Malu Mengakui Prabowo, SBY Cinta Setengah Hati?

Selasa, 18 Desember 2018 | 06:27 WIB
0
291
Malu Mengakui Prabowo, SBY Cinta Setengah Hati?
Prabowo dan SBY (Foto: Merdeka.com)

Di pilpres lalu dengan gagahnya SBY yang akrab dipanggil Pepo melafazkan kata abstain meskipun jelas-jelas besannya adalah cawapres Prabowo. Itu sebuah sikap murni atau kamuflase antara keberpihakan kader partai dan hubungan kekeluargaan SBY dengan salah satu kandidat?

Atau memang partai ini selalu galau jika diminta sikap tegas? Entahlah... Mungkin jawabannya ada pada rentetan peristiwa saat ini.

Beberapa hari ini SBY gencar mengatakan bahwa dalam Pemilu Legislatif, partai yang tak memiliki Capres maka perolehan suaranya akan menurun drastis. Hal itu menjadi kegalauan sang mantan presiden ini di saat popularitas partainya mulai meredup. SBY gemar melakukan hitung-hitungan politik akan dapat apa partainya dengan mendukung salah satu capres. 

Apa beliau tak sadar kalau partai yang dibesutnya sendiri telah merapat dan berkomitmen untuk memenangkan Prabowo-Sandi sebagai capres dan cawapres di 2019?

Kehadiran partainya di 'injuriy time' masa dukungan partai yang ditetapkan KPU toh juga tanpa paksaan siapapun. Padahal dengan komitmen bergabungnya Demokrat dalam bahtera koalisi Prabowo -Sandi sudah menunjukkan bahwa partai ini punya seorang Capres yang mereka gadang-gadang.

Sepertinya seorang Pepo masih berat hati mengakui bisa saja karena perjalanan hubungan SBY-Prabowo sejak dulu atau ketiadaan trah keluarganya sebagai aktor kunci dalam koalisi.

SBY dan Prabowo dipertemukan saat mereka menjadi taruna Akabri di tahun 1970. Meski seangkatan, SBY lulus setahun lebih dulu ketimbang Prabowo. Hal itu diakui Prabowo dengan menyebut, "SBY taruna yang baik dan saya taruna yang nakal".

Keduanya sama-sama menikahi putri jenderal. Orang tua SBY adalah pensiunan pembantu letnan satu, petinggi Koramil Pacitan. Sementara itu, Prabowo merupakan anak pembesar karena kakeknya adalah pendiri Bank Negara Indonesia dan ayahnya adalah menteri Perindustrian dan Perdagangan di tahun 1968-1973.

Kala itu bau persaingan antara keduanya belum terlalu kuat hingga pilpres 2009 ketika Prabowo mencalonkan diri sebagai Cawapres Megawati dan SBY mencalonkan diri sebagai presiden untuk periode ke dua dengan cawapresnya Budiono.

Hasil pilpres menyatakan kemenangan SBY-Budiono dengan 60 persen suara dan Megawati-Prabowo dengan 26,79 persen suara. Prabowo sempat mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi karena menilai banyak kecurangan dalam pemungutan suara pilpres tersebut. Putusan MK justru menguatkan hasil yang ada dan jadilah Prabowo dan Megawati sebagai oposisi selama 5 tahun masa jabatan kedua presiden SBY.

Dari perjalanan karir militer dan politik SBY-Prabowo, tak heran jika SBY merasa jumawa karena memiliki prestasi lebih tinggi dan senior dalam urusan birokrasi tapi Prabowo juga tak kalah jumawa karena partai yang dibentuknya jadi wadah koalisi yang disambangi seorang SBY untuk mengadu nasib trahnya dalam perjalanan politik.

Yang menentukan nanti apakah keduanya mau menurunkan ego dan gengsi untuk kepentingan bersama atau hal itu tak akan terjadi karena jalinan koalisi yang dijalankan masih setengah hati. Kita tunggu saja seberapa dalam cinta antara kedua anak manusia ini dalam rumah tangga politik di Indonesia...

Bahkan mengakui Prabowo sebagai capresnya saja sepertinya Pepo terlalu berat rasa ya, hehehe....

***