Sekali Rudal Meluncur, Dua Pulau Terlampaui

Semoga ketegangan mereda dan semua permasalahan diselesaikan lewat diplomasi. Sekalipun perang juga bagian dari diplomasi dengan cara lain.

Jumat, 5 Agustus 2022 | 17:17 WIB
0
88
Sekali Rudal Meluncur, Dua Pulau Terlampaui

Ada peribahasa "sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui".

Belum reda atau berhenti perang Rusia vs Ukraina, sekarang ada ketegangan baru. Yaitu antara Cina vs Taiwan dan di belakang Taiwan ada Amerika Serikat. Sama yang terjadi perang Rusia vs Ukraina. Di belakang Ukraina ada Amerika dan sekutunya.

Cina melakukan latihan militer besar-besaran di perairan yang mengelilingi Taiwan. Tindakan latihan militer ini sebagai respon atas kunjungan ketua parlemen AS yaitu Nancy Pelosi.

Sebelum Nancy Pelosi berkunjung ke Taiwan, Presiden Xi Jinping sudah memberikan peringatan keras kepada Joe Biden lewat sambungan telepon. Yang intinya jangan main api.

Rupanya peringatan Xi Jinping tidak digubris oleh Nancy Pelosi dan tetap datang ke Taiwan.

Cina atau Xi Jinping membuktikan ucapannya yang akan membalas atas kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan, yaitu dengan melakukan latihan militer besar-besaran di perairan yang mengelilingi Taiwan.

Pesawat tempur Cina juga berani melintasi wilayah udara Taiwan. Rudal-rudal balistik juga ditembakkan yang menyasar perairan Taiwan.

Cina sudah menembakkan kurang lebih 11 rudal balistik ke perairan Taiwan dan lima rudal balistik juga jatuh di perairan Jepang atau Zona Ekonomi Eksklusif.

Baik Taiwan dan Jepang melayangkan protes kepada Cina atas latihan militernya.

Pihak Jepang melakukan protes melalui saluran diplomatik. Apalagi dua negara ini yaitu antara Cina dan Jepang juga tidak harmonis atau bersahabat.

Amerika juga menanggapi atas latihan militer tersebut dan menuduh Cina terlalu berlebihan dalam merespon kunjungan Nancy Pelosi.

Amerika sendiri sebenarnya tetap mengakui kebijakan satu Cina yaitu Taiwan bagian tak terpisahkan dari Cina.

Perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei yang berkantor di Jakarta yaitu John Chen meminta Indonesia mengutuk latihan militer Cina yang dianggap melakukan tindakan provokasi.

Sama, waktu awal perang Rusia vs Ukraina, duta besar Ukraina di Jakarta juga miminta Indonesia mengutuk Rusia atas tindakannya melakukan agresi kepada Ukraina.

Sepertinya Cina tidak main-main terkait masalah Taiwan dan berani ambil risiko sekalipun di belakang Taiwan ada Amerika dan sekutunya. Ibaratnya Taiwan menjadi bagian dari Cina adalah "harga mati".

Semoga ketegangan mereda dan semua permasalahan diselesaikan lewat diplomasi. Sekalipun perang juga bagian dari diplomasi dengan cara lain.

***