Unik, Anak Diktator Filipina Bakal Jadi Presiden

Filipina itu unik, tidak sedikit presiden yang anaknya kemudian juga menjadi presiden. Disebut unik karena jabatan itu diterima melalui pemilihan presiden langsung oleh rakyat.

Kamis, 12 Mei 2022 | 17:08 WIB
0
114
Unik, Anak Diktator Filipina Bakal Jadi Presiden
Ferdinand

Ferdinand ”Bongbong” Marcos Jr, putra mantan Presiden Ferdinand Marcos Sr, tampaknya akan keluar sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Filipina, Senin, 9 Mei 2022. Dalam proses hitungan cepat yang sudah mencapai 96,82 persen, Bongbong Marcos sudah memperoleh suara 58,76 persen.

Kemenangan itu tentunya mengherankan banyak orang, terutama di luar Filipina, mengingat ayahnya, Presiden Ferdinand Marcos Sr, yang berkuasa sejak tahun 1965 itu ditumbangkan dari jabatannya lewat aksi turun ke jalan (People’s Power) pada tahun 1986.

Aksi damai yang dipimpin oleh Corazon ”Corry” Aquino (janda Benigno Aquino) yang kemudian menggantikan Ferdinand Marcos Sr sebagai presiden (1986-1992). Benigno ”Ninoy” Aquino adalah pemimpin oposisi di masa pemerintahan darurat militer yang diberlakukan Marcos Sr (1972-1981). Ninoy Aquino dipenjara dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1977. Namun, atas desakan internasional ia dibebaskan.

Pada tahun 1980, ia diizinkan Marcos Sr untuk menjalani operasi jantung di Amerika Serikat dan menetap di sana. Tahun 1983, Ninoy kembali ke Filipina tetapi ia ditembak mati di tangga pesawat di Bandar Udara Internasional Manila. Diduga penembakan itu dilakukan oleh kaki tangan Marcos Sr.

Setelah ditumbangkan dari jabatannya pada tahun 1986, Marcos Sr dan istrinya, Imelda, serta anak-anaknya, Bongbong, Aimee, Imee dan Irene, melarikan diri ke Hawaii. Selain dianggap sebagai diktator, Marcos Sr juga dituduh menggelapkan uang negara. Marcos Sr meninggal di sana pada tahun 1989. Jenazahnya diawetkan dan ditempatkan dalam peti kaca dengan harapan dapat dimakamkan di Manila.

Tahun 1991, Imelda dan anak-anaknya diizinkan kembali ke Filipina. Jenazah Marcos Sr sendiri diizinkan dibawa kembali ke Filipina untuk dimakamkan, tetapi tidak di Manila. Pada tahun 1993, jenazah Marcos Sr dibawa ke Ilocos Norte, provinsi kelahiran Marcos Sr, dan ditempatkan di sebuah mausoleum. Harapan agar Marcos Sr dapat dimakamkan di Manila bersama dengan rekan-rekannya, pejuang kemerdekaan Filipina tidak pernah padam.

Di Filipina, Imelda dan kedua anaknya, Imee (sulung) dan Bongbong (anak kedua) berkiprah di dunia politik. Imee Marcos sempat menjadi Gubernur Ilocos Norte. Dan, Ilocos Norte, provinsi kelahiran Marcos Sr tidak pernah meninggalkan keluarga Marcos. Saat saya pergi ke Ilocos Norte pada tahun 1987, terasa sekali betapa Marcos Sr tetap dihargai di sana.

Pada tahun 2016, Mahkamah Agung Filipina mengizinkan Marcos Sr dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Manila, dan Presiden Rodrigo Duterte pun tidak keberatan. Dengan demikian, 27 tahun setelah kematiannya, Marcos Sr akhirnya dimakamkan di TMP di Manila.

Kata-kata bijak mengatakan bahwa waktu menyembuhkan luka. Dan, bukan itu saja, seperti setiap koin yang mempunyai dua sisi, setiap tokoh pun memiliki orang-orang yang mendukung dan yang membencinya.

Seperti kita ketahui, Marcos Sr itu ditumbangkan pada tahun 1986, atau 36 tahun yang lalu. Bisa dikatakan bahwa generasi yang lahir 5 tahun sebelum, dan yang lahir setelah Marcos Sr tumbang adalah generasi yang tidak ”bersentuhan secara langsung” sehingga mereka bisa dikatakan sebagai generasi tabula rasa, atau kosong di mana seluruh sumber pengetahuannya diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsnya terhadap dunia di luar dirinya.

Itu yang menjelaskan mengapa, putra dari Marcos Sr yang begitu dibenci pada tahun-tahun sebelum ia ditumbangkan pada tahun 1986, dapat menang secara meyakinkan dalam pemilihan presiden 36 tahun sesudahnya. Bukan berarti orang-orang yang menentang dinasti Marcos sudah tidak ada, ada, masih ada, tetapi jumlahnya sudah tidak signifikan lagi.

Di Indonesia pun keadaan yang hampir sama juga terjadi. Kita belum lupa bagaimana sikap dan persepsi negatif rakyat Indonesia terhadap Presiden Soekarno pada tahun 1965-1966 dan pada awal Orde Baru (1967-1970), secara perlahan berubah seiring dengan perjalanan waktu. Pada tahun 1990-an, nama Soekarno kembali berkibar.

Namun, Filipina itu unik, tidak sedikit presiden yang anaknya kemudian juga menjadi presiden. Disebut unik karena jabatan itu diterima melalui pemilihan presiden langsung oleh rakyat. Contohnya, Diosdado Macapagal (1961-1965) dan putrinya, Gloria Macapagal-Arroyo (2001-2010), lalu Corazon ”Corry” Aquino (1986-1992) dan putranya, Benigno ”Noynoy” Aquino III (2010-2016), Ferdinand Marcos Sr (1965-1986) dan putranya, Bongbong Marcos Jr (2022-2028). Pada tahun 2022 ini, putri Presiden Rodrigo Duterte pun, Sara, terpilih sebagai Wakil Presiden.

Di Amerika Serikat, George H.W. Bush (1989-1993) dan George W. Bush (2001-2009); di Pakistan Zulfikar Ali Bhutto (1971-1973) dan Benazir Bhutto (1993-1996), serta di Indonesia, Presiden Soekarno (1945-1967) dan Megawati Soekarnoputri (2001-2004). Namun, itu tidak melalui pemilihan langsung oleh rakyat.

***