Modal Mancung, Jadilah Ulama!

Rabu, 19 Desember 2018 | 21:42 WIB
0
310
Modal Mancung, Jadilah Ulama!
Ilustrasi penyiksaan yang dilakukan BS (Ilustrasi: Eko Kuntadhi/Facebook)

Ada orang yang ngaku ulama, ditangkap polisi. Alhamdulillah. Kita sudah capek melihat kelakuan lelaki ini. Videonya ketika menggebuki remaja jadi viral. Sepertinya sengaja divideokan untuk memberi tahu pada masyarakat. "Nih, gue. Bisa mukulin siapa saja sampai babak belur. Gak akan kena hukuman. Karena gue ulama. Ape lu, ape lu!"

Video lain memperlihatkan isi ceramahnya. Bicara soal bentuk vagina di atas mimbar agama. Dia ingin menginformasikan kepada khayalak. "Gak usah menganggap sakral mimbar dakwah. Gue ulama. Mau ngomong bokep, kek. Mau ngomong kotor, kek. Mau ngomong jorok, kek. Terserah. Ape lu, ape lu!"

Lelaki muda berambut gondrong pirang ini adalah perkecualian. Ulama lain harus punya akhlak yang baik agar menjadi panutan jemaahnya. Harus punya etika dalam bicara. Dia gak perlu.

Ulama lain harus punya pengetahuan agama. Memahami esensi ajaran Nabi, dan menyebarkan kebaikan. Dia gak perlu.

Ulama lain jika aktif di medsos yang diupload adalah nasihat dan kata-kata bijak. Dia gak perlu.

Ulama lain menahsehati orang dengan lembut. Mencontohkan keindahan akhlak. Dia malah mencontohkan bagaimana membuat babak belur anak orang. Dihantam dengan dengkul sampai bonyok.

Ulama lain menghindari aksi kriminal dan kekerasan. Baginya semua aksi boleh. Semua kata-kata sekotor apapun, bisa saja disemburkan.

Baginya jadi ulama itu mudah. Asal modal mancung, bisa bahasa Arab dikit-dikit. Sudah bisa naik mimbar. Koar-koar tentang surga dan neraka. Agama, di tangannya, adalah sebuah sarana agitasi.

Jika kita lihat perilakunya, setidaknya dari video yang viral, kita akan lebih menangkap dia sebagai preman. Kesan ulama hanya ada pada bajunya saja. Bukan pada mulutnya. Bukan pada perilakunya.

Kini dia ditangkap polisi. Karena memukuli orang seenak udelnya. Eh, ada politisi sontoloyo yang bilang polisi sedang mengkriminalisasi ulama. Kan, bangke?

Padahal yang salah bukan polisinya. Yang salah adalah pengikutnya: mengapa mengulamakan seorang kriminal seperti ini?

Perilaku buruknya berlindung pada garis keturunannya. Ngaku-ngaku zuriah Rasul.

Padahal ada lebih banyak keturunan Nabi yang khlaknya indah. Yang perilakunya terpuji. Yang ketika bicara bertaburan hikmah dari lidahnya. Yang apabila kita memandang wajahnya mengingatkan pada Allah. Yang ketinggian ilmunya semakin membuat dia merunduk pada kekuasaan ilahi.

Ulama-ulama asli, habib-habib sebenarnya, berusaha keras menjaga darah suci Kanjeng Nabi yang mengalir pada tubuhnya. Menjaga dengan keluasan ilmu. Menjaga dengan kehalusan bahasa. Menjaga dengan keindahan akhlak. Ketika orang berjumpa dengannya, yang hadir hanya kelembutan melulu. Tidak ada yang lain.

Tapi perilaku indah itu tidak terlihat dari ulama berambut gondrong pirang, bercelak mata dan bermulut kotor ini. Mungkin dia hanya modal hidung mancung bisa langsung naik mimbar, mengklaim zuriah Nabi, tapi perilakunya biadab. Sesungguhnya dia sedang menista agamanya sendiri.

"Mas, kalau saya operasi hidung, bisa jadi penceramah juga dong?" ujar Abu Kumkum.

Ngaco, lu, Kum.

***