Talibanisme, Antara Bamiyan dan Taman Monas

Taman Monas adalah Patung Bamiyan masa lalu. Vandalismenya dilakukan individu yang berbeda, tapi menggunakan logika yang sama. Mencari perhatian untuk menunjukkan keberkuasaan, sekaligus kebrengsekan.

Senin, 30 Agustus 2021 | 23:02 WIB
0
100
Talibanisme, Antara Bamiyan dan Taman Monas
Bamiyan (Foto: Facebook/Andi Setiono)

Sejujurnya saya tidak peduli, uang yang yang dicuri para maling keparat dari Pemprov DKI Jakarta. Tiap hari para tikus itu berpesta pora, tak pernah berhenti. Tak ada koreksi, karena semua kebagian. Nyaman dan bahagia.

Makin tampak beragama mereka, semakin manis mulut mereka, dan necis pakaian mereka. Maka ritual pencurian hanya jamuan meja makan, yang didahului dengan doa-doa suci. Dan diakhiri dengan kalimat penutup: Besok apa lagi yang kita makan?

Tulisan ini hanya sebuah refleksi kecil bahwa Talibanisme itu ada di mana-mana. Di negeri kita, sudah ada di meja makan kita...

Hanya beberapa jam, setelah kelompok Taliban menyatakan dirinya sebagai penguasa baru Afghanistan. Lebih sebagai sebuah "hadiah", daripada sebuah kemenangan sejati. Karena penguasa lokal sungguh hanya sekedar boneka. Sedangkan pasukan pendudukan yang diinisiai Amerika sudah mulai bosan. Capek dengan ongkosnya, juga bosan karena Afghanistan bukanlah Vietnam. Di negara Paman Ho itu, walau sama-sama punya bisnis sampingan narkoba. Bedanya di Afghan mereka harus selalu bersikap sebagai "manusia beradab".

Mesti bersikap "santuy", gak boleh ada sedikit pun melakukan pelecehan baik pada laki-laki apalagi perempuan. Gak ada pub atau club malam untuk membuang stres dan melepas rindu pada rumah. Gak ada petualangan seks, sebagaimana pernah dimiliki para senior mereka. Sulit membayangkan mereka pulang dengan membawa pacar mereka, ketika mereka tiba-tiba menemukan "soul-mate". Tak mungkin ada hibridisasi antaretnis. Para prajurit tak lebih monster yang ini itu tak boleh.

Afghan bukan Vietnam apalagi Venezuela ....

Ketika Taliban pertama kali menang pada periode pertama mereka. Tak banyak yang tahu bahwa yang dilakukannya pertama kali adalah menghancurkan salah satu artefak heritage Buddha terbesar di dunia.

Dua patung Buddha terbesar yang diukir di lembah Bamiyan di Afghanistan tengah. Patung setinggi 35 dan 53 meter yang dibangun pada tahun 500-an M tersebut dipahat langsung dari kerasnya batu gunung. Ornamen detilnya yang indah ditambahkan menggunakan plester yang dicat sehingga wajah patung dan lipatan kain pakaiannya terlihat jelas.

Abdul Wahed, seorang komandan Taliban yang beroperasi di daerah Bamiyan, sejak awal kemenangan Taliban sudah mengumumkan niatnya untuk meledakkan patung Buddha pada tahun 1997. Ia melakukan pengeboran, membuat lubang di kepala para Buddha untuk meletakkan bahan peledak.

Sebelum sampai melakukan aksi peledakan warisan dunia ini, ia dicegah oleh gubernur setempat dan Mullah Mohammed Omar selaku pemimpin tertinggi Taliban sempat memerintahkannya tidak melakukan peledakan. Atas nama aset pariwisata....

Lalu malapetaka arkeologi itu terjadi di bulan Maret 2001, justru Mohammed Omar yang semula mencegah, kemudian justru menjadi aktor utama yang memerintahkannya. Kedua peninggalan agung itu rontok berkeping-keping karena diledakkan dinamit. Karena kemudian dianggap proses penghancurannya terlalu lambat, kemudian puluhan moncong tank diarahkan untuk menghancurkannya. Butuh waktu nyaris setahun, dan tak ada satu pun lembaga dunia mampu bereaksi.

Artinya salah satu ciri dasar Taliban adalah membuat janji, lalu mengingkarinya! Bukan hanya hari ini, tapi puluhan tahun silam...

Alasan perusakan ini sama sekali bukan sekedar berlatar perbedaan keyakinan. Namun lebih menunjukkan upaya protes terhadap lembaga bantuan internasional yang mendahulukan konservasi patung di tengah bencana kelaparan yang mendera negara itu.

Mereka beralibi kelompoknya menghancurkan patung Buddha Bamiyan lantaran menurutnya banyak yang lebih peduli terhadap patung Buddha dibanding penderitaan yang melanda ribuan orang Afganistan.

Alasan yang lebay sekali? Mana ada negara selepas perang lalu dalam sekejam jadi gemah ripah, melimpah ruah...

Menunjukkan bahwa ada pemahaman yang sejak awal salah, bahwa "agama dan moral" adalah basis berpikir kelompok Taliban! Tak ada ajaran agama yang mulia di sana! Agama hanyalah kedok yang dijadikan alasan untuk seluruh aktivitas mereka.

Mungkin hal inilah yang justru dijadikan acuan pemahaman figur politikus cum pedagang yang juga sama berkedoknya pada agama seperti Jusuf Kalla. Mereka jauh lebih megarah pada pada konteks itu.

Makanya, ketika Taliban "menang lagi", mereka buru-buru menyatakan Indonesia harus segera membuka hubungan dengan mereka. Alasannya Taliban sudah berubah! Taliban tak seperti dulu lagi...

Harus percaya kita? Ya jelas tidak. Dan untunglah pemerintahan yang resmi pun menyatakan demikian...

Dalam ilmu perang ada hukum dasar: jangan pernah percaya pada milisi yang baru keluar dari hutan dengan memegang senjata. Alasannya sederhana butuh waktu panjang untuk merubah seekor binatang kembali menjadi manusia. Apalagi kalau mereka belum mau pergi ke barber-shop untuk mencukur jenggotnya....

Dalam konteks Taliban: cukur jenggot? Gak mungkin!

Jauh waktu sebelumnya, Bapak Jalan Keluar ini, sudah bikin opening ceremony yang sama, tanpa pernah kita duga dengan jeli dan serius. Kalau dulu Taliban di sana, merusak Patung Bamiyan yang pada masa-nya menjadi pusat peradaban dan menjadi melting-point terpenting pada era Jalur Sutra (Silk-Roads).

Saat ini, "Taliban dengan jenis lain" merusak Taman Monas. Sebuah kawasan yang pernah diperlakukan secara salah sebagai situs bisnis. Dengan menempatkan Jakarta Fair di situs yang bukan pada tempatnya.

Setelah dilakukan upaya "koreksi" dengan memberi nilai sakral pada monumen nasional terpenting di era modern. Dengan mendirikan hutan kecil di sekitarnya. Seorang Gubernur tolo, karena desakan bohir kemenangannya. Merusaknya hanya sebuah balapan yang sampai hari ini tak pernah terwujud itu. Menebang satu pohon saja sudah suatu kesalahan fatal! Apalagi ini di satu sisi kawasan, yang menyebabkan kawasan itu jadi seolah membentuk huruf U, tak lagi O!

Tahu makna huruf U? U adalah simbol ketidakutuhan...

