Jangan Sampai Salah Pilih, Ini Bedanya SSD Murah vs SSD Mahal

Selasa, 25 Februari 2025 | 22:31 WIB
0
11
Jangan Sampai Salah Pilih, Ini Bedanya SSD Murah vs SSD Mahal
Lambung

Penyimpanan SSD itu kayak mimpi buruk buat dompet. Sama-sama 1TB, ada yang harganya murah banget, ada juga yang bikin nangis di pojokan. Bedanya di mana? Emang ada yang jauh lebih kencang atau cuma gimmick? Kalau selama ini cuma lihat harga doang tanpa ngerti bedanya, siap-siap kena jebakan. 

Kali ini bakal dikupas tuntas perbedaan Penyimpanan SSD murah dan mahal, biar nggak salah pilih dan nyesel di belakang. Dari jenis sel, performa, sampai faktor-faktor yang bikin SSD ada yang tahan lama dan ada yang umurnya sekejap doang. Simak baik-baik!

Penyimpanan SSD, Storage Canggih yang Gak Pake Piringan Magnetis

SSD itu bukan kayak hard disk biasa yang masih pakai piringan magnetis buat nyari file. Teknologi SSD udah full elektrik, jadi lebih kencang dan nggak perlu komponen bergerak. Begitu ada arus listrik, SSD langsung aktif dan bisa nyari file tanpa ribet. Tapi jangan langsung senang dulu, SSD juga punya kekurangan besar yang masih dicari solusinya sampai sekarang.

Dua masalah utama SSD adalah usia selnya yang terbatas dan kapasitas penyimpanannya yang juga nggak bisa diapa-apain. Tiap sel di SSD punya batas usia. Kalau sudah mencapai limitnya, sel itu bakal berhenti bekerja, dan data yang ada di dalamnya bisa hilang selamanya. Semakin sering dipakai buat nulis data, semakin cepat umurnya habis. Nah, inilah yang bikin SSD mahal dan murah punya perbedaan yang cukup signifikan.

Jenis Sel dalam SSD dan Faktor Utama yang Tentuin Harga

SLC (Single Level Cell)

Ini kasta tertinggi di dunia SSD. Satu sel cuma diisi satu bit data, jadi performanya paling kencang dan umurnya paling panjang. SSD jenis ini bisa bertahan sampai 100.000 siklus tulis-ulang. Tapi harganya? Jangan ditanya. Biasanya dipakai buat industri atau server data, bukan buat orang biasa.

MLC (Multi Level Cell)

Ini yang sering disebut sebagai "sweet spot" antara harga dan performa. Satu sel bisa diisi dua bit data, jadi lebih murah dari SLC, tapi tetap punya kecepatan yang lumayan. Umurnya sekitar 10.000 sampai 30.000 siklus. Cocok buat pengguna yang butuh keseimbangan antara kecepatan dan daya tahan.

TLC (Triple Level Cell)

Hampir semua SSD di pasaran sekarang pakai TLC. Satu sel bisa diisi tiga bit data, yang artinya lebih murah tapi usianya lebih pendek, sekitar 3.000-5.000 siklus. Performanya juga lebih lambat dibanding MLC atau SLC. Walau begitu, buat pemakaian biasa masih oke banget.

QLC (Quad Level Cell)

Ini yang paling murah dan paling pendek umurnya. Satu sel bisa diisi empat bit data, bikin performanya rendah dan daya tahannya cuma sekitar 1.000 siklus. Cocok buat penyimpanan data yang nggak sering diubah, tapi kalau buat kerja berat? Jangan harap bisa tahan lama.

Nah, dari sini udah kelihatan kan kenapa SSD mahal dan murah punya harga yang beda jauh?

DRAM Cache Sebagai Penentu Performa yang Sering Diabaikan

Selain jenis sel, SSD juga punya fitur lain yang bikin performanya beda jauh, yaitu DRAM Cache. Ini adalah memori sementara buat nyimpen data yang sering diakses, biar nggak perlu ngulang baca dari awal.

Bayangin kayak cache di browser. Kalau sering buka website yang sama, bakal lebih cepat loading-nya karena data udah tersimpan. Nah, SSD yang punya DRAM Cache bisa bekerja lebih efisien dibanding yang nggak punya.

SSD tanpa DRAM Cache bakal langsung baca data dari NAND Flash, yang dalam beberapa kasus bisa bikin loading lebih lama. Kalau sering dipakai buat kerja berat, bisa jadi bottleneck yang cukup mengganggu. Sayangnya, nggak semua SSD mencantumkan informasi ini di spesifikasinya, jadi harus hati-hati sebelum beli.

Kenapa Banyak SSD Gak Jujur Sama Spesifikasinya?

Banyak produsen SSD yang nggak transparan soal spesifikasi produk mereka. Ada yang nggak nyantumin jenis sel yang dipakai, ada juga yang nggak bilang kalau SSD mereka nggak punya DRAM Cache. Bahkan merek terkenal pun nggak selalu kasih detail lengkap di website mereka.

Misalnya, Western Digital punya seri WD Blue dan WD Green yang sering ditemukan di pasaran. Di website resminya, WD Blue masih lumayan informatif karena mereka nyantumin perkiraan usia selnya. Tapi buat WD Green? Informasinya lebih minim, bahkan nggak jelas apakah SSD ini punya DRAM Cache atau nggak.

Buat yang pengen tahu spesifikasi lengkap berbagai SSD dari banyak merek, untungnya ada beberapa website yang udah ngumpulin semua data ini dalam satu halaman. Bisa dipakai buat referensi sebelum beli, biar nggak salah pilih.

Jadi, Perlukah Beli SSD Mahal atau yang Murah Aja?

Kalau cuma buat pemakaian standar kayak kerja kantoran, sekolah, atau nonton film, SSD murah pun nggak masalah. Tapi kalau sering ngolah file besar kayak video editing, sound engineering, atau animasi, wajib pilih SSD yang punya performa lebih baik dan umur lebih panjang.

Buat yang benar-benar butuh SSD dengan daya tahan tinggi, kayak server atau penyimpanan data penting, jangan ragu buat beli yang paling mahal. Ingat, ini bukan soal kecepatan doang, tapi soal keamanan data juga.

Demikian ulasan tentang Jangan Sampai Salah Pilih, Ini Bedanya SSD Murah vs SSD Mahal seperti yang dilansir togel online, semoga bermanfaat.