Aliansi Militer Turki-Malaysia, Seberapa Tangguh?

Ke depannya persaingan Drone ini akan semakin ketat, beberapa negara saat ini juga sedang ngebut membuat program drone mereka. Hanya Turki sudah berada beberapa langkah di depan negara tadi termasuk Inggris.

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 13:14 WIB
0
15
Aliansi Militer Turki-Malaysia, Seberapa Tangguh?
Drone Turki (Foto: Facebook/Tengku Z. Usman)

Turki dengan Malaysia berencana membuat aliansi gabungan untuk meningkatkan kepasitas militer mereka.
Malaysia dalam perkembangan terkini mengunjungi Kedubes Turki di Malaysia untuk mematangkan rencana aliansi militer.

Dalam poin-poin penting pertemuan kedua negara ini, salah satunya adalah rencana Malaysia mengimpor drone canggih Turki ke Kuala lumpur.

Ini menambah daftar negara yang melakukan join kerjasama dengan Turki khususnya dalam hal drone dan pesawat tak berawak.

Azerbaijan, Libya, Ukraina, dan beberapa negara pecahan uni Soviet juga sudah menandatangani impor drone Turki.

Malaysia rencananya akan mengimpor drone Turki tercanggih tipe Akinci dan Anka. Untuk memperkuat pertahanan udara mereka.

Mengimpor drone Turki akan menguntungkan Malaysia, karena jika mereka mengimpor senjata Rusia akan kena sanksi AS dalam bingkai kebijakan senjata AS.

Banyak negara mengincar drone Turki karena Selian harga lebih miring karena di diskon oleh Erdogan juga kualitas yang sudah terbukti.

Drone Turki sengaja dijual lebih murah ketimbang milik Cina dan Israel. Karena Turki menginginkan pasar yang lebih besar untuk masa yang akan datang.

Turki sedang mencari banyak negara yang akan menjadi agen reseller sekaligus menjadi pusat industri Drone Turki di berbagai kawasan termasuk Asia tenggara. Dan di wilayah ini, kemungkinan Malaysia yang akan menjadi tuan rumahnya.

Memanasnya konstelasi geopolitik dunia memang memaksa banyak negara untuk berpikir lebih cerdas agar negara nya tetap kuat dan terus bisa menjadi pemain penting.

Khususnya di Asia tenggara, memanas nya isu laut Cina Selatan dan juga isu Taiwan-cina di Asia bagian lain juga memaksa semua negara di kawasan Asia ini siaga tinggi.

Meningkatnya kemampuan Militer Cina yang begitu pesat memaksa negara negara kuat dan adidaya harus lebih cermat dalam berhitung.

Malaysia sudah melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, dan kemungkinan negara lain juga akan mengikuti langkah Malaysia.

Indonesia sendiri juga membeli alutsista dari Turki walaupun MoU nya bukan mengimpor drone tapi tank dan senjata lain.

Hitungan saya, ke depannya Indonesia akan tetap mengimpor drone Turki, ini hanya soal waktu. Saat ini Indonesia mengimpor drone buatan cina wing Loong II yang baru dipesan sekitar 8 unit.

Drone Turki dengan drone Cina memiliki kualitas yang sama hebat. Bedanya drone Cina harganya lebih mahal daripada punya Turki. Beda harga keduanya di kisaran 200 sd 400 ribu dolar/unit.

Uniknya, drone Cina dan Drone Turki pernah saling adu kekuatan dalam perang di Libya tahun lalu. Pihak Haftar memakai drone Cina dan pihak pemerintah sah Libya memakai drone Turki.

Di lapangan dalam konflik libya, drone Cina berhasil menembak jatuh 4 drone Turki, dan sebaliknya drone Turki juga sukses merontokkan 8 drone Cina.

Ke depannya persaingan Drone ini akan semakin ketat, beberapa negara saat ini juga sedang ngebut membuat program drone mereka. Hanya Turki sudah berada beberapa langkah di depan negara tadi termasuk Inggris.

Persaingan senjata pertahanan udara memang akan mendominasi perang di masa yang akan datang. Ini persis seperti apa kata Winston Churchill dahulu, bahwa serangan udara mampu menghentikan perang atau menghentikan peradaban.

***

Tengku Zulkifli Usman, Pengamat GeoPolitik Internasional.