Dulu sekali ibu dari segala bahasa yaitu huruf Latin. Huruf ini tidak dikenal. Huruf U ditulis dengan V, sebagai pengagungan kepada keluhuran seorang perempuan. U dianggap dekat dengan ketidaksempurnaan, kesalahan, dan pengkhianatan. Sebagai "apel krowak", lambang terusirnya Adam dan Hawa dari surga. Ajaib, hari2 ini simbol tersebut justru menjadi simbol gaya hidup terpenting bagi masyarakat modern yang milenial.

Sebagaimana saya ditulis di awal artikel ini. Bagaimana mungkin kita hanya beteriak atas fenomena gila di depan mata seperti ini. Jokowi sebagai simbol tertinggi Negara tak pernah berdaya, dengan kerusakan dan pertunjukan kesombongan yang ada di depan matanya.

Mungkin ia berpikir, toh sebentar lagi Jakarta akan ditinggalkan. Karenanya Jakarta dibiarkan saja makin rusak. Tak perlu lagi dibelai sedemikian rupa. Bagi kelompok skeptism, justru Jakarta boleh dirusak dengan cara apa saja. Semua diperbolehkan dan semua juga mendiamkannya.

Apalagi kalau menuruti cara berpikir kaum geololis dan supra-naturalis, yang tak lelah mengingatkan Jakarta akan hancur dalam bencana alam besar dalam waktu tak lama lagi. Dan begitulah kita hanya bisa memaknainya hari ini.

Beberapa hari yang lalu, Bapak Gubernur Yang Terhormat Anies Baswefdan mengundang seluruh fraksi di DPRD DKI Jakarta. Tentu minus PDIP dan PSI. Sebuah arena penjelasannya kemana uang Rp600 M itu hilang!

Jelas sebuah kebohongan besar, kalau itu dikatakan sebagai "persekot" arena Formula E. Tak ada tanda-tanda, di masa depan event dan arena ini akan diampirkan ke Jakarta. Tak ada waktu lagi. AB tak akan lagi menjabat di posisi yang sama di masa depan.

Event ini banyak yang menggambarkan sebagaimana dulu Last Supper, Perjamuan Terakhir sebelum Yesus ditusuk dari belakang oleh para Brutus. Lalu kemana uang itu pergi?

Gampang sekali diduga, ia "jatah preman" yang harus disisihkan untuk biaya pengamanan jabatan Gubernur DKI Jakarta. Untuk siapa? Ah pake nanya...

Taman Monas hari ini adalah Patung Bamiyan di masa lalu. Vandalismenya dilakukan oleh individu yang berbeda, tapi menggunakan logika yang sama. Mencari perhatian untuk menunjukkan keberkuasaan, sekaligus kebrengsekan....

Masih percaya Taliban itu "kelompok beragama"? Mereka hanya sejenis entitas bisnis dengan wajah garang, namun dengan kemampuan dagang yang sangat kurang....

NB: Tak banyak yang mau tahu, Taliban itu sebagaiman juga Mujahidin, Osama bin Laden juga ISIS dan seluruh sempalan yang mengikutinya. Mereka ini adalah anak-anak asuh AS. Bagian dari anti-marketing, citra buruk yang dibuat untuk aktivitas marketing citra baik selanjutnya. Pemainnya itu2 saja, Siklus duitnya juga berputar di situ2 saja. Biaya perang yang kemudian ditutupi dengan bisnis narkoba atau minyak ilegal.

Dan di Indonesia, proxi-nya ada dimana2, sebagian besar wajahnya menghiasi media kita setiap harinya. Sebagian sudah berani muncul karena nafsu besarnya. Sebagian besar lainnya, masih menunggu saat yang tepat. Untuk apa? Saling memangsa tentu saja, dengan menjadikan orang China dan duit Arab sebagai bandarnya. Mereka inilah wajah abadi Ali Baba yang tak akan kikis dan punah, hanya karena kemodernan menggantikan tradisionalisme.

Ideologi mereka tetap sama: musuhnya musuhmu adalah temanku. Sebuah falsafah kuno yang hanya dipahami oleh para bajak laut dan pedagang barang haram.

***