Diperlukan sebagai Manusia Seutuhnya

Mendapatkan perlakuan yang baik, profesional dan simpatik, tanpa prejudice, tanpa penghakiman meskipun saya orang asing, masuk kategori “miskin” membuat saya tahu apa artinya diperlakukan sebagai manusia yang sederajad.

Selasa, 12 Juli 2022 | 09:36 WIB
0
45
Diperlukan sebagai Manusia Seutuhnya
Dokter (Foto: liputan6.com)

Ada banyak orang yang bisa menyelesaikan Phd dengan baik dan lancar, ada juga yang menghadapi banyak rintangan, ada pula yang dapat gangguan kesehatan. Saya termasuk kelompok yang terakhir.

Sejak Phd, ada beberapa masalah kesehatan yang muncul, kadang aneh-aneh, sehingga saya jadi langganan dokter. (Lumayan... tidak ditambah jadi langganan psikolog juga...)

Selama lebih dari 7 tahun tinggal di Belgia, status saya adalah pelajar asing, dengan askes level basic, dan karena besaran beasiswa yang saya terima, saya termasuk golongan masyarakat miskin.

Di Belgia, yang masuk kategori “miskin” ini malah reimbursenya besar. Saya membayar untuk Asuransi Kesehatan di Belgia, kurang lebih senilai dengan BPJS kelas 2. Sampai hari ini, pengalaman saya dengan layanan kesehatan, layanan administrasi kependudukan, dan layanan social di sini, baik, professional dan simpatik.

Ketika saya sakit gigi, dokternya tidak melihat level askes saya, atau saya orang asing, mereka langsung menangani berdasarkan tingkat emergency kondisi saya. Saat itu saya betul–betul kesakitan, sehingga langsung ditolong.

Begitupun untuk pengalaman lainnya. Saya belum menikah, tapi saya jadi langganan dokter kandungan, karena ada kista. Satu hal yang membuat saya nyaman, dokter di sini mendiagnosa dengan prosedur yang paling presisi, tanpa harus dirintangi oleh pertimbangan kultural yang merugikan perempuan.

Dan yang utama, mereka memberikan pandangan mengenai kondisi medis saya sesuai dengan keahlian mereka.

Mereka tidak memberikan ceramah dan khotbah soal moral yang tidak saya butuhkan. Mereka tidak menghakimi pasiennya. Sikapnya sangat simpatik.

Pengalaman dengan layanan administrasi dan layanan social pun serupa. Petugasnya sopan, simpatik, ramah dan tidak mempersulit.

Saya pernah ada masalah administrasi, karena sempat pulang ke Indonesia sehabis lulus Master. Tapi masalah itupun diselesaikan oleh petugas yang ada yang mau bersusah–susah menghubungi instansi lain untuk mengoreksi data saya.

Selain itu, sebagai orang asing, pelajar yang tidak bayar pajak, saya dapat hak–hak jatah orang “miskin” seperti warga Belgia lainnya. Termasuk voucher bantuan membeli makanan ketika lockdown kemarin. Setahu saya, warga Belgia yang kehilangan pekerjaan gara–gara lockdown juga dapat tunjangan.

Sebaliknya, meski saya selalu bayar BPJS sekalipun tinggal di luar negeri, saya malah belum pernah pakai BPJS kalau berobat di Indonesia. Kalau mendengar cerita orang tua saya tentang ribetnya layanan BPJS, atau sikap petugas terhadap pasien BPJS, saya jadi malas duluan.

Adalah benar kalau layanan publik di Indonesia itu sudah meningkat pesat. Tapi sesekali masih ada yang tidak layak. Kadang–kadang ada perlakuan yang berbeda berdasarkan status sosial atau bahkan mungkin berdasarkan suku? 

Saya mengalami sendiri perubahan sikap petugas ketika saya mengurus SKCK. Awalnya, ketika disangka saya mengurus SKCK untuk melamar kerja di PT–PT (biasa di Batam, orang melamar kerja di pabrik), sikap petugas gitu deh…

Tapi begitu tahu, saya butuh SKCK untuk mendapatkan visa kuliah di luar negeri, sikap mereka berubah jadi penuh hormat. Atau pengalaman di kantor imigrasi.

Ada orang Tionghoa dari pulau terpencil, yang tampaknya kurang pendidikan, dapat giliran di depan saya. Saya kaget melihat petugas kantor imigrasi membentak–bentak orang tersebut.

Bisa jadi orang tersebut kurang fasih berbahasa Indonesia ya.. Hal yang sering terjadi di Kepulauan Riau. Sehingga komunikasi kurang lancar.

Tapi dibentak–bentak??? Lucunya, ketika tiba giliran saya, sama Tionghoanya nih… petugas nadanya normal. Apa bedanya ini? Karena logat Jawa saya? Karena melihat berkas ijazah saya (untuk kelengkapan perpanjangan paspor)? Atau apa?

Pengalaman–pengalaman pribadi saya ini memang tidak bisa digeneralisir… Barangkali di Belgia, hingga saat ini saya beruntung. Tapi selama beberapa tahun ini saya merenung… Bagaimana saya mendapatkan perlakuan yang profesional dan simpatik di sini, atau kebijakan dari pemerintah Belgia terhadap kelompok masyarakat berincome rendah.

Saya belajar tentang hak–hak saya sebagai manusia dan warga masyarakat. Saya belajar implementasi dari sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. 

Mendapatkan perlakuan yang baik, profesional dan simpatik, tanpa prejudice, tanpa penghakiman meskipun saya orang asing, masuk kategori “miskin” membuat saya tahu apa artinya diperlakukan sebagai manusia yang sederajad.

Hal yang lain ialah mengenai prosedur medis yang tidak dirintangi pertimbangan kultural yang membebani perempuan. Di Indonesia, hal ini masih kontroversial, tapi bagi saya, ini contoh kesetaraan bagi perempuan di sini.

Ada beberapa "obat" yang sekarang juga digratiskan oleh pemerintah di sini, sebagai bagian dari upaya mengurangi "kesenjangan" antara pria dan wanita.

***