Saya Membela Belva

Kalau saya boleh sarankan pada Belva, dan anak-anak muda yang pinter, nggak usah mau jika diajak pemerintah mikirin negara. Mending bangun saja "negara sendiri", perusahaan sendiri.

Kamis, 23 April 2020 | 21:23 WIB
0
555
Saya Membela Belva
Adamas Belva Syah Devara (Foto: Facebook/Sunardian Wirodono)

Banyak orang masih juga mencerca Belva, yang mundur dari stafsus Presiden, gegara kasus pelatihan Kartu Prakerja. Ninggalin duit Rp51 juta perbulan, selama 5 tahun (kalau 5 tahun!), tapi dapet trilyunan rupiah!

Begitu kira-kira. Hadeh, penyinyiran yang kaprah!

Padal, mitra pemerintah dalam pelatihan online ada 8 biji: Tokopedia, Skill Academy by Ruangguru, Maubelajarapa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijarmahir, dan Sisnaker (milikpemerintah). Semua dengan prosedur sama. Kok cuma Belva yang dihajar? Karena stafsus? Karena dapat proyek trilyunan? Mari kita hitung, agar daya kritis juga proporsional.

Masing-masing mitra, akan mendapat Rp1 juta, dari Rp 3,55 juta yang akan diberikan masing-masing pada 5,6 juta peserta (ini angka terakhir, mungkin akan nambah karena jumlah pendaftar), dari 34 provinsi di Indonesia. Meski Kartu Prakerja, tetapi 80-90 persen adalah mereka yang terdampak pandemi coronavirus dan korban PHK.

Jumlah bayaran mitra pemerintah, total 5,6 juta peserta x Rp 1 juta = Rp 5,6 trilyun. Itu masih akan dibagi ke 8 lembaga, yang masing-masing mendapat Rp700 milyar. Itu pun, dengan 900 modul pelatihan online di 34 propinsi.

Maka 8 mitra pemerintah itu harus membangun mitrakerja dengan jaringan mereka (market place), yang rerata (memang) dikuasai anak-anak muda, tersebar di 34 propinsi. Artinya, masing-masing mitra tidak murni mendapat Rp700 milyar.

Memang mitra kerja itu diikat kontrak pertama selama dua tahun, tetapi lama penyelenggaraan per-angkatan selama 4 bulan (dalam 2 tahun untuk 4 kali angkatan pelatihan). Kalau kita ngomongin angka proyek, tetap saja angka yang kecil, dibanding proyeksi outputnya. Bandingkan anggaran Rp 70 trilyun DKI Jakarta untuk apa saja (itu kalau kita mau bales nyinyir).

Jangan hanya lihat angkanya, tapi pada sisi lain, penyelenggaraan mitra-mitra kerja ini, dengan sendirinya semacam penciptaan lapangan kerja baru, di 34 propinsi yang focus ke anak muda (karena yang menguasai IT adalah anak muda). Semuanya itu akan berlangsung selama 4 bulan. Ada multi-player effects di baliknya.

Kenapa pelatihan online dengan Kartu Prakerja, bukannya ngasih sembako saja? Ya, kita kan lagi ngomongin Kartu Prakerja. Program bansos sembako ada sendiri. Bicaralah satu-satu, hingga bisa kita kritik satu-satu. Jangan campur-aduk hanya karena argumen ambyar.

Lagian konsep pelatihan online ini juga strategi semi-bansos susulan, karena konsep Kartu Prakerja semula untuk anak muda pengangguran. Karena pandemi coronavirus, diubahlah menjadi pelatihan online. Program ini nyatanya, dalam data Kemenperin, 80-90 persen peserta adalah mereka yang terdampak coronavirus dan korban PHK.

Mereka yang nuding Belva mendapat trilyunan rupiah, adalah omong kosong, alias asal njeplak. Kalau kita mau nyinyirin Belva, dari perusahaannya yang berkelas internasional (hingga buka cabang Singapura dan kelak India), jumlah yang diterima dari pemerintah tidak ada bandingannya.

Kenapa Belva yang diserang? Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan Menteri (atau dulu JK waktu Wapres) yang mencapai puluhan hingga ratusan trilyun? Kenapa kita mingkem saja, padal dapet bagian juga kagak? Saya sih, dalam hal ini membela Belva. Nggak ada bisnis antara saya dan dia. Murni membela spirit dan eksistensi generasi baru, dan selamat tinggal generasi orba, beserta sisa-sisanya.

Kalau saya boleh sarankan pada Belva, dan anak-anak muda yang pinter, nggak usah mau jika diajak pemerintah mikirin negara. Mending bangun saja negara sendiri. Mangsudnya, bikin perusahaan sendiri, gedein sendiri, dan jadi presiden direkturnya sendiri. Clear! Merdeka!

@sunardianwirodono

***