagai model lukisannya dan jadilah saya bagian dari bapak-bapak pejuang itu," kisah si bayi kecil 77 tahun kemudian kepada saya dalam kolom komentar di salah satu posting Facebook pribadi saya. Si bayi kecil itu sudah menjadi kakek yang pengalaman hidupnya cukup penuh dan panjang. 

Namanya Tedjabayu. Seturut dengan budaya Jawa yang mengusung patriarki, nama ayahnya ditabalkan ke belakang nama dirinya menjadi Tedjabayu Soedjojono. Ia adalah putra sulung Bapak Seni Rupa Modern kita. Hari ini, seperti denyar listrik memacu bilik jantung memompa perasaan berdentam, saya mendapatkan kabar duka: Pak Tedjabayu berpulang menghadap Sang Khalik. 

Pertemuan saya dengannya memang tak disengaja. Secara kebetulan, dalam salah satu episode Melawan Lupa yang membahas kisah hidup sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Pak Tedjabayu menjadi narasumbernya. Sebagai tahanan politik yang dipurukkan Angkatan Darat ke Pulau Buru antara 1969-1979, Pak Tedjabayu beroleh kesempatan menjadi salah seorang pembaca pertama naskah-naskah mahakarya Pramoedya yang hari ini kita kenal sebagai "Tetralogi Bumi Manusia" dan "Trilogi Arok Dedes". 

Berbekal penasaran dan bantuan algoritma pencari Facebook, saya mengajukan permintaan pertemanan di laman Facebook-nya. Saat itu, dan sampai sekarang, saya senang dan berusaha berkenalan dengan mantan-mantan tahanan politik maupun keluarga mantan tahanan politik 1965, semata-mata untuk mengangsu pengalaman dan mengorek kisah sejarah yang selama ini ditabirkan penguasa di buku sejarah diniah. Kurang dari sebulan, permintaan saya diterimanya. 

Beramah-tamah melalui aplikasi Messenger, Pak Tedja sempat menawarkan kepada saya memoar ibundanya, Sasmiyati "Mia" Bustam berjudul Sudjojono dan Aku, terbitan ISAI, tahun 2013. Dengan keadaan dompet yang sedang tidak bersahabat, saya membalas penawaran itu dengan janji bahwa saya akan menabung terlebih dulu. 

Dalam kesempatan lain, saya mendapati pengakuan Pak Tedja bahwa ia menetap sekota dengan saya di Tangerang Selatan. Bertukar alamat di Messenger pula, saya sudah memupuk niat untuk sowan sekaligus membeli memoar ibundanya yang ia tawarkan tempo hari. Kebetulan juga, kediamannya tidak terlampau jauh dari tempat tinggal saya. Hanya sekitar 9 kilometer atau 35 menit dengan sepeda. 

Pak Tedja adalah mantan aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia atau CGMI. Di usia 21 tahun, tatkala pecah G30S, namanya termasuk dalam daftar panjang orang-orang yang harus dilenyapkan. Ia tertangkap dan sejak itu berpindah-pindah dari penjara ke penjara lain sampai akhirnya diputuskan bahwa semua yang termasuk tahanan politik golongan B akan dikirim ke Instalasi Rehabilitasi/Tempat Pemanfaatan (Inrehab/Tefaat) Pulau Buru. 

Menarik dan penting bagi saya, karena tak banyak lagi mantan tahanan politik hari ini yang masih sanggup menceritakan panjang lebar kisah-kisah kecil (petite stoire) semasa penahanan. Dalam hitungan yang tidak banyak itu, Pak Tedja termasuk salah satunya.

Dengan panjang dan cukup detail dalam menyebut tempat, waktu, dan sosok-sosok yang ia temui semasa di penjara, kisah-kisah yang kerap dibagikannya di linimasa Facebook tak pernah luput saya simak. Selalu menarik. Selalu sarat makna. Karenanya, ketika terbetik kabar bahwa Pak Tedja tengah mempersiapkan memoar, saya menempatkan memoar itu dalam daftar buku yang akan saya beli di urutan pertama. 

Memoar itu akhirnya diterbitkan oleh Komunitas Bambu dengan judul Mutiara di Padang Ilalang, persis di pengujung tahun 2020. Sekarang saya punya tiga agenda dengan sosok gaek ini: sowan ke kediamannya, membeli memoar ibundanya, dan membeli memoar serta meminta tanda tangannya. Lewat izin di Messenger pula, ia terbuka menanti kedatangan saya, "Karena kalau menunggu mBah Kovidah lewat, akan lama sekali!" mBah Kovidah yang dimaksudnya, tidak lain dari pandemi Covid-19 ini. 

Tetapi tiga agenda tersebut sekarang tak berguna lagi. Berita yang dibawa oleh Bu Ita F. Nadia ketika saya menikmati makan siang hampir-hampir membuat saya tersedak sekaligus memercikkan seujung pahit di lidah. Pak Tedja berpulang di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, dalam usia 78 tahun. Perasaan yang beraduk antara sesal, sedih, dan kaget bercampur-aduk, lebih-lebih ketika mengingat janji saya untuk menabung. Dompet memang sudah mengatakan cukup, namun mencari waktu di sela kegiatan yang memadat benar-benar menjadi kesulitan tersendiri. 

Dalam sepotong sunyi yang saya dapat sesudah mendengar berita itu, saya menundukkan kepala. Manusia yang daif ini bukan tak boleh berencana. Namun terpulang kepada Yang Memiliki Hidup yang menentukan semuanya. Kendati tak pernah bertatap muka, ada perasaan kehilangan yang mendekap batin saya. Dan teringat akan salah sebuah pepatah yang saya lupa siapa yang mengatakan, namun benar membekas di ingatan, "Those who wasn't my friend in personal, was my friend in ideal." "Mereka yang bukan kawanku secara pribadi, adalah sahabatku dalam cita-cita dan gagasan." 

Pak Tedja, sahabatku dalam gagasan dan cita-cita, selamat jalan. Titip salam dan takzimku untuk ayah-bunda dan Pak Pram. Dari kepergianmu, aku mendoakan rahmat. 

***