Poyuono

Dari sisi fatsoen politik terasalah bahwa seluruh pernyataan Poyuono amat sangat tidak pantas karena sudah pasti menyinggung perasaan SBY selaku kamerad koalisi.

Selasa, 11 Juni 2019 | 08:34 WIB
0
224
Poyuono
Arief Poyuono (Foto: reportasenews.com)

Poyuono. Lengkapnya Arief Poyuono, adalaf fenomena dalam politik mutakhir Tanah Air. Jabatannya di partai, yaitu Gerindra, bukan ecek-ecek. Dia adalah wakil ketua umum partai, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari, wakil langsung sang ketua partai, Prabowo Subianto.

Namun berkebalikan dengan ketua umum partainya, Poyuono "fenomenal" dalam bernarasi di depan publik, khususnya di depan kamera televisi. Kerap ia menjadi bulan-bulanan Si "Singa Kamera" Adrian Napitupulu atau bahkan presenter Najwa Shihab saat mendesaknya jawaban pasti, bukan muter-muter seperti gasing atau baling-baling.

Meski ia jelas masuk jajaran elite partai, di depan kamera televisi saat berdebat, ia lebih mirip pelawak dari kelompok Srimulat. Tetapi itulah kelebihannya, kelebihan yang secara cerdik dipelihara Gerindra, agar partai ini tetap mendapat julukannya sebagai partai heterogen, inklusif, multikultural, dan tentu saja multitalenta.

Tidak mungkin Poyuono tampil di layar televisi tanpa persetujuan partainya, meski lawan bicara yang dihadapi adalah "destroyer" macam Adrian. Boleh jadi tujuannya "playing victim", agar publik menjadi iba dan jatuh kasihan (ujungnya menuai simpatik) atas kondisinya yang kerap menjadi "samsak hidup" Adrian. Padahal, elite partai dan kaum cerdik-pandai yang jago debat bertebaran di Gerindra.

Tetapi mengapa masih memajukan atau menampilkan Poyuono? Ini masih misteri tetapi fenomenanya sangat terasa.

Beberapa waktu lalu Ketua Partai Gerindra Ahmad Riza Patria sampai harus menyampaikan permohonan maaf kepada Partai Demokrat, partai rekan sekoalisi, atas pernyataan Arief Poyuono yang meminta partai yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono itu ke luar dari Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Bayangkan, suara wakil ketua umum partai adalah suara ketua umum partai juga alias suara Prabowo Subianto!

Mestinya ini pernyataan yang mewakili partai, mewakili Prabowo. Tetapi karena ada gelagat kurang beres, pendapat Poyuono itu dianggap sebagai sikap atau pernyataan pribadi, bukan suara partai, apalagi suara Prabowo. Nah. lho!

"Kalau ada pernyataan dari penguruskah, kaderkah, simpatisankah yang menyinggung pihak mana pun, saya menyampaikan permohonan maaf. Terkait masalah Arief Poyuono itu pernyataan pribadi, bukan kepentingan Pak Prabowo, partai, ataupun koalisi," demikian Ahmad Riza Patria meminta maaf sebagaimana diberitakan CNNIndonesia.com, Senin 13 Mei 2019 lalu.

Baca Juga: Selembar Surat untuk Arif Poyuono

Tidak lupa Riza memastikan bahwa hubungan antarpartai koalisi masih terjalin solid alias masih belum bubar jalan. Indikasinya? Riza menunjukkan dari masih sering berkumpulnya para sekretaris jenderal partai pendukung. Pun begitu dengan hubungan Prabowo dan Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Bahkan Riza menyampaikan rasa terima kasihnya kepada SBY mengenai perannya dalam membantu pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno . Riza menunjuk bahwa SBY-lah ketua umum partai politik koalisi yang pertama kali menyatakan dukungannya kepada pasangan Prabowo-Sandiaga. Riza menyebutnya sebagai "energi baru".

Selain Riza, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Andre Rosiade pun angkat bicara. Menurut Andre, pernyataan Poyuono itu tidak serta merta merenggangkan hubungan yang sudah terjalin solid. Alasannya, beda pendapat dan pandangan yang terjadi di internal koalisi merupakan hal biasa dalam dinamika politik.

Tidak lupa, senada dengan Riza, Andre pun mengatakan pernyataan Poyuono itu sebagai sikap pribadinya, bukan atas nama Gerindra

Memang beberapa waktu lalu Poyuono menyarankan agar Demokrat keluar secepatnya dari koalisi pengusung Prabowo-Sandi. Bahkan ia menyebut gelagat ketua umum Demokrat yang tak lain SBY dan para pengurus Demokrat bagai serangga undur-undur.

"Mau mundur dari koalisi saja pake mencla mencle segala. Monggo keluar aja deh. Wong enggak Ada pengaruhnya menghasilkan suara Prabowo Sandi kok selama ini. Malah menurunkan suara lho," kata Arief Poyuono

Lebih "fenomenal" lagi, Poyuono menilai gelagat SBY yang ia sebut "mencla-mencle" itu dikarenakan belum mendapat jaminan hukum dari Presiden Joko Widodo. Poyuono sempat menyebut keluarga SBY diduga banyak terlibat kasus korupsi. Sebagai contoh ia menyebut kasus pembangunan wisma atlet di Hambalang, Bogor.

"Dan Saya tahu kok kenapa kayak undur undur, maklum belum clear jaminan hukum dari kangmas Joko Widodo bagi keluarga SBY yang diduga banyak terlibat kasus Korupsi ,kayak kasus Korupsi proyek hambalang," kata Poyuono lagi.

Dari sisi fatsoen politik  terasalah bahwa seluruh pernyataan Poyuono mengenai SBY dan Demokrat yang sama-sama anggota koalisi, amat sangat tidak pantas karena sudah pasti menyinggung perasaan SBY dan para koleganya. Mestinya pula ada berita susulan misalnya "Prabowo menegus keras Poyuono", tetapi berita itu tidak ada.

Maknanya apa? Prabowo Subianto okay-okay saja dengan pernyataan kerasnya itu, pernyataan yang menohok SBY dan Demokrat, sehingga publik bisa saja berspekulasi, "suara Poyuono adalah suara Prabowo".

Dengan lain perkataan, Prabowo meminjam mulut dan bibir Poyuono.

Salah-salah Riza dan Andre yang malah kena lempar henpon.

Mana tahu!

***