Citra Negatif yang Melekat pada Puan Maharani

Kendaraan partai sudah ada yaitu PDI-P dan ia anak Ketum dan trah Soekarno. Tapi, di mata publik atau masyarakat nama Puan tidak melekat di hati masyarakat seperti Soekarno atau Bung Karno.

Rabu, 28 September 2022 | 16:50 WIB
0
46
Citra Negatif yang Melekat pada Puan Maharani
Puan Maharani (Foto: detik.com)

Sepertinya citra negatif melekat pada diri Puan Maharani. Apa yang dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas justru selalu direspons negatif oleh publik atau masyarakat.

Seperti video ketika Puan Maharani membagikan kaos kepada masyarakat. Puan melemparkan kaos ke segala arah dengan wajah cemberut atau masam. Bahkan seperti memarahi ajudannya.

Sontak saja video itu menjadi pembicaraan di medsos atau media sosial yang mengkritik Puan Maharani cara membagikan kaos dengan wajah cemberut atau masam.

Sekalipun kader partai moncong putih itu sudah memberikan klarifikasi, tetap saja publik merespon negatif.

Aslinya Puan Maharani punya pembawaan pendiam. Karena ada tuntutan peran harus turun dan dekat dengan masyarakat dalam rangka menaikan elektabilitas, maka sifat aslinya tidak mudah untuk diubah. Seperti harus ramah atau tersenyum ketika bertemu dengan masyarakat.

Setiap lembaga survei merilis hasil surveinya, elektabilitasnya betah dalam "baskom" atau barisan satu koma.

Sekalipun ada juga lembaga survei entah berantah menempatkan elektabilitas Puan Maharani sudah mencapai 10 persen. Bim salabim jadi apa, prok-prok-prok bantu ya, begitu kata Pak Tarno.

Puan Maharani begitu berat untuk menaikan elektabilitasnya. Karena mempunyai resistensi atau penolakan yang tinggi oleh publik atau masyarakat. Setiap ucapannya atau tindakannya selalu mendapat respon negatif. Dan ini menjadi masalah tersendiri bagi Puan.

Kendaraan partai sudah ada yaitu PDI-P dan ia anak Ketum dan trah Soekarno. Tapi, di mata publik atau masyarakat nama Puan tidak melekat di hati masyarakat seperti Soekarno atau Bung Karno.

Tentu juga tidak rela kalau kendaraan partai itu dipakai atau dinaiki oleh kader partai lain yang bukan trah Soekarno. Kecuali ada kebesaran jiwa untuk kepentingan yang lebih luas.

Dulu Ketum PDI-P Megawati mencalonkan Joko Widodo sebagai capres karena saran suaminya yaitu alm.Taufik Kiemas. Tapi sekarang, siapa yang berani memberi saran kepada sang ketua umum partai moncong putih itu.

Jangan dipaksakan dijual kalau memang tidak laku di pasaran, simpan saja dulu menunggu matang.

***