Mark dan Jack sebagai Penguasa Dunia

Ketika corong yang selama ini seolah-olah menjadi medianya efektif menyemburkan kemurkaannya diberangus sang penguasa dunia, sejati habis jugalah pengaruh Doland Trump di mata dunia.

Senin, 11 Januari 2021 | 07:47 WIB
0
71
Mark dan Jack sebagai Penguasa Dunia
Donald Trump dan laman Twitter (Foto: NPR)

Terang benderang sudah, penguasa dunia itu bukan lagi Donald Trump, Vladimir Putin, Xi Jinping, Kim Jng Un apalagi Recep Tayyip Erdogan. Bukan. Pemimpin dunia sekarang orang-orang seperti Mark Zuckerberg atau Jack Dorsey itu.

Mark adalah si empunya situs jejaring terbesar sejagat, Facebook (ditambah Instagram dan Whatapps), sedang Jack pemilik Twitter. "The Big Three" Facebook, Twitter dan Instagram beberapa waktu lalu bersepakat membungkam mulut Presiden AS Donald Trump yang mereka nilai membahayakan bagi ketentraman sehingga tidak bisa lagi berceloteh atau berkicau seenaknya.

Sudah barang tentu pembungkaman atas mulut Trump yang kotor, provokatif, merendahkan, menghina dan kerap rasis itu menjadi polemik berkepanjangan di negara yang dikenal sebagai tempat lahirnya demokrasi itu. Konstitusi yang dipegang rakyat Amerika tentang kebebasan berbicara pun rontok begitu saja ketika para pemilik miliaran pengikut (follower bahkan users) sudah bertitah.

Mark dan Jack bukan tidak paham konstitusi, babonnya undang-undang itu, apa yang mereka lakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus sosial. Mereka tidak mau sebuah tatanan masayarakat ambyar atau sebuah negara hancur (sudah ada presedennya) hanya gara-gara media sosial yang mereka miliki tanpa kontrol.

Alhasil, Trump kehilangan corong dan pelantang yang ternyata -mungkin baru disadarinya- bahwa ia sesungguhnya "pemimpin virtual dunia" semata, bukan pemimpin dunia sesungguhnya. Ia sekadar "pemimpin simulacrum" -meminjam istilah Jean Baudrillard- di dunia maya.

Buktinya, ketika corong yang selama ini seolah-olah menjadi medianya sendiri yang sangat efektif menyemburkan kemurkaannya (mungkin juga kbohongannya) diberangus sang penguasa dunia sejati (Mark dan Jack), habis jugalah pengaruh Trump di mata dunia.
Trump tak berdaya, tidak bisa lagi menunjukkan eksistensinya. Baru ia sadari -mungkin- ternyata ia cuma bermodalkan ocehannya saja dalam mempengaruhi dunia. Mungkin orang Betawi di seni bergumam, "Ah, elu tuh ternyata cuma segitu aja, Trump."

Pelajaran penting dari kasus Trump di sini -buat para Netizen di sini dengan "kemahatahuan" dan "kemahabenaran"-nya- kalau orang hebat, kaya dan ternama saja bisa dibungkam paksa dan bahkan eksistensinya dibunuh sedemikian rupa, apalagi kita-kita ini. Kalau tidak merasa bagian dari "kita-kita", ya saya sajalah.

Baca Juga: Profil Trump yang Mencemaskan

Berkali-kali saya mendapat peringatan keras dari Mark (kerennya begitu sih) untuk suatu kesalahan yang tidak pernah tahu apa gerangan salahnya, sampai-sampai dilumpuhkan selama satu purnama penuh. Untungnya, saya bukanlah Trump yang ngeyelan dan tidak bisa menerima kenyataan. Ternyata langit tidak runtuh hanya karena tidak fesbukan. Merasa saya numpang di rumah besar Mark, saya tahu diri sajalah.

Tetapi sesungguhnya para penguasa dunia seperti Mark dan Jack itu mengingatkan para netizen di manapun mereka berada selagi menggunakan media sosial (termasuk netizen di negeri ber-flower ini), bahwa kita ini cuma sekadar lalat saja yang mudah dibunuh dengan sekali tepuk.

Mark dan Jack sejatinya mengingatkan, "Elo ga usah menntang-mentang dan sok-sokan deh di dunia maya hanya karena punya pengikut yang bejibun, tuh buktinya Trump....!"

Iyeee deh Mark, Jack....

***