"Urbicide" di Ukraina dan Penghapusan Identitas Kultural

Cukup beralasan bila ada ahli-ahli yang mengatakan bahwa urbicide adalah bagian dari genosida.

Jumat, 25 Maret 2022 | 18:55 WIB
0
71
"Urbicide" di Ukraina dan Penghapusan Identitas Kultural
Gedung yang hancur di Ukraina (Foto: Facebook.com)

Urbicide… pertama kali mendengar istilah urbicide ialah ketika saya mempersiapkan thesis master saya. Saat itu saya hampir mengambil topik “Urbicide di Fallujah”. Namun, karena waktu menulis hanya ada 5 bulan, saya mengurungkan niat saya dan mengambil topik riset mengenai urban kampung di Jakarta.

Urbicide. Apakah urbicide itu? Mengapa ada akademisi yang memasukkan urbicide sebagai bagian dari genocide (pembersihan etnis)?

Kata urbicide diambil dari kata “urbs” yang artinya kota, dan kata “cide” atau “occido” yang artinya membunuh.

Urbicide tidak selalu berkaitan dengan peperangan, namun sejak perang Balkan tahun 90 an, dengan penghancuran Sarajevo, urbicide didefinisikan sebagai “Penghancuran sebuah kota secara sengaja sebagai bagian dari strategi militer”.

Urbicide sendiri sudah lama dikenal dalam sejarah manusia, misalnya dalam peristiwa penghancuran Yerusalem oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M. 

Saat ini, di mana invasi Russia sudah berjalan selama 1 bulan, maka kota–kota Ukraina telah mengalami (dan berpotensi mengalami lebih banyak) urbicide. Selama 1 bulan ini dapat dikatakan bahwa pasukan Rusia telah gagal menguasai target–target militer strategisnya. Padahal Rusia mengharapkan dapat menguasai Kyiv, mendudukkan pemerintah bonekanya dalam 72 jam.

Hingga saat ini, baru kota besar Kherson yang dikuasai Rusia. Bahkan kota Mariupol pun tidak bersedia menyerah sekalipun dibombardir habis–habisan. Situasi ini, ditunjang oleh karakter Putin yang tidak mau kehilangan muka dan belajar dari apa yang ia lakukan di Chechnya dan Syria, maka ada resiko urbicide akan terus dilakukan untuk memaksa Ukraina menyerah.

Serangan udara biasanya adalah senjata utama dari urbicide. Seperti yang terjadi di Grozny, Chechnya, kota yang dianggap sarang musuh dibombardir untuk mengurangi resiko korban dari pihak agresor.

Perang di medan perkotaan, di mana setiap jalan, bangunan hingga tiap ruangan harus direbut satu demi satu memberikan keuntungan bagi pihak yang mempertahankan kota. Tentu saja pemboman level berat yang meratakan kota hampir 100% adalah tindakan teror untuk mematahkan moral lawan, di mana penduduk sipil seringkali menjadi bagian dari “pihak lawan” ini.

Konvensi Jenewa (article 54) secara jelas melarang penyerangan dan penghancuran atas infrastruktur yang diperlukan rakyat sipil untuk bertahan hidup. Teror yang timbul akibat urbicide telah mengingkari hak rakyat sipil atas akses-akses dasar penunjang kehidupan. Kita bisa melihat horor seperti apa yang dialami oleh penduduk Mariupol, Kharkiv, Chernihiv, dll yang berminggu – minggu hidup tanpa air bersih, pemanas (di musim dingin) dan makanan.

Saya juga punya contoh langsung mengenai hal ini. Teman kuliah saya ketika S1 adalah seorang sukarelawan di Syria. Ia bukan teroris. Tahun lalu, ia meninggal karena covid. Beberapa postingan terakhirnya di Facebook menunjukkan bahwa ia sakit, tapi ia tidak bisa mendapatkan pertolongan medis, akibat serangan udara pasukan Rusia yang intensif.

Urbicide juga bukan semata – mata taktik militer untuk menaklukan lawan. M. Coward menjelaskan bahwa urbicide adalah suatu tindakan politik pengucilan, tindakan untuk menghilangkan heterogenitas sebuah kota, seperti terjadi di Mostar.

Bagi Rusia, ini juga merupakan adapatasi dari strategi Lenin yang disebut “teror untuk pembersihan sosial”.

Penghancuran struktur fisik kota adalah tindakan penghancuran tempat di mana masyarakat hidup bersama-sama, di mana pada akhirnya urbicide juga menjadi tindakan penghancuran struktur sosial dan kultural masyarakat, situasi yang akan mendorong masyarakat untuk pergi meninggalkan kotanya karena terpaksa.

Kota yang ditinggalkan penduduknya ini nantinya hanya akan berisi kelompok tertentu, masyarakat homogen yang mendukung klaim wilayah sang agresor.

Menurut pihak Ukraina, hal ini sudah terjadi di beberapa neighbourhood di Mariupol, di mana ribuan warga Mariupol dipindahkan ke kota Taganrog, Rusia untuk bekerja di sana selama 3 tahun. Paspor mereka disita.

Sebagai catatan, kota Mariupol sendiri, 40% populasinya terdiri dari etnis Rusia. Bagi orang–orang yang cukup akrab dengan sejarah Uni Soviet tentunya tidak asing dengan aksi–aksi deportasi semacam ini.

Tujuan lain dari urbicide juga termasuk untuk mempermalukan masyarakat yang dianggap musuh dengan menghancurkan symbol kultur mereka, sehingga mereka lupa akan identitasnya. Dan biasanya, untuk tujuan ini, urbicide dilakukan terhadap ibu kota negara seperti Grozny, atau kota-kota penting, misalnya pusat industri, pusat budaya, pelabuhan penting yang menjadi kebanggaan suatu bangsa.

Adalah normal bila penduduk kota memiliki ikatan emosional dengan kota tempat ia tinggal, tempat ia dibesarkan, tempat ia mengalami momen–momen istimewa dalam hidupnya, pengalaman sehari-hari yang akan mengikat seseorang atau komunitas untuk bangga menjadi bagian dari kotanya.

Ketika sebuah kota secara fisik dihancurkan, maka dampak psikologis yang ditanggung penduduknya dapat cukup dramatis. Seperti pengalaman warga Nablus, Palestina, sebagian dari mereka bahkan mengalami semacam amnesia. Mereka tidak dapat lagi mengingat–ingat kota mereka yang cantik sebelum terjadinya urbicide.

Mereka juga menanggung rasa malu luar biasa ketika “ruang hidup” mereka diinvasi dan diobrak abrik oleh musuh. Hal ini senada dengan pengalaman warga Mariupol ketika menceritakan pengalamannya. Yang mereka ingat justru momen-momen ketika kotanya dihancurkan. 

Cukup beralasan bila ada ahli-ahli yang mengatakan bahwa urbicide adalah bagian dari genosida.

Terkait dengan motivasi Putin yang lain, yang menganggap bahwa Ukraina adalah suatu negara artificial, bahwa bangsa Ukraina sejatinya satu bangsa dengan bangsa Rusia, maka urbicide dapat menjadi salah satu métode untuk menghancurkan identitas kultural bangsa Ukraina. 

***

Sedikit bacaan mengenai urbicide :

Urbicide : The Politics of Urban Destruction (Coward, 2009)

Military occupation as urbicide by "Construction and Destruction" The case of Nablus, Palestine (Abujidi, Verschure, 2006)

Introduction to Urbicide: The Killing of Cities? (Graham, 2007)

The Logic of Urbicidal Terrorism and Its Implications on the Protection of Civilians: Lessons to be Learned from Syria (Etaywe, 2017)