Ada juga yang realistis dengan tetap mengeritik Jokowi dan keluarganya meski kritikannya ecek-ecek, misalnya sneakers yang dipakai Jokowi dan Ibu Iriana saat pidato kemenangan itu.
Tahu 'kan kamu apa yang jadi hiburan gratis saya pasca pengumuman MK yang disusul pertemuan mengejutkan antara Jokowi-Prabowo di MRT? Jawabannya: hiburan cuma-cuma dengan jalan-jalan ke temlennya para pecundang di FB ini!
Nah, di sana saya menemukan gudang yang penuh dengan bibit dinamit tawa yang siap untuk diledakkan.
Terlalu kasar memang kalau saya sebut 'pecundang' toh mereka 'kan teman-teman FB saya juga yang berbeda jalan dan pilihan. Tapi coba deh tolong carikan padanan kata yang lebih halus dari 'pecundang' agar tidak menyinggung perasaan teman-teman saya itu!
So, di temlen temen-temen yang Alhamdulillah ga blokir saya, ditemukanlah bibit dinamit tawa yang jadi hiburan tersendiri itu kalau mau. Ada kegalauan luar biasa sampai-sampai mutung sama Prabowo, pujaan mereka selama ini. Kalimat "Bye bye Prabowo", "Sayonara, Jenderal" atau "Saya tidak mendukungmu lagi, Jenderal!" bertebaran dengan komentar putus asa dari rekan-rekannya yang selama ini disebut kampret. Sesama kampret saling berangkulan dan mengingatkan.
Kalau sudah begini, cebong seperti lenyap dari udara, membiarkan drama tersaji begitu saja dan para cebong yang ber-IQ 200 sekolam itu hanya menonton sajian gratis ini. Jarang ada yang berkomentar atau turut membesarkan hati, salah-salah mereka jadi sasaran amarah kampret.
Pertemuan Jokowi-Prabowo memang sangat memukul teman-teman saya yang berbeda jalan dan pilihan itu. Sebab, harapan mereka satu-satunya adalah memilih perseteruan abadi daripada berdamai tapi Prabowo tetap ga bisa jadi Presiden RI. Apakah artinya damai di luar tapi di dalam (hati) rusuh tiada akhir, mending perang sekalian, begitu pikir mereka.
Tapi kenyataannya teman-teman saya itu terbelah juga. Ada yang coba realistis dan terima kenyataan (mungkin kampret golongan tulang lunak), tapi ada yang tegas tidak terima kenyataan bahwa Prabowo-Jokowi sudah berdamai dan lebih memilih jalan perang dengan menghunus pedang, bahkan ada yang menyatukan diri lewat wadah web perjuangan dengan mengeksploitasi emosi "playing victim", menyebut diri mereka korban pemberangusan FB hehehe... (tuh 'kan belom apa-apa sudah ketawa).
Tapi perjuangan dengan membuat web itu jalan yang baik, saya apresiasi, sebab cara itu bakal menumbuhkan semangat literasi publik dengan konten-konten kritis. Memang sih kalau mau lebih heroik sekalian ciao dari FB dan bilang, "Auf wiedersehen, Mark!"
Satu hal yang nyata, teman-teman saya itu kehilangan fokus bidikan kalau saya umpamakan mereka ini pasukan pemanah berkuda (cavaleri) di zaman perang gurun. Lha wong Jokowi yang dibidiknya sudah pasti manggung 5 tahun ke depan dan bukan lagi musuh Prabowo, masak iya mengalihkan fokus bidikan ke Prabowo! Apa ga kuwalat namanya.
Ada juga teman-teman saya yang kecewa itu memanggungkan sosok lain karena kecewa berat sama Prabowo, yaitu memanggungkan nama Anies Baswedan. Bahkan mulai bertebaran meme "Anies for 2024". Lha ini juga bikin saya ngakak, bagaimana kalau pada Pilpres 2024 Prabowo nyalon lagi? Apa ga bingung nanti, apa ga tengkar lagi sama temen-temen sendiri; berebut pilih Anies atau Prabowo hohoho...
Ada juga yang realistis dengan tetap mengeritik Jokowi dan keluarganya (ini golongan kampret tulang keras) meski kritikannya ecek-ecek, misalnya sneakers yang dipakai Jokowi dan Ibu Iriana saat pidato kemenangan itu. Ya, lumayanlah, itu menandakan asli benci Jokowi hihihi...
Begitulah, saya akan tetap jalan-jalan ke temlen temen-temen saya berbeda jalan dan pilihan itu, yang sekarang mereka tersesat di persimpangan jalan antara tetap cinta Prabowo, Sayonara Prabowo, memanggungkan Anies, atau nunggu Jan Ethes nyalon.
Hahaha....
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews